Fajar


 Breaking News

Produk Cokelat Polman Sudah Tembus Pasar Jawa

Proses Pembuatan Coklat. Aktivis produksi pembuatan coklat Macoa (Mandar Cocoa) di Rumah Produksi milik Harits di Wonomulyo, Polman, Senin 20 Maret. (EDWARD/FAJAR)

FAJARONLINE.COM, POLMAN- Umur buka halangan bagi orang untuk mengembangkan usahanya. Seperti yang dilakukan oleh Haritz Satrio pemuda asal Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman. Dia berhasil mengolah kakao menjadi produk cokelat batangan.

Haritz menceritakan awal mula dia membuat bisnis coklat batangan itu berasal dari alat pengolah biji kakao yang tidak terpakai dirumah orang tuanya. Alat tersebut merupakan milik Dinas Perindusterian dan Perdagangan Kabupaten Polman yang sempat digunakan oleh orang lain namun usahanya gulung tikar sehingga hanya menjadi barang tidak berguna.

Parahnya pemilik rumah yaitu orang tua Haritz harus membayar beban biaya listrik hingga mencapai hampir satu juta rupiah meski alat tersebut tidak digunakan. Muncullah idenya untuk memanfaatkan alat tersebut agar bisa menutupi biaya listrik yang harus dikeluarkan keluarnya tersebut. 

Dia mengajak tiga orang temannya untuk berusaha memproduksi coklat batangan. Namun diawal-awal usahanya sempat mengalami kendala yaitu dimana banyak bahan baku yang terbuang sehingga produksinya sangat sedikit. Tidak sampai disitu saja, produk yang mereka hasilkan juga belum terlalu diterima dipasaran bahkan banyak orang yang enggan menjual atau mengonsumsi.

Namun hal tersebut tidak membuatnya putus asa. Untuk tetap bisa memproduksi coklat batangan, pria kelahiran 24 tahun lalu itu memberanikan diri meminjam uang di Bank untuk digunakan sebagai modal. 

Seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya mengikuti pelbagai pameran produk UKM. Haritz bersama teman mulai menemukan cara yang tepat agar produk bisa diterima masyarakat. Mereka menggunakan konsep pemasaran via online dan menggunakan mahasiswa sebagai agen penjualan.

"Sekarang produksi coklat batangan kami 2000 buah perbulan dengan omset bekisar Rp20 juta lebih. Dan telah dipasarkan hingga Jawa. Namun pasar Sulbar masih mendominasi hingga 70 persen," kata Haritz Senin, (20/03/2017).

Lebih lanjut dia juga menuturkan bahan baku biji cacao yang digunakan untuk coklat batangannya asli dari Polman. Hal tersebut dilakukan agar cacao daerahnya dapat dikenal lebih luas.

"Beberapa studi menunjukkan cacao Polman itu memiliki cita rasa yang kuat dengan aroma yang khas. Jadi buat apa saya cari bahan baku dari luar, sedangkan disini melimpah ruah. Selain itu hitung-hitung sebagai sumbangsih untuk daerah," ujarnya sambil tersenyum.

Terpisah Kadiperindak Polman, Harun Abu menambahkan alat pengolah coklat yang digunakan oleh KBU Mataram Cocoa yang digawangi Haritz itu gratis. Mereka bisa menggunakannya tanpa harus menyewah.

"Silahkan pakai, tetap jaga karena itu aset Pemda, jangan dijual. Tujuan alat tersebut hanya untuk UKM, jadi jika sudah besar usahanya akan kami alihkan ke UKM lainnya, tetapi hingga sekarang belum ada baru dari UKM yang mengolah coklat batangan di Polman," ulasnya. (Edo)

 

Berita Terkait