Fajar


 Breaking News


Saat Bencana, Beri Kita Peringatan

Mohammad Muttaqin Azikin Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Sulawesi Selatan

Sejak penghujung 2016 hingga awal tahun 2017 ini, Indonesia dilanda sejumlah bencana. Banjir yang terjadi di berbagai daerah, angin puting beliung, gempa di Pidie Aceh, serta banjir bandang yang menimpa Garut--Jawa Barat, Bima--NTB, Minahasa—Tomohon, Bandung, Bogor, serta sejumlah daerah lainnya.

Jenis bencana tersebut, bisa kita bagi dalam dua kategori. Ada bencana yang murni fenomena alamiah yang tidak terkait langsung dengan aktivitas manusia seperti; gunung berapi, gempa bumi, angin kencang, dan sebagainya.

Ada juga bencana yang bukan murni sebagai gejala alamiah, namun sangat berhubungan perlakuan manusia terhadap alam. Kita dapat sebutkan di sini sebagai contoh; bencana banjir, longsor, serta banjir bandang. Karena umumnya bencana alam jenis kedua ini, tidak terjadi begitu saja, akan tetapi biasanya selalu didahului aktivitas dan kegiatan yang dilakukan manusia, yang kemudian menjadi penyebab dan pemicu terjadinya bencana.

Berkenaan bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai daerah di Tanah Air belakangan ini, seakan kita diberi peringatan yang begitu keras untuk kesekian kalinya terhadap perlakuan kita, pada sumber daya alam yang ada. Oleh karena itu, tulisan ini ingin menyorot kejadian itu, apa saja yang melatari terjadinya bencana. Penulis mencoba mendekati paling tidak pada tiga aspek dan tinjauan, di antaranya :

Pertama, dari aspek tata ruang, bencana banjir dan longsor biasanya terjadi apabila pemanfaatan ruang, dilakukan dengan cara tidak semestinya sebagaimana rencana peruntukannya. Jadi, tertib tata ruang tidak diwujudkan, serta produk tata ruang belum dijadikan sebagai matra spasial pembangunan di daerah yang bersangkutan. Olehnya itu, pemerintah daerah tidak boleh abai dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Kedua, seperti diketahui bersama, persoalan lingkungan sudah menjadi masalah global yang memerlukan perhatian semua pihak, terlebih pemerintah selaku penentu kebijakan. Dr. Muhammad Akib, SH, M.Hum dalam bukunya “Hukum Lingkungan” mengatakan bahwa secara yuridis, pengertian lingkungan hidup menurut UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disingkat UUPPLH-2009, yang mana memiliki perbedaan mendasar dengan regulasi sebelumnya, yaitu tidak hanya untuk menjaga kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain, juga kelangsungan alam itu sendiri.

Jadi sifatnya tidak lagi antroposentris atau biosentris, melainkan telah mengarah pada ekosentris. Dengan regulasi tersebut, pemerintah daerah mesti lebih bijak serta tidak semena-mena dalam melaksanakan proses pembangunan, agar tidak mengorbankan kelangsungan dan kelestarian lingkungan hidup.

Ketiga, di samping dua aspek sebelumnya, tata ruang dan lingkungan hidup, maka secara teologi pun telah lama diisyaratkan kepada manusia sebagai makhluk utama yang diamanahi Tuhan menjaga dan melestarikan alam ini.

Selama puluhan abad lalu, Alquran telah menyebut sebab krisis ini adalah perilaku tidak benar manusia dan penyalahgunaan kekuatan dan wewenangnya. Dalam surah Ar-Rum ayat 41 Allah swt berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Islam sangat mementingkan upaya melindungi bumi dan kekayaan sumber daya alam yang dikandungnya.

Islam dan agama-agama Ilahi senantiasa menekankan pentingnya rasa tanggung jawab manusia di hadapan alam, serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Karena faktor utama munculnya masalah lingkungan hidup adalah rusaknya keseimbangan ini. Dan karenanya, melindungi lingkungan hidup berarti sebuah upaya mencapai keseimbangan antara pemanfaatan sumbe alam dan menjaganya untuk masa depan. Seyyed Mohsen Miri menyebutkan, salah satu prinsip filsafat lingkungan hidup Islam adalah alam semesta diciptakan berdasarkan keseimbangan dan harmoni antar anggota alam tersebut.

Dan, manusia harus berusaha maksimal menjaga keseimbangan dan berinteraksi secara benar dengan maujud lain di alam ini. Allah swt berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 3, “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang.” Dalam kaitan ini, pemerintah dan penentu kebijakan mesti membatasi segala aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Akhirnya, kita semua berharap bahwa peringatan keras, berupa bencana banjir, tanah longsor, serta banjir bandang yang terjadi di berbagai tempat, tidak terus terulang. Karena itu, tekad bersama menjaga, memelihara, dan melestarikan alam serta lingkungan hidup, menjadi sebuah kemestian demi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) untuk kemakmuran, kebahagiaan, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Berita Terkait