Fajar


 Breaking News

Hukuman Ringan, Pemerhati Perempuan Minta Terdakwa Dipecat dari Anggota Polri

Martina

FAJARONLINE.COM, WATAMPONE -- Putusan vonis kepada terdakwa kasus pembunuhan terhadap kekasih yang menyeret oknum anggota Polri, Bripda Muhlis (26), yakni empat tahun oleh Hakim Ketua Panji Prahistoriawan Prasetyo, dinilai ringan oleh Pemerhati Anak dan Perempuan Kabupaten Bone, Martina Majid.

"Vonisnya masih ringan. Kurang memihak kepada korban. Harusnya terdakwa dihukum maksimal dan sanksi pemecatan. Karena sudah menghilangkan nyawa orang dan juga merusak citra petugas (aparat Polri)," papar Martina, Selasa (18/4/2017).

Hukuman yang dijatuhkan majelis hakim kepada Bripda Muhlis lebih ringan delapan tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, yakni 12 tahun penjara.

Bagi majelis hakim, Bripda Muhlis disangkakan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian bukan dikehendaki.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Adnan Hamzah berujar, pihaknya masih pikir-pikir akan menempuh jalur banding atas putusan vonis yang dibacakan majelis hakim terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan Bripda Muhlis.

"Keputusan ini belum inkra. Pandangan kami bahwa terdakwa terjerat Pasal 338 tentang pembunuhan yang dikehendaki. Makanya kita tuntut 12 tahun penjara itu sudah termasuk meringankan dibanding 15 tahun karena yang bersangkutan cooperatif selama persidangan," jelas Adnan.

Namun demikian, pandangan majelis hakim berbeda dengan JPU. "Majelis hakim memberikan pandangan bahwa terdakwa melanggar pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan mengakibatkan mati bukan dikehendaki. Padahal, Muhlis sebagai oknum aparat tentunya dia paham tentang kematian Harmawati," tambahnya.

Nama Bripda Muhlis menghangat di publik setelah kasus yang menjeratnya, yakni tega menghabisi nyawa kekasihnya yang merupakan calon bidan, Harmawati, di kampung terdakwa, Dusun Tappareng, Desa Lappa Bosse, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, 15 Agustus 2016 lalu. (smd)

Berita Terkait