Fajar


 Breaking News

Andi Amran Sulaiman, Dari Pondokan ke Kursi Menteri

Amran Sulaiman bersama Presiden Joko Widodo.


FAJARONLINE.COM -- Kerja keras, tahan banting dan tidak kenal menyerah adalah prinsip yang ditanamkan orang tua Andi Amran Sulaiman sejak kecil. Berasal dari keluarga pas-pasan, Amran melakoni hidupnya dengan cara yang sangat sederhana. Sejarah hidup sosok yang sangat ‘low profile’ ini demikian berliku dan banyak dipenuhi cerita yang memiriskan hati.

"Perkenalkan, saya pernah di birokrasi BUMN selama 15 tahun, delapan tahun jadi pengusaha, dan dosen
selama enam tahun,”

Pernah suatu ketika, dia ke Jakarta mengurus hak paten penemuannya. Lantaran kondisi keuangan terbatas, Amran berangkat menumpang kapal laut. Di ibu kota, sambil mengurus hak patennya, dia memilih menginap di Masjid Istiqlal. Dia sama sekali tak memiliki uang untuk sekadar tinggal di penginapan termurah sekali pun. Bahkan
yang paling menyedihkan, dia harus pulang sebelum pengurusan itu selesai karena kehabisan biaya.

Demikian pula ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian Unhas, dan harus tinggal di pondokan. Banyak cerita tentang perjuangan dan keprihatinan. Pernah, lantaran tidak memiliki uang, bersama seorang sahabatnya, Amran hanya makan seporsi mi instan yang dibagi berdua.  Pernah pula untuk mengisi perut, Amran hanya mengonsumsi sepotong telur, itu pun di bagi bersama lima orang kawannya.

Semua kejadian itu menjadikan sosok Amran sangat berempati terhadap dunia sekitarnya. Sejarah hidup seperti ini pula yang semakin membangkitkan tekadnya untuk mampu berbuat bagi orang banyak serta mengantarkannya menjadi seorang yang berkarakter kuat dan pekerja keras.

Sebagai seorang profesional yang kiprah pengabdiannya beragam dan luas, Amran memang sangat menghayati nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Amran menjadi sosok yang dikenal mampu menjadi “suluh” bagi sekelilingnya. Terlepas dari apa pun, Amran merupakan sosok yang di setiap jejak langkahnya senantiasa meninggalkan “benih-benih” kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya.

Beragam medan pengabdian pernah digelutinya: akademisi, birokrat, dan entrepreneur. Amran memiliki banyak kelebihan dan menonjol dari segi apa pun. Kedekatannya pada pelbagai ragam profesi dan kemampuan komunikasinya yang tinggi, menjadikan Amran dengan cepat mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kemudian bergerak ikut mewarnai lingkungan tersebut.

Semua itu terlihat dalam setiap dimensi kiprah pengabdiannya serta membawanya jauh ke dalam pergaulan tingkat nasional dan bahkan internasional. Salah satu yang menonjol dari semua itu adalah ketika dalam kiprah kemasyarakatan, sebanyak 12 provinsi di Kawasan Timur Indonesia mengusulkannya untuk menjadi menteri pada kabinet pemerintahan Jokowi-JK, namun dengan halus Amran menolaknya. Dia menganggap, menduduki jabatan menteri hanya karena persoalan keuangan, hal itu dianggapnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai hidup yang dia anut.

Dari sisi keuangan, Amran telah berada dalam “zona nyaman”. Dengan perusahaan yang dimilikinya, yang memiliki omzet 700 miliar sampai 1 triliun rupiah per tahun, Amran boleh dikatakan mapan dalam hidup. Namun ketika Joko Widodo memintanya untuk ikut mengabdi demi kemas-lahatan rakyat, Amran tak bisa mengelak lagi.

Panggilan pengabdian inilah yang menjadi medan pergelutannya selama ini. Apalagi ketika Joko Widodo memintanya dengan berkata: “Jangan tinggalkan saya”, sosok yang rendah hati ini tak mampu memiliki alasan lagi untuk menolak amanah tersebut.

Dalam garis darah keluarga, Amran adalah keturunan dari La Pawawoi Arung Sumaling -- anak keempat dari La Tenri Tappu Raja Bone ke-23 dari pihak ayahnya. Kemudian La Pawawoi Arung Sumaling mempunyai keturunan bernama Andi Baco Gangka Petta Teru yang memperistrikan
Karaeng Beja -- anak Karaeng Bantaeng. Sedangkan turunan dari pihak ibu, Andi Nurhadi Petta Bau, dari Datu Bengo, La Sado Petta Eppe, yang berdomisili pada Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, Sulsel.

 

Penemu dengan Empat Hak Paten

Pengalaman Amran sebagai peneliti yang menemukan alat pemusnah tikus, membuat dirinya terbiasa hidup dengan penuh dialektika, sistematis, konsisten, telaten serta tak kenal putus asa. Pengalaman itu pula yang mengajarkannya menjadi seorang yang kreatif dan inovatif mengelola hidup ini dengan melahirkan banyak hal baru yang menyentuh
kemaslahatan hidup orang banyak. Karena pengabdian ini pula sehingga selama enam tahun menjalani profesi sebagai tenaga pengajar akademik serta peneliti, dia tak pernah mengambil gajinya. Memang sikap seperti ini terkesan agak aneh, namun itulah yang ditunjukkan oleh Amran. Sikap pengabdian yang bukan hanya berhenti pada kata-kata, namun memang telah mengalir dalam sikap perbuatannya sehari-hari.

Sebagai seorang dosen dan peneliti, Amran memang tergolong sosok yang menyukai tantangan. Jiwa intelektualitasnya senantiasa menyala bila menemukan sebuah persoalan yang sulit mendapat jawaban. Sejak
menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Pertanian Unhas Makassar, jiwa itu telah terbentuk. Tidak mengherankan bila sewaktu menempuh pendidikan tinggi strata satu, dia telah berhasil mencatatkan sebanyak empat hak paten penemuannya. Di Strata pendidikan Magister, Amran juga berhasil lulus dengan prestasi mengagumkan cum laude dengan IPK sempurna 4,0 yang juga dilanjutkan ketika berhasil lulus dengan cum laude juga dengan IPK 4,0 di pendidikan Doktoralnya.

Semangat mencari kebenaran merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Inilah yang kerap membawanya pada kegelisahan seorang intelektual bila menemukan hal yang mengganggu pikirannya.

Seperti ketika dia merasakan rasa sedih para petani kala tanaman yang menjadi tumpuan hidupnya habis terserang hama tikus. Kegelisahan inteltual inilah yang kemudian terus membawanya hingga pada penemuan dan terobosan bagaimana menanggulangi serangan hama tikus tersebut.

Namun gara-gara tikus, Amran berkesempatan menjabat tangan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, dengan menerima Penghargaan Satyalancana Pembangunan Kategori Perorangan Bidang Wirausaha Perta-
nian, di Palembang 7 Juli 2007 lalu. Temuannya, berupa racun tikus yang lebih ekonomis dan efisien dari yang sudah ada, menempatkan Amran sebagai warga yang sangat berjasa menekan kehilangan produk padi dari serangan tikus.

Menjejak Ranah Entrepreneur

Pola hidup disiplin sangat tergambar pada keseharian pria yang lahir di Kabupaten Bone, 27 April 1968. Kedisiplinan bagi Amran adalah “harga mati” bila ingin menapak tangga kesuksesan. Segalanya harus dimulai dengan menerapkan prinsip hidup ini. Tidak mengherankan bila pada
usia yang relatif muda, ia sudah mampu membangun dan membesarkan 14 perusahan yang tergabung dalam sebuah holding Tiran Group, yang meliputi unit usaha: tambang emas, tambang nikel, proyek gula, proyek perkebunan kelapa sawit, SPBU, distributor unilever, distributor semen, produsen pestisida, dan usaha lainnya. Pada saat yang sama, ia juga aktif di pelbagai organisasi.

Sejak menekuni dunia usaha, Amran sangat menekankan nilai-nilai kejujuran. Nilai-nilai kejujuran memang mewarnai semua gerak hidupnya sehari-hari, Ia bekerja mengikuti realitas dorongan hati-nurani yang senantiasa memandu setiap jejak langkah yang ingin ditorehkannya pada kehidupan.

Bagi Amran, menjadi orang jujur akan memiliki pengaruh energi yang sangat positif. Orang akan menghargai kejujuran dan bisa menghargai pendapat kita. Mengatakan kebenaran dalam segala situasi selalu merupakan pilihan terbaik karena sekali ketahuan kita berbohong, selamanya akan dikenal sebagai pembohong.

Di samping itu, Amran juga sangat menekankan tanggung jawab dalam setiap kiprah kehidupannya. Baginya, tanggung jawab dan keberanian memang memiliki peran yang sangat besar bagi tangga kesuksesan seseorang. Menghindar dari tanggung jawab bagi Amran dapat diibaratkan sebagai “orang mati yang berjalan”. Orang seperti ini hanya hidup secara tubuh tapi jiwanya mati. Mereka kehilangan kemampuan untuk percaya pada diri sendiri. Akibatnya, mereka kehilangan energi hidup dan tak lagi mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan
dalam hidupnya.

Bagi Amran, keberhasilan dapat diukur sejauh mana kita menerima tanggung jawab. Kualitas semua orang yang sukses adalah sama, yaitu kemampuan mereka untuk mengambil tanggung jawab. Orang seperti ini akan berani bertahan dalam usaha yang penuh dengan tantangan dan resiko. Dengan tanggung jawab, kita akan menemukan diri senantiasa berada dalam lingkaran tantangan hidup yang menjadikan energi hidup kita semakin bertambah. ***

DATA DIRI

Nama Lengkap : DR. IR. H. Andi Amran Sulaiman, MP.
Kelahiran : Bone, 27 April 1968

Pendidikan :
SD Inpres 10 Mappesangka, Bone
• SMP Negeri Ponre, Bone
• SMA Negeri Lappariaja, Bone
• Fakultas Pertanian Unhas 1988-1993 (Penerima Hak Paten/Penemu)
• Pasca Sarjana Pertanian Unhas 2002-2003 (Cumlaude)
• Program Doktor Ilmu Pertanian Unhas 2008-2012 (Cumlaude)


Surat Penghargaan :
• Hak Paten Alat Empos Tikus “Alpostran” dari Menteri Kehakiman RI, 1995
• Surat Izin Khusus Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1997
• Surat Izin Tetap Pestisida Tiran 58PS dari Menteri Pertanian RI, 1998
• Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI, 2007
• Penghargaan FKPTPI Award tahun 2011 di Bali.
• Surat Izin Tetap Pestisida, Ammikus 65PS dari Menteri Pertanian RI, 2011
• Surat Izin Tetap Pestisida Ranmikus 59PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
• Surat Izin Tetap Pestisida Timikus 64PS dari Menteri Pertanian RI, 2012
• Hak Paten Alpostran (Alat Empos Tikus modifikasi) dari Menteri Kehakiman 2014

Riwayat Pekerjaan :
• Direktur Utama TIRAN Group/Owner (PT. Tiran Indonesia, PT. Tiran Sulawesi, PT. Tiran Makassar,
• PT. Tiran Mineral, PT. Amrul Nadin, PT. Andi Nurhadi Nusantara, CV. Empos Tiran, CV. Profita Lestari, CV. Empos)
• Menteri Pertanian RI, 2014-sekarang.

* Tulisan ini bersumber dari Buku “100 tokoh Sulsel” yang diterbitkan Fajar Perintis Utama (Fajar Group)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE