Fajar


 Breaking News

Ekonomi Indonesia dalam Tempurung Global

Nursalam Alumni Universitas Negeri Makassar dan Penerima Beasiswa LPDP di Universitas Negeri Malang

Masalah ekonomi Indonesia sudah terlalu ruwet dan ribet, tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara konvensional. Harus dengan terobosan-terobosan. (Rizal Ramli, ahli ekonomi)

Gagasan konseptual yang disampaikan Rizal Ramli dapat menjadi cambuk semangat buat pemerintah, dalam membawa ekonomi Indonesia keluar dari cangkang ekonomi dunia yang tendensius. Indonesia perlu membentengi diri dengan memperkuat ekonominya demi menjaga harkat dan martabatnya. Indonesia harus bangkit dalam keterpurukan ekonomi sebagai bangsa yang kuat, dan tidak menggantungkan harapan di bawah ketiak negara asing.

Situasi geopolitik dunia yang tak menentu memaksa ekonomi Indonesia berada dalam tempurung global. Arah kebijakan pemerintah yang canggung masih berkiblat kepada pusat desentralisasi perekonomian dunia yaitu, Amerika Serikat. Sehingga, laju ekonomi Indonesia mengikuti perkembangan Federal Reserve System (Federal Reserve, atau secara informal The Fed) bank sentral AS.

Dan ketika terjadi penurunan harga dolar Amerika,t entu membuat situasi ekonomi Indonesia tidak kondusif. Hal inilah yang membuat masyarakat bingung dalam ketidakpastian laju ekonomi Indonesia. Sehingga, tak mengherankan ketika presiden secara berkala menaikkan dan menurunkan harga BBM.

Ketidakmampuan Indonesia saat ini mengintervensi ekonomi dunia menjadikannya sasaran dalam pasar global. Meskipun, Indonesia dikenal sebagai negara kaya dengan sumber daya alamnya. Namun, masyarakatnya tumbuh menjadi konsumen produk asing. Mulai dari bahan pangan, perabotan rumah tangga, hingga barang-barang elektronik. Sementara ekspor Indonesia mengalami penurunan drastis dan tingginya impor dari luar negeri.

Sehingga, tak aneh ketika dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan dengan produk asing khususnya dari Tiongkok. Hal tersebut juga telah dibenarkan Sri Mulyani (Menteri Keuangan RI), sindonews.com 23 Maret 2017, bahwa komoditas ekspor Indonesia mengalami penurunan karena lingkungan ekonomi regional dan global masih belum pulih. Tentu hal ini berdampak menurunnya neraca perdagangan.

Pergerakan pertumbuhan ekonomi harus mendapat dukungan semua elemen. Karena, saat ini ada dua tantangan ekonomi yang harus dihadapi perekonomian Indonesia yaitu tantangan global dan domestik. Tantangan global yaitu tidak menentunya pasar keuangan global.

Amerika sebagai motor perekonomian global masih belum memiliki prospek kuat dalam memperbaiki perekonomiannya. Selain itu, pemerintahan baru dengan kebijakan ekonomi yang diterapkan Donald Trump yang akan memutus kerja sama dengan sejumlah negara yang tidak memberikan dampak terhadap perekonomian Amerika, dinilai dapat mengubah laju pertumbuhan sejumlah negara termasuk Indonesia.

Tantangan domestik pun menjadi sebuah problematika di Indonesia yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan perekonomian, seperti ketahanan pangan, energi, dan air. Ketahanan pangan Indonesia selalu menjadi sorotan karena persediaan beras Indonesia belum memadai sehingga masih memerlukan ekspor dalam skala besar dari Thailand dan Vietnam.

Lemahnya ketahanan pangan Indonesia disebabkan semakin menipisnya lahan pertanian masyarakat yang terus diramba menjadi bangunan perumahan, ruang administrasi pemerintahan, dan pusat perbelanjaan. Sehingga, hal ini berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah persediaan pangan Indonesia.

Kemudian ketahanan energi Indonesia juga menjadi problematika dalam memacu perkembangan perekonomian. Karena, ketidakmampuan mengembangkan sumber energi yang lain, dan hanya bertumpu pada sumber energi minyak bumi. Hal tersebut membuat laju kebutuhan energi pun tidak sama dengan ketersediaan energi. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar pemerintah sampai menarik subsidi listrik kepada masyarakat.

Persaingan dalam ekonomi global saat ini hanya membuat Indonesia terpejam menyaksikan kemajuan negara-negara ASEAN seperti, Singapura dan Thailand. Indonesia terlalu disibukkan dinamika politiknya yang berkepanjangan. Sehingga, para pejabat dan pemimpin negeri ini lupa cara membangun ekonomi menjadi kuat.

Mereka hanya sibuk memperkaya diri masing-masing. Saat ini kita disuguhkan kasus mega korupsi proyek KTP-el yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara dengan nilai triliunan rupiah. Kasus ini berdampak secara ekonomi dengan mahalnya harga jasa dan pelayanan publik. Karena, harga yang diterapkan harus menutupi kerugian pelaku ekonomi akibat besarnya modal yang dilakukan karena penyelewengan tindak korupsi.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah untuk membawa ekonomi lebih mandiri dan mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Yaitu, meningkatkan kualitas produksi Indonesia dalam berbagai hal, sehingga dapat meningkatkan ekspor, mengurangi ekspor dari luar negeri dan mengutamakan produk dalam negeri, serta pemerintah harus memperbaiki kebijakan dagang baik dalam negeri maupun luar negeri.

Melalui kebijakan tersebut, Indonesia mampu bersaing kompetitif secara global. Hingga, akhirnya Indonesia akan lebih mandiri dalam membangun ekonominya. Dan akan keluar dari cangkang dan tempurung ekonomi global. Majulah tanah airku, Indonesia. (*)

Berita Terkait