Fajar


 Breaking News


I Love Monday: Eh..., KaTePe JanDa


FAJARONLINE.COM - Woww..euunakkk. Komentar Udin setelah sarapan nasi kuning sebelum berangkat ke kantor. Tiba di ruangannya, dia kaget melihat tumpukan tugas yang harus segera dituntaskannya.

Pekerjaan ganda sebagai honorer di kelompok usaha Maju Terus Pantang Mundur (Jurus Pandur), sekaligus Ketua Rukun Teman-teman (RT) mengharuskan Udin harus prima.

Di tengah keasyikannya bekerja, badan Udin gemetar. Ternyata perutnya mulai keroncongan. Itu alarm tanda dia harus makan. Tak seberapa lama kemudian pria perlente ini membaca koran dan mencari informasi tentang tempat makan paling enak di sekitar kantornya.

Hanya sepelemparan batu kemudian, Udin mengambil smartphonenya lalu menghubungi sebuah tempat makan yang alamatnya baru saja dilihatnya di surat kabar.

Tak sampai dua kali telepon berdering, Halija, pelayanan di Rumah Makan "Maknyusss" itu mengangkat telepon. "Selamat pagi menjelang siang Pak Udin.Terima kasih telah menghubungi Maknyusss, rumah makan terlezat di kota ini. Ada yang bisa saya bantu?"

Udin : Saya mau pesan soto.
Halija : Oh, itu bukan ide yang bagus. Pak Udin cocoknya coto.
Udin : Apa alasan Anda menyarankan saya pilih coto ketimbang soto?
Halija : Menurut database kami, coto plus ketupat adalah makanan kesukaan bapak.
Udin : Dari mana kamu tahu saya doyan coto?
Halija : Ya, tahulah Pak. Smartphone bapak banyak dipakai hanya untuk mencari info tentang coto. Hampir tiap hari bapak meng-googling kata coto kan?
Udin : Ah, tahu aja kamu.
Halija : Sekadar info tambahan, bapak juga suka janda kan. Hmmm, maksud kami, coto janda?
Udin : Ssstt, lho, kok tahu semua?
Halija : Itu karena database. Setiap makan, bapak selalu pilih janda. Maksudnya, coto yang berisikan JANtung dan DAging.
Udin : Adakah propduk baru?
Halija : Ada dong Pak. Coto saya (ujarnya dengan sedikit genit).
Udin : Coto apa itu?
Halija : Coto Halija. Nama saya kan Halija. Jadi coto saya itu adalah coto tanpa daging, dan hanya terdiri dari campuran HAti LImpa dan JAntung.
Udin : Baiklah. Saya pesan dua porsi. Satu porsi coto Janda, dan satunya coto Halija. Berapa yang harus saya bayar?
Halija : Bapak lupa pesan ketupat. Kalau dengan ketupatnya, sepuluh dollar.
Udin : Kok mahal banget? Pakai dollar lagi.
Halija : Ini sangat murah Pak. Daripada bapak bikin sendiri. Kami pakai dollar karena coto sudah mendunia.
Udin : Oke. Oke. Saya bayar pakai kartu kredit ya?
Halija : Tidak bisa. Harus bayar cash. Kartu kredit bapak sudah over limit, dan ternyata bapak punya utang yang jatuh tempo.
Udin : Ya sudah. Saya ke ATM tarik uang tunai dulu.
Halija : Itu juga tidak bisa. Batas penarikan uang di ATM bapak sudah habis.
Udin : Bussyettt.. Ya, sudah. Saya bayar tunai di sini setelah pesanan diterima. Berapa lama cotonya sampai ke sini?
Halija : Sekira satu jam Pak, karena jalanan macet. Ada demo dekat kantor bapak. Tapi jika bapak tak mau menunggu, cotonya bisa diambil sendiri dengan motor cicilan bapak yang sampai saat ini juga belum ganti oli,
Udin : Hah! Hati-hati kamu ya. Nggak jaga perasaan konsumen.
Halija : Bapak juga harus waspada. Jangan marah-marah. Menurut catatan kami, tekanan darah bapak turun naik.
Udin : Ya sudah. Pesanannya dibatalkan saja.
Halija : Itu lebih baik, agar bapak tak terganggu dengan kolestrol.
Nah, mungkin begitulah ilustrasi jika Kartu Tengara Penduduk-Elektronik (KaTePe-El) di negeri antah berantah ini, andai saja tak ada masalah di tengah jalan.
Weleh-weleh, eh..., KaTePe lagi... (kritik - saran, WA 087711222468)

Berita Terkait