Fajar


 Breaking News


Silariang, Siri dan Respons yang Bergender

Nurul Ilmi Idrus Antropolog Feminis

Dalam konteks Bugis-Makassar kawin lari terbagi atas tiga: silariang (kawin lari atas kemauan laki-laki dan perempuan); nilariang (kawin lari atas kemauan satu pihak, biasanya laki-laki melarikan perempuan); dan najjuluang alena/erangkala (kawin lari di mana perempuan yang membawa dirinya—misalnya, ke imam—untuk dinikahkan atau ke pacarnya untuk mempertanggungjawabkan karena pada banyak kasus terjadi akibat kehamilan di luar nikah.

Silariang tidak saja melanggar adat Bugis-Makassar, tetapi juga melanggar hukum Islam dan hukum negara. Melanggar hukum adat karena mengabaikan prosedur perkawinan dan berbagai persyaratan adat lainnya; melanggar hukum agama karena tidak memenuhi prinsip rukun dan syarat, serta walimah terabaikan sehingga rentan fitnah; dan melanggar hukum negara karena dianggap sebagai “penculikan” (jika dilaporkan keluarga perempuan), dan ini menjadi problematika karena pada banyak kasus keluarga perempuan melaporkan anaknya nilariang, padahal keduanya silariang.

Silariang dan Siri’
Film karya Art2Tonic yang ditayangkan di 19 kota besar di Indonesia sejak 2 Maret 2017 adalah film yang bermuatan budaya Bugis-Makassar, yang merujuk pada konteks tipe kawin lari yang pertama, Silariang.

Film yang diawali pernikahan seorang lelaki yang mengkhianati pacarnya dengan menikahi perempuan lain ini menyisakan dua masalah: kehamilan di luar nikah dan penghianatan, keduanya menimbulkan malu dan harga diri yang terhinakan (siri’) tidak saja bagi pihak keluarga perempuan, tetapi juga bagi pihak keluarga laki-laki.

Sang pacar berupaya bunuh diri ketika ditemukan ibunya dan menimbulkan kehebohan. Kehebohannya bukan pada “akibat dari upaya bunuh diri” (pendarahan), tapi pada apa yang menjadi “penyebab” (kehamilan di luar nikah dan penghianatan).

Dua hal yang sama gentingnya, jika yang pertama berkaitan dengan nyawa manusia, yang kedua berhubungan dengan malu dan kehormatan keluarga (siri’). Ini menunjukkan betapa nyawa manusia tidak lebih penting dari penegakan siri’ itu sendiri.

Demi menegakkan siri’ Petta Lolo (ayah si perempuan) dan to masiri’-nya (penegak siri’) yang lain mendatangi keluarga laki-laki yang tengah mengadakan resepsi perkawinan. Malu atas perbuatan anaknya yang menghamili anak perempuan Petta Lolo dan tidak bertanggung jawab, membuat Puang (bapak si lelaki) dan keluarganya yang hadir pasrah ketika anak lelaki Puang—yang sedang bersanding di pelaminan—dibunuh di depan mata keluarga Puang dan keluarga Petta Lolo tanpa respons. Sebuah penegakan atas nama siri’ yang dijalankan Petta Lolo dan “diikhlaskan” keluarga kedua belah pihak. Ini tidak saja menunjukkan keikhlasan atas penegakan siri’, tetapi juga mengindikasikan bahwa penegakan siri’ tidak mengenal ruang dan waktu.

Belasan tahun kemudian, Cia (anak Puang) dan Ali (anak Petta Lolo) kuliah di kampus yang sama dan kampus ditampilkan sebagai ajang pertemuan keduanya. Meskipun dunia kampus yang ditampilkan untuk menunjukkan kegigihan Ali dalam membantu Cia mendapatkan buku rujukan tugas dosen, namun sisi menarik dari kehidupan kampus yang ditampilkan adalah sindiran terhadap prilaku dosen yang break bahkan sebelum mengajar, marah-marah, serta memberi tugas yang cukup berat dalam waktu singkat. Ini semacam “prestasi” dosen ketika melihat mahasiswanya “menderita” atas tugas yang diberikan.

Jalinan kasih antara Cia dan Ali “membuka” luka lama di antara kedua keluarga ini. Ketidaksetujuan Puang atas hubungan kedua sejoli ini membuat mereka sepakat silariang, yang berarti keduanya berpotensi dibunuh.

Jika Puang mengharamkan turunannya berhubungan dengan keluarga Petta Lolo, maka Petta Lolo merelakan Ali dibunuh jika yang terjadi adalah nilariang, sebagaimana kerelaan Puang ketika anaknya dibunuh Petta Lolo belasan tahun silam. Namun, jika mereka silariang, Petta Lolo tak hanya merelakan Ali dibunuh, tapi juga menuntut Petta Puang membunuh Cia anaknya sebagai konsekuensinya. Pernyataan ini menunjukkan perbedaan yang jelas antara konsekuensi nilariang dan silariang.

Respon yang bergender
Meskipun to masiri’ bisa perempuan maupun laki-laki, dalam praktiknya lebih dipantaskan (malebbi’/labbiriki) jika yang menegakkannya adalah laki-laki, dan ini dengan sangat jelas tergambarkan dalam film ini.

Film ini juga menggambarkan secara jelas bagaimana laki-laki dan perempuan merespons terhadap siri’ secara berbeda (gendered response). Baik Ibu Cia maupun Ibu Ali sama-sama merasa malu atas peristiwa silariang tersebut. Namun, sebagai perempuan mereka tidak pasif. Ibu Cia tetap memantau perkembangan Cia melalui mama Rahmah—seorang waria, pengasuh Cia sejak kecil—tanpa sepengetahuan Puang, sambil menyabarkan Puang. Hal serupa terjadi pada Ibu Ali, yang berupaya agar suaminya melakukan upaya pencegahan atas penegakan siri’ karena berbagai kejadian siri’ telah menimpa keluarganya, mulai dari anaknya yang bunuh diri, dibunuh, dan silariang. Jika Petta Lolo tidak melakukan pencegahan, maka anak mereka akan potensil dibunuh. Bagi Ibu Ali, yang mati takkan hidup kembali dengan penegakan siri’ tersebut.

Namun, bagi orang Bugis-Makassar: “cella’ topi na doing/eja tompi na doing”, resiko adalah urusan belakangan, dan kematian atas penegakan siri’ adalah mate ri gollai mate ri santangi (kematian yang manis dan gurih), sebuah kematian yang bermartabat.

Ketika Cia akhirnya terdeteksi keberadaannya setelah dua tahun silariang, Puang dengan badik terhunus datang dan siap membunuhnya. Akan tetapi, nalurinya sebagai seorang kakek atas cucu meskipun cucu tersebut hasil dari perkawinan silariang, membuat sang badik dimasukkan kembali ke sarungnya. Sampai di sini urusan badik-membadik terhenti!

Menariknya, pentingnya penegakan siri’ dikemas dalam suasana yang berbeda, yakni ketika Puang menghadiri sebuah acara pelamaran dan mempertanyakan “uang panai” yang dianggap terlalu sedikit. Ini ditanggapi dengan alasan: “daripada silariang”. Frasa ini menjadi “kunci”, Puang pulang karena merasa dipermalukan dan “luka” (yang memang belum pulih) “terbuka” kembali. Siri’ harus ditegakkan, membiarkannya hanya akan membuat “luka” tersebut tak pernah pulih!

Pedang kembali terhunus, Cia muncul dengan anaknya dari tempat persembunyiannya, diikuti Ali—menunjukkan dirinya sebagai laki-laki Bugis-Makassar—yang siap menghadapi risiko apapun. Kesempatan ini digunakan Puang untuk menusukkan badiknya ke tubuh Ali, sebelum akhirnya bermaksud membunuh Cia darah dagingnya sendiri.

Namun, tangisan cucu digendongan Cia “menghentakkan” naluri ke-bapak-an dan ke-kakek-annya, sehingga badik berbalik arah ke paha Puang sendiri. Dalam konteks ini, tak peduli apakah Cia atau paha Puang sebagai “pengganti” tubuh Cia yang tertusuk badik, Puang pulang dipapah dengan paha terluka, kepulangan yang “bermartabat” karena penegakan siri’ telah ditunaikan.

Sisi lain, Mama Rahmah dan “dosenku saying” berhasil mencairkan suasana ketegangan. Bravo kepada produser, pemain dan segenap kru Art2Tonic atas karya kreatif anak bangsa yang mengusung budaya-budaya lokal. Keep going! (*)

Berita Terkait