Fajar


 Breaking News

Sindrom Lelah Kronis

Dito Anurogo S-2 IKD Biomedis FK UGM, Dokter Digital, dan Penulis 18 Buku


Sindrom Lelah Kronis (SLK) ditandai kelelahan fisik-mental berat yang tidak dapat diredakan dengan beristirahat, disertai disabilitas yang signifikan.

Berdasarkan kriteria Oxford, SLK didefinisikan sebagai kelelahan berulang/menetap yang dilaporkan diri sendiri, dan berlangsung selama minimal enam bulan secara berurutan. Diagnosis tidak dapat ditegakkan bila pasien sedang menderita skizofrenia, penyalahgunaan zat/obat, atau terbukti mengalami penyakit otak organik.

Menurut kriteria Fukuda, tingkat keparahan SLK haruslah memenuhi minimal empat kriteria berikut selama minimal enam bulan: gangguan memori/konsentrasi, sakit tenggorokan, kuduk/tengkuk/leher terasa sakit atau kelenjar getah bening teraba sakit, nyeri otot, nyeri di pelbagai persendian, sakit kepala baru, tidak bugar usai bangun tidur, rasa tidak enak atau tidak nyaman di badan usai bekerja keras, di mana mayoritas gejala ini berlangsung selama lebih dari 24 jam. Kriteria Fukuda ini perlu direvisi bila digunakan pada anak-anak. Para peneliti-klinisi menegakkan diagnosis SLK pada anak-anak setelah tiga bulan.

SLK dapat disertai nyeri sendi, perasaan seperti berada di dalam kabut, di mana gangguan ini mereduksi fungsi setiap aspek kehidupan penderita, termasuk fisik, psikologis, kognitif, sosial, okupasi, edukasi, personal.

Epidemiologi
SLK dijumpai pada 0,1 persen dan 2 persen anak-anak dan orang muda berusia kurang dari 18 tahun. Survei Mackenzie dan Wray [2012] pada 176 anak-anak dan pemuda berusia kurang dari 16 tahun, menemukan rasio dua pria setiap tiga perempuan menderita SLK. Pada usia 6-17 tahun, prevalensi SLK sebesar 2 persen. Di populasi UK [Inggris, Skotlandia, Wales], prevalensi SLK pada anak-anak dan remaja [5–15 tahun] sebesar 0,19 persen. Prevalensi di AS diperkirakan 0,5 persen populasi, pada usia 13-17 tahun sebesar 0,18 persen serta diestimasikan menelan anggaran 9 miliar dolar per tahun dalam kehilangan produktivitas. Di Holland, 111 dari 100 ribu orang muda berusia 10–18 tahun menderita SLK.

Prevalensi lifetime dari 96 orang muda berusia 8–17 tahun di Wales dan Manchester sebesar 1,90 persen. Studi epidemiologi di UK menemukan insiden SLK sebesar 5 per 1.000. Studi Nijhof dkk [2011] menemukan rerata insiden 12 per 100 ribu per tahun. Gangguan SLK jarang dijumpai sebelum pubertas. Sekitar 50 persen penderita SLK perlu terapi dokter/spesialis.

Penyebab
SLK dipengaruhi multifaktorial, misalnya: genetik, infeksi, personaliti, dsb. Predisposisi gender juga dilaporkan pada SLK. Sekitar 70 persen perempuan penderita SLK.

Karakteristik kepribadian berupa neurotisisme dan introversi, juga trait personaliti neurotik dan perfeksionis berisiko berlanjut SLK. Begitu juga inaktivitas selama masa anak-anak dan mononukleosis infeksiosa. Trauma di masa anak-anak terkait erat dengan peningkatan risiko SLK. Faktor-faktor presipitasi merupakan faktor-faktor yang memicu atau mengawali munculnya SLK.

Umumnya heterogen, seperti infeksi, trauma fisik, intoksikasi (termasuk obat-obatan), operasi dan/atau anestesi, peristiwa/kejadian di kehidupan yang serius berpotensi menyebabkan SLK. Bukti-bukti infeksi sebagai titik mula SLK berasal dari studi kasus mononukleosis infeksiosa yang disebabkan virus Epstein-Barr (EBV).

Tingkat keparahan infeksi akut merupakan faktor risiko terjadinya SLK. Melalui studi microarrays, aktivasi fungsi mitokondria dari sejumlah gen, metabolisme asam lemak, dan siklus sel memengaruhi munculnya SLK pada infeksi EBV.

Pemeriksaan penunjang SLK direkomendasikan dokter sesuai indikasi, berupa: urinalisis untuk protein, darah, dan glukosa, hitung darah lengkap, serum urea dan elektrolit, fungsi hati, fungsi tiroid, rerata sedimentasi eritrosit, serum CRP (C-reactive protein), glukosa plasma random, screening tes darah untuk sensitivitas gluten, serum kalsium terkoreksi, serum kreatinin kinase, serum ferritin (hanya untuk anak-anak dan dewasa muda).

Solusi
Tim dokter bersama terapis okupasi, fisioterapis, psikolog klinis, perawat spesialis merekomendasikan terapi sesuai kebutuhan. Beberapa penderita memerlukan manajemen aktivitas/energi, terapi perilaku kognitif (CBT), psikoterapi, graded exercise therapy [GET], higiene tidur, terapi famili, evaluasi neuropsikologis, manajemen gejala fisik spesifik, pelatihan relaksasi, terapi religi, strategi problem solving, pencegahan penyakit primer serta komplikasi penyakit dan disabilitas. Terapi SLK dengan anti-CD23 monoclonal antibodi rituximab, berdasarkan jalur imunologi T helper-17 masih perlu riset lanjutan. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE