Fajar


 Breaking News

Arman Dewarti, Menghargai Adegan Sekecil Apapun

SELALU DETAIL. Arman Dewarti (kanan) mengamati hasil pengambilan gambar dalam sesi syuting Jalan Pampang, Makassar, Minggu, 19 Maret.


* Mereka di Balik Film-film Makassar

Andi Ade Agsa
Makassar

Bagi dia, sebuah film harus dibarengi pertanggungjawaban. Sebab penonton tak butuh hiburan, tetapi juga makna.

PAGI sudah menjelang siang, Minggu, 19 Maret. Saya mendorong pagar sebuah rumah di Jalan Pampang itu dengan sangat pelan. Jangan sampai menimbulkan bunyi berisik. Kendaraan juga saya parkir agak jauh. Serba hati-hati memang. Sebab saya tak mau jadi penyebab kian panjangnya waktu syuting di tempat itu.

Arman Dewarti, orang yang hendak saya temui, terlihat serius melakukan mentoring terhadap beberapa anak muda yang sedang menggarap sebuah film. Kerap kali ada adegan yang mesti diulang berkali-kali. Soalnya pria kelahiran Bone, 17 Februari 1967 itu, terlihat tak puas.

Dia tidak pasif. Beberapa kali saat ada properti yang kurang elok dipandang di kamera, diaturnya sendiri. “Apalagi ditunggu. Mulai mi adegan,” kata Arman sembari mengarahkan.

Pada saat syuting berlangsung, kami tak sempat berbincang banyak. Saya enggan membuyarkan konsentrasi Arman.

Jarum pendek jam saya ada di antara angka 12 dan 1. Arman mengajak saya untuk ikut makan siang di luar. Di atas kendaraannya, dia mulai bercerita banyak.

“Pada pembuatan film, terkadang saya bertindak sebagai sutradara. Beberapa kali juga sebagai penulis skenario. Tetapi pernah juga, saya menulis skenario sekaligus yang menyutradarai,” ungkap lelaki yang juga Direktur Meditatif Films itu.

Dia berkisah, sebelum terjun ke industri film, dia sering melihat dan memperhatikan proses kerja audio visual di sekitarnya. Kemudian belajar akting dan main teater. Lalu pada dari 2002 hingga 2004 mulai pegang kamera dan belajar teknologi film.

“Saya punya basic bercerita di teater. Coba ajak teman, lalu bikin film pendek. Akhirnya berhasil, dan beginilah sampai sekarang. Judul pertama itu Scizoprenia,” sebutnya.

Menyutradarai ataupun menulis skenario film diakuinya bukan sebatas hobi. Lebih dari itu, merupakan profesi.

Karena melalui karyanya urusan perut bisa dituntaskan. Tetapi edukasi dalam suatu film jangan sampai dilewatkan.

“Film itu adalah media ekspresi, juga tempat berdialog, serta menyalurkan keresahan. Setiap adegan perlu dipikir dampaknya bagi penonon,” terang Arman.

Ada beberapa karya Arman sebagai penulis skenario. Sebut saja Scizoprenia, Sepasang Kelabu, Irrepleceable, Sang Maestro, serta Dari Mulut Harimau ke Mulut Buaya.

Obrolan pun tertunda. Tak terasa kami berdua telah sampai di lokasi yang dituju. Tak jauh dari lokasi syuting. “ Kita makan siang dulu. Nanti dilanjut lagi,” kata dia, sangat ramah.

Kira-kira 25 menit kami bersantap siang. Selepas itu kami kembali berbincang. Bagi Arman, dua tahun terakhir ini, industri film di Kota Makassr telah melejit begitu pesat. Tahun ini saja, akan ada 14 film siap tayang di bioskop. Asli karya anak Makassar.

“Dari sini bisa diukur kalau minat dan pertumbuhan industri film di Kota Makassar begitu berkembang. Jogjakarta (Yogyakarta) pun lewat” tuturnya.

Kendala klasik diakuinya masih sering menghantui para pembuat film di Makassar. Misalnya masih sulit menemukan atau bahkan belum ada tempat penyewaan peralatan yang memadai. Sehingga kerapkali masih ada sedikit kekurangan dari beberapa film yang dibuat.

“Belum lagi misalnya, dari belasan film karya anak Makassar ini, semuanya belum tentu punya ruang untuk tayang di bioskop. Apalagi cuma satu perusahaan yang memonopoli layar lebar ini. Itu pun diurus di Jakarta,” keluhnya.

Arman juga punya perhatian lebih untuk film-film komunitas atau film pendek. Ini yang menurut dia belum diapresiasi. Seharusnya diberi ruang untuk berkembang. Kalau perlu tembus bioskop.

“Film pendek ataupun dokumenter memang tak mengandung nilai komersil. Ada atau tidak yang tonton itu tidak jadi soal. Kebanyakan idenya memang liar. Tetapi film-film tersebut sarat makna dan kaya nilai,” nilainya.

Dia mencontohkan film komunitas berjudul Sepatu Baru, yang meraih penghargaan di Berlin dan Singapura.

Adaption menorehkan penghargaan di Jepang.

“Kalau Cindolo Na Tape itu meraih sukses di Ganesha Festival Film. Sedangkan Memburu Harimau itu tembus Festival Film Indonesia (FFI). Itu karya anak Makassar,” tambah Arman.

Makassar, kata dia, harus terus memproduksi film. Karena tanpa itu, tanah para daeng ini akan sulit untuk melihat dirinya. Baik itu peristiwa masa lampau ataupun proyeksi masa depan. Lewat pandangan audio visual (film) tersebut, minimal menghadirkan gambaran dan takaran tentang kota yang dicintai banyak orang ini. (*/zul)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE