Fajar


 Breaking News

Brand Religion Military

Bastian Jabir Pattara Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Dosen, Trainer, dan Konsultan Komunikasi

Catatan Kembalinya Kodam XIV/Hasanuddin

Keputusan Markas Besar TNI AD, mengembalikan nama Kodam XIV/Hasanuddin yang membawahi tiga provinsi yakni Sulsel, Sultra, dan Sulbar dari Kodam VII/Wirabuana yang sebelumnya membawahi seluruh kepulauan Sulawesi.

Namun pada akhir Desember 2016 lalu, Kodam XIII/Merdeka terlebih dahulu memisahkan diri, dari Kodam VII/Wirabuana dengan membawahi wilayah Sulut, Gorontalo, dan Sulteng. Keputusan tersebut tentu memberikan semangat baru bagi prajurit setempat untuk berbuat lebih baik bagi rakyat.

Pengembalian nama Kodam XIV/Hasanuddin, merupakan momentum sejarah sekaligus upaya mengembalikan semangat Korps Hasanuddin yang menjadi viral di kalangan anak muda Sulawesi pada tahun 1960 hingga 1980-an, dan sekaligus merupakan kebanggaan anak muda Sulawesi saat itu. Korps Hasanuddin merupakan peristilahan yang menggambarkan kebanggaan atas kiprah, prestasi, dan keberanian para tentara pejuang dan keluarga veteran.

Sebelum 1983, Kodam XIV/Hasanuddin menjadi lambang sekaligus nama pusat pengendali keamanan teritorial empat provinsi di Sulawesi saat itu. Ketokohan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa yang mempunyai kemashuran yang sangat besar, memiliki ciri-ciri perjuangan tanpa pamrih, membela bangsa dan negara, termasuk daerah Sulawesi, dengan harga diri yang tinggi, keberanian, dan semangat pantang menyerah.

Itulah etos kejuangan Hasanuddin, yang terangkum dalam satu kalimat setia hingga akhir yang menjadi slogan Kodam XIV/Hasanuddin, yang juga sering disampaikan Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti dalam berbagai pertemuan. Etos kejuangan bersama kemanunggulan TNI dan Rakyat. TNI sebagai sahabat rakyat, bersama-sama, berdampingan membangun kesejahteraan rakyat. Berupaya untuk memperkecil jurang pemisah, dan menghilangkan jarak pembatas antara TNI dengan rakyat.

Hasanuddin bukan hanya sekedar nama biasa, Hasanuddin merupakan brand religion. Sebuah brand yang dapat menciptakan spirit persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat khususnya masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pusat Markas Kodam XIV/Hasanuddin. Hasanuddin menjadi suatu simbol kepercayaan untuk membangun “ikatan spiritual” dengan masyarakat. Hasanuddin adalah simbol loyalitas untuk berjuang memperkuat bangsa, menjadi negara yang makmur dan berdaulat.

Hasanuddin adalah brand religion military, simbol atau slogan militer yang berusaha mengkomunikasikan pesan-pesan militer dengan pendekatan local wisdom spirit. Pola komunikasi berdasarkan pendekatan tradisi dan adat istiadat setempat atau komunikasi antar budaya, merupakan cara efektif mendekatkan institusi TNI AD secara emosional dengan masyarakat, sehingga institusi TNI menjadi kuat, sesuai slogan TNI selama ini. “Bersama rakyat TNI kuat”.

Untuk bersama rakyat, maka TNI harus memahami tradisi masyarakat setempat, dan melakukan hubungan komunikasi berdasarkan yang masyarakat setempat (komunikan) pahami, bukan hanya berdasarkan keinginan personil TNI (komunikator) semata.

Membuat simbol religi militer memang tidaklah mudah, karena simbol tersebut harus memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Selain itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal. Makanya, selain memperhatikan semangat kearifan lokal. Ada dua hal yang penting untuk diperhatikan dalam menentukan simbol religi militer.

Pertama, simbol yang easy listening. Simbol yang sudah akrab di pendengaran. Kedua, simbol yang easy to say. Simbol yang mudah dituturkan oleh masyarakat setempat, sehingga tidak sulit dalam menyosialisasikan. Tentunya simbol religi militer yang dimaksud adalah simbol yang memberikan pesan positif, pesan-pesan perjuangan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Selain itu perlu dipahami bahwa jantung operasi simbol atau brand adalah integritas dan kredibilitas.

Hasanuddin adalah simbol religi militer yang sangat tepat, selain karena sudah sangat familiar dan mudah diingat oleh masyarakat Sulawesi, juga memiliki semangat perjuangan untuk membela tanah air, dan semangat kesetiaan hingga akhir yang dapat menjadi teladan bagi masyarakat.

Namun perlu diperhatikan karena Hasanuddin merupakan simbol religi militer yang lama. Maka untuk membangkitkan simbol lama menjadi semangat baru untuk personil Kodam XIV/Hasanuddin bersinergi dengan mudah bersama masyarakat. Ada tiga hal yang mesti dilakukan dengan maksimal.

Pertama, program-program yang relevan dengan kehidupan masyarakat dewasa ini. Kedua, masyarakat menjadi pusat perhatian yang dominan dari segala tindakan personel Kodam XIV/Hasanuddin. Ketiga, organisasi atau institusi Kodam XIV/Hasanuddin tetap berorientasi pada tugas pokok TNI AD, menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. (*)

Berita Terkait