Fajar


 Breaking News

Mewaspadai Japanese Encephalitis

Supartiningsih Dokter Internship di RSUD Kebumen, Jawa Tengah

Demam pada anak seringkali diremehkan orang tua. Padahal, berisiko menjadi kejang, hingga kematian. Waspadailah Japanese Encephalitis.

Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat, yang ditularkan melalui nyamuk yang terinfeksi virus JE. Virus JE termasuk famili flavivirus disebarkan nyamuk Culicine, dengan vektor culex tritaeniorhynchus. Nyamuk ini aktif sore-malam hari, banyak dijumpai di persawahan. Babi dan unggas merupakan hewan utama reservoir virus ini. Virus JE menyerupai virus west nile, ensefalitis St. Louis, dan ensefalitis Murray Valley.

Epidemiologi
Pada 1871 di Jepang penyakit ini pertama kali dikenalkan. Tahun 1924, JE menginfeksi 6.000 orang. Tahun 1934 virus JE pertama kali diisolasi dari jaringan otak penderita ensefalitis yang meninggal. Tahun 1935 pertama kali terjadi kejadian luar biasa (KLB). Setiap tahun, 35.000-50.000 kasus ensefalitis JE melanda Asia. Penyakit ini endemik di daerah Asia, mulai dari Jepang, Filipina, Taiwan, Korea, Tiongkok, Indo China, Thailand, Malaysia, India, hingga Indonesia.

Penelitian di Indonesia dilakukan intensif sejak 1975. Hampir seluruh provinsi endemis JE. Virus ini pertama kali diisolasi dari nyamuk pada 1972 di daerah Bekasi. Di Bali, telah dilakukan penelitian prospektif terhadap populasi yang terdiri dari 599.120 anak antara 2001-2003. Selanjutnya, pada 2005-2006 dilakukan penelitian yang meliputi 15 rumah sakit di enam provinsi terhadap anak berumur kurang dari 15 tahun. Ditemukan 1.496 kasus ensefalitis, 28 di antaranya disebabkan JE. Sebanyak 95 persen kasus dijumpai pada anak berumur kurang dari 10 tahun. Data pasti kasus terbaru memang belum diketahui mengingat banyak yang tidak terdeteksi.

Potret Klinis
Manifestasi klinis penyakit JE bervariasi, mulai dari gejala ringan seperti demam, flu biasa sampai berat, bahkan dapat berujung maut. Masa inkubasi JE bervariasi antara 4-14 hari. Penyakit ini menyerang semua umur. Namun infeksi simtomatis paling sering terjadi pada anak usia 2-10 tahun. Secara umum, ada empat stadium. Stadium prodromal (2-3 hari), mulai timbulnya demam, nyeri kepala dengan/tanpa menggigil, selera makan menurun, batuk, pilek, keluhan saluran cerna (mual, muntah, nyeri ulu hati). Stadium akut (3-4 hari) ditandai demam tinggi. Pasien mengeluhkan kaku leher hingga peningkatan tekanan intrakranial, berupa nyeri kepala, mual, muntah, kejang, penurunan kesadaran dari apatis hingga koma bahkan kematian. Stadium sub-akut (7-10 hari), pasien seringkali menghadapi masalah pneumonia ortostatik, infeksi saluran kemih, dan dekubitus. Gangguan fungsi saraf seperti paralisis spastik (melemahnya otot, dapat disertai kejang), mengecilnya otot, fasikulasi (otot berdenyut), gangguan saraf kranial dan gangguan ekstrapiramidal (wajah menyerupai topeng), kaku otot, dan gerakan tak terkendali pada jari dan anggota gerak tubuh). Stadium konvalesens (4-7 minggu), ditandai kelemahan, mengantuk, gangguan koordinasi, tremor, dan neurosis. Pada stadium ini dapat dijumpai gangguan sistem motorik, perilaku, intelektual, dan gejala persarafan.

Diagnosis
Diagnosis JE ditegakkan menggunakan kriteria World Health Organization (WHO) dan pemeriksaan immune adherence hemaglutinin (IAHA). Secara klinis tidak ada gejala khas untuk JE, maka seringkali diagnosis ditegakkan sebagai ensefalitis tanpa dicari penyebabnya. Adapun pemeriksaan penunjang berupa darah lengkap (leukositosis diikuti leukopenia), level natrium serum, tes fungsi hati (peningkatan AST, ALT), isolasi virus (pemeriksaan baku emas diagnostik JE), Magnetic Resonance Imaging (MRI), CT-scan, Electroencephalography (EEG), Pungsi lumbal (menyingkirkan diagnosis banding penyebab lain dari ensefalitis), pemeriksaan serologik (IgM capture dengan cara ELISA dari serum atau CSS), dan immunoassays (adanya antibodi IgM di dalam CSS). Diagnosis banding JE antara lain: malaria serebral, meningitis bakteri, meningitis aseptik, ensefalitis oleh Flavivirus lain, kejang demam, rabies, sindrom Reye dan ensefalopati toksik.

Penyakit JE dicegah melalui imunisasi. Tatalaksana JE dilakukan secara simtomatik dan suportif. Pemberian obat golongan antipiretik untuk demam, antikonvulsan untuk kontrol kejang, dan analgetik untuk nyeri. Cairan diberikan untuk mengatasi dehidrasi dan menjaga keseimbangan elektrolit. Pemberian obat haruslah seizin dokter. (*)

Berita Terkait