Fajar


 Breaking News

Apakah Kebenaran itu

Johana Tangirerung Mahasiswi STT Cipanas


* Sebuah Refleksi Atas Penyaliban Kristus

Kalau ada sesuatu yang paling bernilai dan mahal harganya itu adalah kebenaran.  Orang dapat membeli mobil merek ternama “Rubicon” atau “Ferari” misalnya, tetapi orang tidak dapat membeli dengan utuh sebuah kebenaran.

Ketika para wakil rakyat berdebat  hebat sampai-sampai mengangkat kursi dan saling melempar botol minuman, memperjuangkan nasib rakyat dengan label “kebenaran”, sebenarnya di sana tak tersisa sedikitpun kepentingan rakyat.

Bahkan lebih ironisnya lagi, ketika seorang yang mengaku agamawan berkhotbah tentang kebenaran, di sanapun kerapkali tersembunyi seribu macam kebohongan demi kepentingan diri. Apakah kebenaran itu? Sebuah pertanyaan penting di zaman ini. Bukan saja pertanyaan untuk para pemimpin negeri ini,  tetapi pertanyaan untuk setiap manusia.

Pertanyaan ini  juga lahir dari sebuah proses diskusi dan pengadilan panjang para Imam, Ahli Taurat, dan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Perjalanan panjang diskusi dan pengadilan terhadap Yesus berlangsung begitu alot dan menyita energi, mulai dari tua-tua orang Yahudi, Ahli Taurat, orang Farisi, dan berakhir di tangan Pilatus, sebagai gubernur dan penguasa tertinggi di daerah itu. Terlihat jelas dalam kisah (Matius 27) bagaimana Pilatus sebenarnya begitu bergumul untuk  mengabaikan sebuah fakta “kebenaran” dalam diri Yesus.

Sebuah fakta Yesus adalah Anak Allah dan Raja atas kehidupan seluruh umat manusia. Dan menariknya, pengakuannya bahwa ia tidak menemui kesalahan sedikitpun padanya, sedikit banyak dipengaruhi sebuah pesan dari sang istri, yang dalam Matius 27:19 diceritakan dengan jelas peran istri Pilatus dengan pesannya, ”jangan engkau mencampurai perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam”.

Ketika kebenaran mengetuk pintu hati berhadapan dengan realitas ketidakbenaran, maka sesungguhnya di sanalah iman diuji. Ketika tuduhan terhadap Yesus semakin tak terkedali, Pilatus yang sebenarnya sedang bergumul telah melihat kebenaran dalam diri Yesus mulai ragu. Alkitab mencatat serangkaian keputusan yang didasarkan atas keragu-raguannya.

Ia mengirim Yesus ke Herodes (Lukas 23:7), dengan alasan Yesus berasal dari Yerusalem yang tidak lain merupakan wilayah kekuasaan Herodes. Mungkin Pilatus berpikir dalam hati, “daripada saya yang harus bertanggung jawab, mending Herodes Yerusalem”. Terlihat jelas Pilatus  berusaha mati-matian lepas dari tanggung jawab. Saling melempar tanggung jawab. Akan tetapi akhirnya Yesus diperhadapkan kembali kepada Pilatus.

Tidak habis akal, Pilatus mencoba mengembalikan Yesus kepada orang Yahudi, terutama imam besar yang menangkap-Nya. “Kalian yang menangkapnya, kalian dong yang mengadili sesuai Hukum Taurat kalian, kan gitu, kata Pilatus”. Tetapi orang Yahudi juga menolak untuk bertanggung jawab dengan bekata, ”kami tidak diperbolehkan membunuh orang, (hukum ke-6)”. Pilatus semakin terpojok. Di satu sisi, ia tidak menemukan kesalahan dalam diri Yesus, tetapi di sisi lain ia terpojok oleh semakin derasnya desakan baik dari kalangan Yahudi, imam besar maupun rakyat banyak untuk menghukum Yesus.

Pertanyaan, “apakah kebenaran?” Tidak dapat menjadi alasan menangkap Yesus karena di dalam diri Yesus ada kebenaran dan Pilatus tahu itu. Pilatus keluar dan mengatakan, “aku tak mendapatkan kesalahan apapun pada-Nya”.  Satu-satunya pertanyaan politis “apakah Engkau Raja orang Yahudi?” Menjadi senjata pemungkas untuk menangkap Yesus. Ada kebiasaan di kalangan orang Yahudi bahwa pada perayaan paskah seorang tahanan bisa dibebaskan. Pilatus menawarkan solusi  “maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?” Tetapi mereka berteriak, “Jangan Dia, melainkan Barabas!” Sesudah itu Pilatus merasa lega, bahwa keputusan untuk membunuh Yesus bukan dari dirinya, tetapi dari orang banyak. Ia pun berkata, ”aku membawa Dia keluar kepada kamu, supaya kamu tahu bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya”. Bayangkan bagaimana Pilatus berusaha melepaskan diri dari tindakan hukuman mati terhadap Yesus yang ia tahu tidak bersalah.

Melihat kebenaran apalagi menyangka diri benar belum berarti berlaku atau bertindak benar. Banyak orang berpikir ketika ia melihat kebanaran, ia telah melakukan kebenaran atau bertindak benar. Pilatus mungkin bisa cuci tangan dan menyatakan bersih di hadapan orang banyak, tetapi hatinya tidak bisa bersih hanya dengan mencuci tangan.

Tangan yang bersih saja belum cukup, tetapi hati yang murni menjadi syarat mutlak mengaku, menerima, dan melakukan kebenaran Allah. Mazmur 24:3-5 mengatakan, “siapakah yang yang boleh naik ke gunung Tuhan dan berdiri di tempat-Nya yang Kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya pada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu, dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah yang menyelamatkannya”.

Bagaimana akhir hidup Pilatus? Konon kabarnya, ketika pension, Pilatus ingin menikmati masa pensiunnya di sebuah pegunungan di sekitar Alpen, Swiss sekarang. Sayangnya ia sama sekali tidak menikmatinya. Sepanjang akhir hidupnya malah gelisah dan setiap hari mencuci tangannya sambil berkata, “aku tidak bersalah...!” Akhirnya Pilatus gila dan mati. Pegunungan itu sekarang di sebut “Gunung Pilatus” dan ramai dikunjungi wisatawan. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE