Fajar


 Breaking News

Menembus Lorong Dunia

SAKKA PATI Timpro PP MTR Kota Makassar

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China (Tiongkok)”. Kalimat ini sering sekali kita dengar dalam kehidupan keseharian, bahkan tak jarang dalam khutbah, para ulama sering mengutip kalimat ini dan menyampaikan sebagai sebuah hadis.

Meskipun ada pula ulama yang mengatakan ini adalah hadis palsu. Saya tidak mau menilai apakah ini palsu atau bukan, tetapi yang ingin saya maknai mengapa sudah turun temurun hadis/kalimat ini didengungkan, dan mengapa harus ke Tiongkok yang disebutkan, bukan bangsa/negara lain yang sudah cukup terkenal sejak zaman dahulu.

Tiongkok yang Seksi
Keseksian dan kekuatan Tiongkok menjadi suatu cerita dan perhatian tersendiri, serta dilirik banyak orang dari berbagai pelosok dunia.

Kekuatan kaisar dari berbagai dinasti tidak lepas dari legenda dan mitologi “Naga Cina”, makhluk terbang bertubuh ular, bertanduk, dan memiliki cakar. Bagi masyarakat Tiongkok, naga melambangkan kekuatan dan kekuasaan.

Begitu besarnya penghormatan bangsa Tiongkok terhadap makhluk ini, sehingga mulai kaisar sampai masyarakat dengan bangga menggunakannya sebagai simbol yang istimewa.

Coba bandingkan dengan simbol bangsa Indonesia yaitu Burung Garuda, yang lebih dikenal sebagai Lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila. Burung Garuda merupakan mitos dalam agama Hindu dan Buddha. Garuda dilambangkan sebagai makhluk separuh burung (sayap, paruh, dan cakar) dan separuh manusia (tangan dan kaki).

Jika melihat dua simbol binatang di atas yang digunakan Tiongkok dan Indonesia, keduanya memakai simbol binatang yang digambarkan memiliki kekuatan dan kekuasaan, sehingga dapat menjadi renungan kita dalam membandingkan semangat yang menuntun kedua negara mencapai tujuan adalah sama-sama berangkat dari mitos, serta memiliki tujuan yang sama pula yaitu ingin menjadi bangsa dan negara yang kuat di percaturan dunia Internasional.

Dalam kunjungan penulis ke Tiongkok baru-baru ini, melihat dan mendengar langsung penjelasan dari guide tentang banyak hal di Tiongkok menjadi pembelajaran dan pengalaman yang cukup menarik dan berharga, untuk mengetahui beberapa.

Meskipun hanya mengunjungi 3 (tiga) provinsi dari 34 (tiga puluh empat) provinsi, namun kota-kota yang dikunjungi cukup representatif memberikan gambaran tentang Tiongkok dari masa ke masa. Diawali di Kota Beijing, Nanjing, Hangzhou, Wuzhen, Suzhou, dan Sanghai.

Bukti peradaban yang sangat kuat tampak begitu diagungkan masyarakat Tiongkok, peninggalan sejarah dijaga dan dikelola begitu baik pemerintah sehingga menjadi tempat kunjungan yang menarik bagi pengunjung dalam menyaksikan dan mengenang peradaban manusia di masa lalu.

Hal yang belum didapatkan di Indonesia dalam hal pemeliharaan peninggalan sejarah peradaban masa lalu bangsa Indonesia. Hal lain yang cukup menarik perhatian penulis adalah penataan kota dan pemeliharaan kebersihan. Di sepanjang jalan besar dan pusat-pusat kota, kebersihan cukup tampak dan bangunan tertata dengan baik tanpa ada pemandangan pedagang kaki lima.

Akan tetapi ketika melongok di perkampungan masyarakat yang disebut kota lama tampak banguan masih sangat kumuh dan joro, lorong-lorong yang ada penuh dengan sampah dan barang-barang rongsokan, hal ini terjadi karena pemukiman tersebut memang tinggal menunggu waktu untuk menyingkirkan penghuninya.

Kebijakan pemerintah yang tidak memberikan hak kepemilikan kepada rakyat menyebabkan rumah-rumah yang ada tidak direnovasi, melainkan apabila rumah tersebut sudah tidak bisa dihuni lagi, masyarakat dipindahkan ketempat baru yang disediakan pemerintah.

Beda di Indonesia, khususnya di Makassar jika ada lorong maka upaya yang dilakukan pemerintah adalah menata dan memperbaiki lorong, karena rumah yang ada di lokasi tersebut menjadi hunian tetap pemiliknya.

Pendekatan pemerintah dalam penataan kota di Tiongkok dengan Makassar pasti berbeda karena didasari latar belakang idiologi, sistem pemerintahan, filosofi, dan kultur yang berbeda.

Kemajuan pembangunan kota besar yang ada di Tiongkok pasti jauh lebih pesat dari kota Makassar, tetapi dalam hal kearifan lokal, Makassar tidaklah terlalu ketinggalan dari kota besar yang ada di Tiongkok, ini terbukti dengan ciri gotong royong, sifat ramah tamah masih dimiliki masyarakat Makassar yang disebut dengan Sombere.

AKan tetapi untuk maju dan berkembang, belajar ke Tiongkok memang bisa menambah wawasan dalam melaksanakan pembangunan yang lebih maju dan modern.

Tidak berlebihan jika kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Tiongkok, karena memang banyak yang dapat dipelajari dari negara yang sering disimbolkan dengan naga tersebut, namun tidak berarti kita mencontoh secara mentah-mentah, karena latar belakang kita berbeda, bahkan latar belakang agama serta perilaku kita yang berbeda, sehinga kita boleh saja mencontoh berbagai hal, tetapi tetap didasarkan pada budaya kita dan agama yang kita anut. Karena kearifan lokal juga merupakan modal besar dalam membangun bangsa dan negara. (*)

Berita Terkait