Fajar


 Breaking News


I Love Monday: KaTePe Elektronik


FAJARONLINE.COM - Rakyat negeri antah-berantah bersukacita. Bulan ini diawali dengan kunjungan seorang tamu beserta rombongan. Di negera Udin, tamu adalah raja. Maka setiap tamu yang datang harus disambut seperti arung.

Penyambutan yang luar biasa membuat sang tamu sangat girang. Saking senangnya, raja bahkan menambah waktu pakansinya. Sejurus dengan hal tersebut, Udin pun lebih kreatif memanfaatkan panci miliknya, untuk menanak nasi, dan masak mi, serta menggoreng telur, sekaligus membuat kue.
Sang raja dan rombongannya datang membawa kabar gembira; investasi tanpa embel-embel. Maksudnya, tanpa bunga, tanpa ikatan. Dan yang lebih penting, tanpa agunan.

Usai kunjungan itu, Udin sebagai tuan rumah terlihat senang, tetapi juga sedih. Senangnya, karena dari kunjungan itu, industri kreatif berkembang. Sedihnya, karena pesta penyambutan yang begitu meriah akhirnya berakhir. Yang tersisa adalah kenangan indah dan Pekerjaan Rumah (PR) yang menumpuk.
Salah satu PR yang harus segera diselesaikan adalah menjaga wilayahnya tetap kondusif. Aman dan nyaman untuk investasi. Maklum, di kampung pria perlente ini, terkadang ada riak, terutama dalam proses pesta demokrasi.

Di tempat Udin, hampir setiap saat ada gelaran pesta demokrasi. Mulai dari pemilihan ketua kelompok, ketua kelas, ketua komunitas, hingga ketua arisan bapak-bapak, eh arisan ibu-ibu.

Belum lagi pemilihan Ketua Rukun Teman-teman dan Rukun kaWan-kawan (RT/RW). Bila dihitung-hitung, jumlah pesta demokrasi lebih dari 365 kali setahun. Jika dirata-ratakan, setiap hari ada satu hingga dua acara Pilkadal alias PemILihan KetuA DilAkukan Langsung.

Proses Pilkadal itu sendiri butuh biaya besar. Misalnya biaya sosialisasi. Yang lebih mahal lagi adalah ongkos sosial yang kerap muncul usai pesta. Bisa dibayangkan jika hanya karena persoalan beda pilihan pada pemilihan ketua RT/RW, terjadi perselisihan antara suami, istri dan anak.

Biaya demokrasi yang teramat mahal membuat tetamu Udin kadang berpikir untuk menanamkan modalnya membangun pabrik panci. Belum lagi ada kabar soal adanya penduduk negeri itu yang status kependudukannya tak jelas, karena hanya mengantongi Kartu Tengara Penduduk-Elektronik atau KaTePe-El sementara.

Info terbaru, KeTePe-El asli masih dalam proses. Pekerjaan pembuatan kartu berjalan agak lambat, karena ada gangguan pada jaringan. "Sumpah. Ini bukan karena jaringan saya, melainkan jaringan internet," bantah Udin.

Biaya demokrasi yang muuaahaall, dan banyaknya masalah lain, termasuk KaTePe-El yang tak beres-beres hingga sekarang, menjadi alamat jelas kalau Udin bakal menemui jalan buntu menuju singgasana dengan mahkota sebagai raja panci, hehehe. (kritik - saran, WA 081-24-222-468)

Berita Terkait