Fajar


 Breaking News


PILKADA KITA

Dr Aidir Amin Daud SH, MH

SABTU kemarin saya duduk di warung kopi Phoenam Panakkukang. Di ruang sebelah, kebetulan sedang berlangsung diskusi membahas seputar Pilkada Sulsel. Sepertinya, paket bakal calon Gubernur/Wakil Gubernur Sulsel sudah mulai mengemuka. Di beberapa jalan, para calon sudah terang benderang mengkampanyekan diri sebagai era baru provinsi ini. Semua nama yang beredar sepertinya “memiliki hak” turun ke gelanggang. Proses penetapan dari partai politik yang ada dan pengumpulan KTP oleh para relawan, sepertinya sudah makin melangkah jauh. Kita tinggal menunggu hari, untuk melihat munculnya calon defenitif yang akan didaftarkan di KPU Sulsel.

**

Berbeda dengan Pilkada Jakarta nanti-- dengan melihat daftar nama yang mengemuka--Pilkada Sulsel tidak akan diwarnai isu agama. Maka isu-isu yang beredar di media sosial, tentu tidak setajam oleh tampil di Jakarta. Seharusnya, tidak perlu ada polarisasi yang tajam antar-calon maupun pendukungnya. Apalagi, para calon dikabarkan sudah menjalin komunikasi di antara mereka. Pilkada Sulsel harusnya bisa benar-benar menjadi pesta rakyat yang jauh dari ketegangan yang tak perlu. Kita juga harus mewaspadai munculnya fenomena negatif yang diprakarsai oknum  yang tidak bertanggung jawab. Fenomena itu, di banyak daerah seperti praktik kampanye hitam, KTP-el ganda, dan adanya kongkalikong penyelenggara pilkada.  Bahkan kreativitas dalam kecurangan meningkat, tidak hanya dilakukan para kontestan dan tim sukses, namun melibatkan oknum KPU hingga pemerintah. Praktik seperti ini rupanya tak pernah lepas dari iklim demokrasi Indonesia. Kita berharap, itu tidak terjadi di Sulsel. Hampir setiap pesta rakyat digelar, kecurangan tersebut selalu terjadi. Modus yang masih sama, yakni semata-mata memenuhi kepuasaan semu dalam bentuk bagi-bagi kaos, uang, dan sembako kepada warga yang bertujuan menyukseskan salah satu paslon. Mungkin ada semacam kesepakatan para calon, kita hanya membagi ide dan gagasan di pilkada kali ini. Setidaknya kita membatasi diri hanya membagi atribut. Tak ada uang tunai dan tak ada lagi sembako. Semua kalangan begitu mengidamkan pesta rakyat kali ini diwarnai antusiasme warga untuk menggunakan hak pilih, tidak golput, dan tetap damai hingga penyelenggaraan pilkada selesai.

**

Sudah saatnya, parpol juga menyodorkan putra terbaiknya. Semua orang berhak dipilih, namun alangkah eloknya jika yang disodorkan adalah mereka yang memiliki rekam-jejak yang mumpuni. Calon yang sudah mengemuka sejak setahun terakhir ini, sudah terbangun jejak kepemimpinannya. Kita bergerak, semuanya mengikuti proses pilkada dengan sebaik-baiknya, termasuk hingga masa kampanye dan hari pemungutan suara. Siapapun dia, harus kita hormati sebagai wujud sikap demokratis kita, dan karenanya para calon dan tim suksesnya, juga harus yakin melakukan semua proses dengan adil dan jujur. Pilihan diserahkan kepada rakyat. Rakyat disodorkan gagasan dan ide serta janji pembangunan Sulsel yang lebih baik. Saatnya menghentikan menyodorkan uang dan sembako yang bisa merusak bangunan integritas kita semua.(**)

Berita Terkait