Fajar


 Breaking News

Inilah Wajah Negeriku: Indonesia

Abdul Gafar Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar


Sebuah mimpi dan harapan besar dari pendiri negeri ini adalah mewujudkan Indonsia yang besar, kuat, dan sejahtera. Pasang surut perjalanan negeri ini telah mewarnai kehidupan kenegaraan dan kebangsaan kita. Terkadang kita miris, sedih, gembira, sekaligus menyatu dengan rasa kemarahan menyikapi situasi yang ada di depan mata kita.

Indonesia adalah sebuah negara besar yang heterogenitasnya dalam berbagai aspek diakui sebagai potensi yang terus bergelora. Kesalahan dalam menata keberagaman ini dapat mengarah kepada perpecahan bangsa. Adanya kelompok minoritas dan mayoritas mesti dibingkai dalam kesepahaman NKRI. Perbedaan saling memahami dalam keberagaman merupakan sebuah kekayaan bangsa yang memiliki nilai tinggi, namun dapat menjadi rapuh akibat “digesekkan” kepentingan-kepentingan tertentu.

Beberapa waktu lalu, kita telah menyaksikan bagaimana suasana berlangsungnya pemilihan pemimpin tertinggi pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Perhitungan suara dari pelaksana pilgub/pilbup telah usai. Hasilnya, yang pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Namun faktanya, kenyataan ini tidak otomatis memuaskan semua peserta pemilihan tersebut. Bagi kontestan yang merasa menang, namun dinyatakan kalah, menuntut ke mahkamah yang menangani sengketa pemilihan.

Proses penyelenggaraan pemilihan terkadang diwarnai aksi atau sikap yang tidak terpuji dari para simpatisan atas “restu” sang calon. Berbagai cara digunakan demi memenangkan calonnya yang berkompetisi. Deklarasi siap menang, siap kalah terkadang hanya menjadi ”pemanis” saja dalam berdemokrasi. Kenyataan lapangan yang terjadi dapat berbeda secara ekstrem.

Pencederaan demokrasi lewat pemilihan yang ada, dapat saja dilakukan secara terencana, sistematis, dan masif.

Bukan lagi “Serangan Fajar” tim sukses, melainkan serangan nyata tidak mengenal waktu; pagi, siang, malam, dan di tempat mana saja. Masih banyak masyarakat kita memang berada dalam posisi yang belum mapan secara ekonomis memilih cara yang praktis saja.

Siapapun didukungnya, asal dapur bisa mengepul. Atau ada juga sebagian orang atau tim sukses menggunakan untuk berfoya-foya bersama kelompoknya menggerogoti dana sang calon yang didukungnya.

Dukungan kepada calon gubernur, bupati atau wali kota tampaknya tidak lagi bergantung dari segi idelogi partai ataupun sistem kepercayaan masyarakat pemilih. Sebagai contoh perbedaan agama antara calon dengan konstituennya semakin menjadi tipis bahkan tidak berkorelasi secara signifikan.

Fenomena apa yang terjadi ini? Apakah ideologi partai dan sistem kepercayaan mulai luntur di negeri ini? Lalu, kriteria apa yang benar mesti digunakan? Adakah ini indikasi agar partai-partai dibubarkan saja? Untuk ide ini, tentu akan ada perlawanan dari orang partai. Hahahaha.

Cerita menarik dari pemilihan ini adalah contoh kasus DKI Jakarta. Tiga pasang calon yang bertarung untuk mengisi posisi gubernur dan wakilnya, akhirnya membuat KPU DKI Jakarta mempersiapkan pemilihan tahap kedua. Hal ini akibat tidak adanya pasangan calon yang memiliki nilai perolehan suara lebih dari 50 persen plus satu.

Dua pasangan calon yang lolos putaran kedua; Basuki Tjahaja Purnama-Syaiful Djarot dan Anis Baswedan-Sandiaga Uno--menurut kabar berita tetap mempunyai kekurangan yang dapat menjadi ukuran keterpilihan. Namun yang paling menarik sekaligus menjadi bahan perbincangan adalah calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Penulis pada salah satu masjid sekolah biasa berdiskusi ringan hingga berat tentang berbagai masalah dengan kalangan dosen semisal Prof. Latief Toleng, Prof. Badron Zakaria, Prof. Basit Wello, Ir. Hamzah Sanusi, dan Ir. Hamid Hoddy. Selain itu pula aktif imam masjid Drs Jamaluddin, muazzin Jamal, SE dan simpatisan seperti Drs. Nasrullah, Muhlis, dan sejumlah guru di sekolah tersebut. Sementara untuk diskusi khusus sekali dalam sepekan tentang keagamaan dengan segala kecabangannya dipandu Ustaz Sanusi.

Kembali ke Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta telah menyita banyak perhatian masyarakat akibat ucapannya yang dianggap menghina umat Islam lewat pengutipan Surat Almaidah: 51. Beberapa waktu lalu, Gerakan massa umat Islam yang berjumlah jutaan orang telah tumpah di Jakarta menyampaikan protes akibat ulah Ahok yang dianggap telah menista Agama Islam. Namun Ahok tetap berdiri kukuh dalam kawalan sejumlah penasehat hukumnya.

Lebih ironis lagi, ada tokoh agama Islam sendiri tidak menganggap adanya unsur penghinaan terhadap agama Islam. Ini menunjukkan adanya perpecahan umat Islam dalam melihat ayat yang sama namun memaknainya secara berbeda. Dalam dunia maya, betapa gencarnya berita seputar kasus Ahok yang saling menyerang. Melihat kenyataan tersebut muncul pertanyaan kita, inikah Indonesia hari ini? Jangan tanya pada rumput yang tumbuh liar. Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing: masihkah ini Indonesia? (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE