Fajar


 Breaking News

Mengobati Rasa Sakit Bersama Puisi

Rachmat Faisal Syamsu Dosen Fakultas Kedokteran UMI Penulis Buku Puisi, Seribu Rindu untuk Bulan

* Memperingati Hari Puisi Sedunia, 21 Maret 2017

"Dalam ilmu pengobatan neurosains modern, sangat penting melibatkan peran hati atau perasaan di dalamnya. Di mana bait-bait indah yang ada dalam setiap puisi para penyair dapat mengambil peran untuk itu"

Sejak dahulu puisi adalah tradisi lisan yang bersifat komuniti, di mana penyair dan pembaca sama-sama menghidupkan bahasa supaya ia dapat menjadi rumah untuk semua orang berteduh.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2000, telah menetapkan 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia (World Poetry Day).

Dipilihnya 21 Maret karena hal tersebut bertepatan dirayakannya Hari Penghapusan Diskriminasi dan Ras. Puisi dianggap telah memberi kontribusi untuk meningkatkan jiwa kemanusiaan, meningkatkan soliditas dan kesadaran diri tanpa terikat batasan apa-apa.

Perkembangan puisi modern Indonesia dari waktu ke waktu sangatlah pesat dan beragam. Secara garis besar perkembangan puisi yang pesat ini didukung oleh; Pertama, media. Di era sekarang ini peran aktif media, baik cetak maupun elektronik sangat membantu mempublikasikan karya sastra. Kedua, penerbit. Munculnya banyak penerbit indie membuat seorang penyair lebih leluasa membukukan karyanya.

Ketiga, kompetisi. Banyaknya ajang lomba baik yang dibuat pemerintah maupun swasta ikut berperan memotivasi anak bangsa dalam berkarya membuat karya puisi. Ada target yang dibuat, dan kualitas yang dibangun di dalamnya.

Keempat, komunitas. Hadirnya berbagai macam komunitas menulis hingga sekolah menulis online, menjadikan siapapun bisa belajar mengasah bakat kepenulisan tanpa menggangu aktivitas kesehariannya, dan tidak mengusik apa profesi mereka sebenarnya.
Keindahan dalam Puisi

Suatu puisi akan membuat orang betah, berlama-lama, bahkan berulangkali menikmatinya apabila memenuhi beberapa unsur berikut. Pertama, keindahan susunan katanya. Kata-kata adalah kekuatan untuk menarik pembaca atau pendengar puisi tersebut. Adapun hal yang memengaruhi setiap susunan kata adalah zaman, pengalaman hidup penyair, perbedaan tempat, budaya, dll.

Kedua, gaya bahasa. Setiap penyair memiliki gaya bahasa berbeda-beda, gaya bahasa ini menjadi pilihan penyair sesuai dengan pikiran dan perasaan saat membuat puisi tersebut. Ketiga, pesan atau makna. Setiap puisi yang baik memiliki makna tertentu yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca atau pendengarnya. Makna akan membuat kekuatan dari kata-kata menjadi berkualitas.

Puisi dan Rasa Sakit.
Menurut berbagai referensi, rasa sakit yang dialami seseorang ketika sedang menderita suatu penyakit, adalah kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang sifatnya sangat subjektif. Hal tersebut terjadi karena rasa sakit pada setiap orang berbeda-beda baik dalam skala ataupun tingkatannya. Sehingga hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan rasa sakit yang dialaminya tanpa bisa terwakilkan.

Dalam dunia kedokteran, rasa sakit dapat timbul apabila melibatkan pengaktifan sistem saraf sensoris atau aferen, yang selanjutnya mengirimkan impuls elektrik melalui berbagai neurotransmitter ke susunan saraf pusat, untuk kemudian di persepsikan sebagai rasa sakit oleh sistem saraf motorik atau eferen.

Proses tersebut menimbulkan gejala pada sistem saraf simpatis pasien, seperti rasa cemas dan tegang. Tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan meningkat.

Kendali emosi dan metabolisme tubuh juga ikut meningkat. Semua unsur keindahan yang ada di dalam setiap bait puisi, diharapkan mampu berperan bersama obat dalam proses penyembuhan rasa sakit yang dialami seorang pasien.

Suatu puisi diharapkan mampu membuat perasaan atau hati menjadi rileks, menciptakan rasa bahagia, menurunkan hormon stres, dan mengaktifkan hormon endorfin alami.

Sehingga mereka yang tadinya menderita sakit, dengan menikmati suatu puisi diharapkan memberi respons pada tubuh berupa pengaktifan sistem saraf parasimpatis yang merupakan lawan dari sistem saraf simpatis pada rasa sakit.

Maka gejala yang muncul pada pasien adalah perasaan rileks, dan santai. Penurunan tekanan darah, nadi, dan pernapasan. Pengendalian emosi, pemikiran yang lebih dalam dan metabolisme tubuh yang lebih baik.

"Kecuali gugurnya dosa bak jejatuhan daun, aku tak melihat hal lain pada diri seorang hamba yang terpana sakit. Dosanya berkurang, amalnya bertambah dalam kitab berlafaz hijahiyah" Itu adalah contoh bait puisi bagi mereka yang sedang sakit.

Pada akhirnya, di Hari Puisi Sedunia yang ke-17 ini, kami berharap para penyair di manapun berada, untuk terus berkarya bukan hanya untuk kepuasan dirinya sendiri tetapi untuk kemanfaatan bagi hidup orang banyak. Terlebih lagi dalam hal menghibur dan memotivasi orang-orang sakit dalam proses kesembuhannya.

Teruslah berkarya, banggalah dengan profesimu. Seperti pesan seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali bahwa, kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah seorang penulis. Selamat Hari Puisi Sedunia, selamat menulis puisi. Masih ada puisi hari ini. (*)

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait