Fajar


 Breaking News

Apa Jadinya Bumi Tanpa Hutan

Saifullah Masdar Mahasiswa Universitas Hasanuddin/ Anggota Komunitas Sobat Bumi Indonesia


* Peringatan Hari Kehutanan Sedunia, 20 Maret

Pertanyaan di atas tentunya dapat kita jawab dalam persepsi masing-masing hari ini. Namun paling tidak, kita bisa dinyatakan dengan sederhana bahwa tanpa hutan, bumi akan mengalami kegersangan, sumber air semakin sulit ditemukan, cuaca panas yang akan semakin menjadi-jadi dan lain-lain.

Bumi tanpa hutan akan menyebabkan begitu banyak permasalahan, baik menyangkut diri sendiri maupun dalam tataran suatu bangsa dan negara. Ada dua versi tanggal peringatan Hari Kehutanan Sedunia yakni 20 Maret dan 21 Maret. Tulisan ini merefleksikan peringatan yang dilaksanakan pada 20 Maret, karena sesuai ketetapan dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

20 Maret diperingati sebagai Hari Kehutanan Sedunia, mencoba memanggil kita untuk bisa sejenak berkontemplasi, memaknai arti pentingnya hutan bagi kehidupan sebagai wujud ciptaan Tuhan yang tidak ternilai harganya. Dengan hal tersebut, kita bisa bergerak bersama dengan ide-ide yang inovatif dan kreatif untuk menjaga dan merawatnya. Kalau bukan diri sendiri, kepada siapa lagi kita berharap dan kalau bukan sekarang, kapan lagi kita memulainya.

Melalui momentum ini, barangkali kita bertanya apa yang bisa kita lakukan? Sebuah pertanyaan klasik yang akan menghasilkan beragam jawaban dan kita semua pun berhak menjawabnya sesuai kapasitas kita.

Paling tidak ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di antaranya: Pertama, kita perlu memposisikan diri sebagai bagian yang terintegrasi dengan hutan. Mengapa? Dalam keseharian kita, tentunya kita tidak pernah lepas dari interaksi dengan hasil-hasil hutan.

Contoh kecilnya saja pintu rumah, meja, kursi, lemari, kertas, dan lain sebagainya yang merupakan kerajinan tangan dari hasil olahan hutan. Olehnya langkah pertama yang perlu kita sadari bahwa keberadaan kita di bumi bukan semata-mata menjadi penikmat saja, tetapi memiliki tanggung jawab merawat dan menjaga kelestariannya.

Kedua, Menggalakkan pengelolaan hutan yang berkearifan lokal. Dalam realitasnya, Hutan telah menjadi satu wahana paling banyak dieksploitasi. Beragam hasil hutan, baik produk kayu maupun non kayu, digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Bahkan, ada sekitar 1,6 miliar orang di dunia bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka.

Namun sangat disayangkan pengelolaanya yang seyogyanya bertanggung jawab kerap terabaikan. Akibatnya, data dari nationalgeographic.co.id saat ini deforestasi global terus berlanjut pada tingkat yang mengkhawatirkan: 13 juta hektare hutan hancur setiap tahunnya.

Olehnya perlu merestorasi gerakan pengelolaannya menjadi pengelolaan hutan yang berbasis kearifan lokal. Hal tersebut masih dapat kita temukan dan pelajari di era globalisasi saat ini. Misalnya masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba. Mereka sangat meyakini hutan bagian yang tidak terpisahkan dengan diri mereka, sehingga merusak hutan sama halnya dengan merusak diri sendiri (Pawennari Hijjang & Basrah Gising dalam buku Kerifan Lingkungan Sulawesi, 2010).

Dengan hal tersebut, sistem pengetahuan yang sarat akan kearifan lokal seperti di atas, akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memperlakukan hutan dan tentunya akan sangat bermanfaat dalam prospek pembangunan hutan lestari yang saat ini digalakkan pemerintah.

Ketiga, berpatisipasi aktif baik dalam gerakan-gerakan penanaman pohon maupun ikut dalam mengawal dan mengawasi isu dan kebijakan pemerintah dalam mengelola hutan nasional.

Beragam hasil hutan, baik produk kayu maupun non kayu, dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup manusia, sehingga dalam pengaplikasiaanya sarat dan rentan dengan kebijakan dan kepentingan yang tidak pro lingkungan.

Selanjutya dengan ikut terlibat dalam gerakan penanaman pohon, merupakan langkah konkret yang dapat ditempuh sebagai perwujudan aksi nyata melestarikan hutan.

Dalam konteks ini, pemerintahlah yang menentukan kebijakan seperti apa yang perlu dilakukan, namun bukan berarti kita harus menutup mata dengan kebijakan tersebut. Kita berhak mencermatinya, karena hutan bukan sekadar kumpulan pohon, tetapi juga tempat berikhtiar hidupnya makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon pernah mengatakan, “Untuk membangun masa depan yang berkelanjutan dan berketahanan iklim, kita harus berinvestasi pada hutan-hutan dunia. Hal itu membutuhkan komitmen politik di tingkat paling tinggi, kebijakan-kebijakan yang cerdas, penegakan hukum yang efektif, kemitraan dan pendanaan yang inovatif.”

Sebagai kesimpulan, Peringatan Hari Kehutanan Sedunia tentunya bukanlah sebuah simbolis belaka. Namun, mengandung nilai dan pesan yang sangat dalam. Ada harapan dan cita-cita mulia yang tertuang di dalamnya.

Tugas kita bergerak bersama dengan strategi terbaik dalam melestarikan warisan dunia. Jangan biarkan kami sendiri, kita bisa karena bersama. Selamat Hari Kehutanan Sedunia. #Cintai Bumi, Selamatkan Bumi. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE