Fajar


 Breaking News

UNBK Pantaskah Diterapkan

Andi Rosnawatih Pemerhati Masalah Pendidikan

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM), khususnya generasi muda yang masih mengenyam pendidikan di sekolah, berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mencari solusi dalam mengembangkan SDM itu. Wajarlah kalau setiap masa akhir tahun ajaran dikenal ujian akhir sehingga seluruh siswa mengikuti ujian tersebut.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pun sudah dilaksanakan di tanah air dan khususnya di Sulsel, meski tidak seluruh sekolah dapat mengikutinya lantaran masih banyak kendala yang dihadapi.

Akan tetapi, ada pula sekolah yang memaksakan pelaksanaan ujian tersebut dengan berbagai cara yaitu, meminjam komputer pada sekolah lain yang belum sempat melaksanakan UNBK, sehingga ini juga terkesan dipaksakan, padahal seharusnya tidak perlu adanya pinjaman untuk pelaksanaan tersebut, karena sekolah yang mengikuti UNBK sudah dianggap siap. Akan tetapi kenyataan di lapangan tidak seperti itu. Malah justru merepotkan diri sendiri lantaran memakai barang orang lain.

Meski diakui, keinginan pemerintah setiap tahunnya harus ada peningkatan lulusan setiap sekolah sehingga inovasi selalu muncul, guna meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan setiap siswa di tanah air. Namun perlu diketahui, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang terletak jauh dari ibu kota, sehingga materi pelajaran tidak bisa disamakan dengan yang berada di kota besar.

Jangankan di daerah pelosok, di kota besar saja masih ada sekolah yang belum siap untuk melaksanakan UNBK, karena keterbatsan sarana dan prasana. Di samping siswanya juga ada belum siap karena menggunakan komputer. Hal tersebut harusnya dicermati penentu kebijakan dalam menerapkan kebijakan ini.

Apalagi sekolah yang masih jauh dari kota, tentunya ini merupakan salah satu kendala yang harus diperbaiki secara keseluruhan baru dilangsungkan pelaksanaan UNBK secara serentak. Jadi sekarang ini sebagian sekolah sudah melaksanakannya, tapi itu juga sudah terjadi pemetaan dengan sendirinya kelulusan antara yang mengikuti UNBK dan tidak mengikuti bisa menjadi kesenjangan bagi siswa itu sendiri, di mana dapat menimbulkan berbagai tanggapan atau tidak seragamnya kelulusan bagi siswa. Sebab pasti berbeda yang mengikuti UNBK dan yang ujian biasa atau manual, sehingga ke depan pemerintah tidaklah tergesah-gesah melakukan atau menerapkan kebijakan  ujian yang selalu menggunakan model baru.

Melihat kenyataan ini, selama beberapa tahun selalu muncul persoalan baru tentang pelaksanaan ujian akhir (nasional) bagi siswa SMK dan SMA. Pikiran dan tenaga selalu tertuju di seputar ujian nasional tersebut. Sebab setiap tahunnya selalu berganti format yang terkesan tidak tuntas, walapun tujuan pemerintah ingin meningkatkan kualitas dan mutu kelulusan siswa di seluruh Indonesia.

Kalau memang mau melakukan perubahan, harusnya siap betul mulai dari perangkat kebutuhan UNBK, terkhusus instasi terkait harus siap seperti ketersediaan listrik dan jaringan internet yang tidak boleh putus. Sebab kalau itu terjadi, peserta ujian akan terganggu. Belum lagi siswanya yang masih belum menguasai komputer.

Kalau persiapan asal jadi, lihat sekarang apa yang terjadi di lapangan. Banyak menyita waktu dan tenaga mengurus dan pontang panting meminjam kiri kanan komputer bagi sekolah yang melakasanakan UNBK. Hal ini juga menambah biaya ekstra bagi sekolah.

Jadi UNBK pantaskah diterapkan kalau masih begini kejadiannya. Pemerintah harusnya berpikir jangan terlalu jauh jika belum siap benar dalam melakukan berbagai inovasi hanya untuk meningkatkan reputasinya. Kalau mau menerapkan kebijakan, jauh hari harus sudah dipikirkan dan anggaran harus disiapkan.

Kalau melaksanakan setengah-setengah apa jadinya kalau sudah terjadi seperti sekarang ini, banyak sekolah keteter atau terjadi kendala dalam melakanakan UNBK ini. Semoga ini menjadi pemikiran bagi penentu kebijakan untuk menerapkannya. (*)

Berita Terkait