Fajar


 Breaking News

Perjalanan Panjang Kodam VII/Wirabuana

Kolonel Kav Susanto Staf Ahli Pangdam VII/Wirabuana Bidang Manajemen Sistem Pertahanan Negara


"Pada hari ini, nama Kodam VII/Wirabuana akan berubah menjadi Kodam XIV/Hasanuddin dengan harapan spirit Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional akan melekat kepada jiwa Prajurit“ (Mayjen TNI Agus Surya Bakti, Pangdam VII/Wirabuana)

Keberadaan Kodam VII/Wirabuana yang berdiri pada 1985 tidak terlepas dari perjalanan panjang Kodam XIV/Hasanuddin dan Kodam XIII/Merdeka yang berdiri pada 1957. Kodam XIV/Hasanuddin diresmikan KSAD Mayor Jenderal TNI A.H.Nasution, 1 Juni 1957 di lapangan Hasanuddin Makassar.

Proses penyempurnaan organisasi pada saat itu terus dilakukan menuju modernisasi angkatan darat secara esensial, yang bertujuan memantapkan kekuatan TNI-AD yang kecil, efektif, efisien, serta mampu mengemban tugas pokok TNI AD. Untuk merealisasikan kebutuhan tersebut, pada awal 1985, TNI AD melakukan reorganisasi di lingkungan kompartemen kewilayahan yang didasarkan atas kebutuhan dan hakikat ancaman pada saat itu, serta keberadaan Kowilhan beserta Kodam-kodam terutama di luar Pulau Jawa dianggap tidak efisien dari segi penggunaan dan pemusatan kekuatan.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Kasad Jenderal TNI Rudini melikuidasi Kodam XIII/Merdeka dan Kodam XIV/Hasanuddin menjadi Kodam VII/Wirabuana melalui Surat Keputusan Nomor: Skep/131/11/1985, 12 Februari 1985.

Meskipun Kodam VII/Wirabuana berdiri pada 12 Februari 1985, lembaga ini menetapkan 20 Juni 1950 sebagai hari jadinya. Penetapan hari jadi tersebut didasarkan atas pembentukan Komando Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur, pada 20 Juni 1950.

Kodam VII/Wirabuana sejak diresmikan pada 1985, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan wilayah di Pulau Sulawesi, dari segala bentuk ancaman yang dapat merongrong kedaulatan NKRI, khususnya di wilayah daratan baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Di samping itu, Kodam VII/Wirabuana juga ikut berperan aktif membantu pemerintahan di daerah, dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pembinaan territorial, serta aktif dalam melaksanakan ketertiban dunia yang bergabung dalam satuan tugas Kontingen Garuda di berbagai belahan dunia, guna melaksanakan tugas misi perdamaian dan misi kemanusiaan di bawah PBB.

Ditinjau dari sisi geografis, Pulau Sulawesi terdapat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI II) di sebelah barat dan ALKI III di sebelah timur. Di samping itu, juga memiliki beberapa pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina, dan wilayah perairan di Sulawesi bagian utara juga dapat menjadi pintu gerbang terjadinya berbagai pelanggaran/kerawanan yang dapat mengancam kedaulatan negara. Selanjutnya dihadapkan kepada rentang kendali organisasi, efisiensi, dan efektivitas pembinaan satuan serta performance satuan tempur dan bantuan tempur kurang efektif.

Atas berbagai pertimbangan tersebut, diperlukan kembali penataan gelar satuan Kodam VII/Wirabuana yang lebih modern, efektif, dan efisien agar mampu melaksanakan fungsi TNI sebagai penangkal, penindak, dan pemulih dalam sistem pertahanan negara di Pulau Sulawesi bagian utara.

Setelah melalui kajian panjang guna mewujudkan postur pertahanan aspek darat yang proporsional di Pulau Sulawesi khususnya di bagian utara, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono telah meresmikan beroperasinya kembali Kodam XIII/Merdeka di Manado, Sulawesi Utara pada 20 Desember 2016.

Wilayah pertahanannya meliputi tiga provinsi yaitu; Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Pengaktifan kembali Kodam XIII/Merdeka mengacu pada Perpang TNI Nomor 45 Tahun 2016, 13 Oktober 2016 dan Perkasad Nomor 33 Tahun 2016, 24 Oktober 2016 tentang Pembentukan dan Pengesahan Kodam XIII/Merdeka dan Kodam XVIII/Kasuari.

Dengan diresmikannya Kodam XIII/Merdeka di Manado, maka di pulau Sulawesi terdapat dua Kompartemen strategis, yaitu Kodam XIII/Merdeka dan Kodam VII/Wirabuana sehingga gelar kekuatan pertahanan di Pulau Sulawesi menjadi lebih efektif, efisien, dan modern dalam rangka menjamin kedaulatan NKRI.

Keberadaan Kodam XIII/Merdeka berimplikasi terhadap nama Kodam VII/Wirabuana yang menjadi kurang relevan, karena sejak awal pembentukannya merupakan gabungan dari dua Kodam yang ada di Pulau Sulawesi saat itu.

Nama Wirabuana akan lebih tepat dikembalikan lagi ke muruwah nama sebelumnya yaitu Hasanuddin, dengan maksud mengangkat kearifan lokal dan memunculkan kembali spirit Sultan Hasanuddin sebagai pahlawan nasional di dalam jiwa prajurit. Sultan Hasanuddin merupakan sosok pahlawan nasional yang sangat dikenal gagah berani, sosok pejuang yang tidak kenal menyerah, bahkan atas keberanian dan kegigihannya dalam peperangan dan pertempuran, Belanda memberi julukan sebagai De Haantjes Van Het Oosten yang berarti “ Ayam Jantan dari Timur “. Disamping itu, tidak kalah pentingnya lebih mendekatkan Kodam dengan masyarakat yang dijiwai semangat kepahlawanan Sultan Hasanuddin dalam menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan wilayah khususnya di Sulsel, Sulbar, dan Sultra.

Perubahan nama Kodam VII/Wirabuana menjadi Kodam XIV/Hasanuddin yang didasari Perkasad Nomor 5 Tahun 2017, 13 Maret 2017 dengan sesantinya “Setia hingga akhir“ akan diresmikan Kasad Jenderal TNI Mulyono, Rabu, 12 April 2017 di Lapangan Karebosi Makassar, Sulsel, dengan harapan akan memberi nuansa baru dan membawa kebanggaan tersendiri bagi prajurit dan masyarakat di wilayah Kodam XIV/Hasanuddin, serta menjadi simbol perekat bagi Kodam dan masyarakat dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Semoga nama besar Sultan Hasanuddin akan menjadikan prajurit Kodam XIV/Hasanuddin semakin berprestasi dalam setiap penugasannya serta semakin manunggal dengan rakyat. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE