Fajar


 Breaking News

Belajar dari Kekalahan Ahok

Edi Abdullah Widyaiswara Muda PKP2A II LAN

Hasil quick count sementara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan menang versi penghitungan cepat lembaga survei. Pasangan ini mengungguli pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Seperti umumnya, hasil quick count lembaga survei tidak akan jauh berbeda dengan hasil rekapitulasi KPU. Kekalahan petahana, Ahok tentunya menarik kita simak beberapa hal, seperti sebelum pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta dilaksanakan, hampir seluruh lembaga survei mengunggulkan Ahok. Prediksi elektabilitas tinggi tersebut membuat Ahok lupa tmenjaga ucapan dan kata-katanya.

Kasus Al-Maidah merupakan momok terbesar yang membuat popularitas Ahok langsung menurun. Ketidakmampuan Ahok mengendalikan diri dari ucapannya merupakan kelemahan terbesarnya, dan kelemahan inilah menjadi celah lawan politiknya menyerang Ahok.

Dan ucapan-ucapan Ahok pulalah yang membuat sebagian masyarakat DKI Jakarta berpaling hati ke pasangan Anies-Sandi. Masyarakat DKI Jakarta menginginkan pemimpin baru yang lebih mampu menjaga sikap tanduknya, sebagai seorang leader yang akan menjadi teladan bagi masyarakat.

Penyumbang lain kekalahan Ahok adalah berbagai kebijakannya yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat, seperti penggusuran yang kadang dilakukannya dengan alasan penataan kota, namun kebijakan yang tidak populis inilah yang membuat masyarakat akhirnya memilih pasangan Anies-Sandi. Belum lagi kasus reklamasi pantai juga turut andil membuat suara Ahok semakin merosot.

Kemampuan berdebat serta mengelola kata dan kalimat memang sebuah kompetensi tertentu yang harus dimiliki seorang paslon kepala daerah, guna mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya.

Kompetensi komunikasi dalam debat tentunya harus dikuasai, karena debat mampu menarik perhatian masyarakat sebagai pertimbangan memutuskan pasangan yang dipilihnya, apalagi jika debat tersebut disiarkan secara live. Inilah senjata Anies yang selalu unggul di setiap debat, tutur kata yang lembut dan sopan, akhirnya mampu menarik simpati masyarakat.

Menjadi pemimpin yang sangat dibutuhkan bukan hanya niat semata, akan tetapi implementasi dari niat yakni tindakan. Dalam ilmu kepemimpinan, secara umum digambarkan sebagai kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain, sehingga bertindak sesuai keinginan untuk mencapai tujuan. Inilah inti sebuah kepemimpinan yaitu pengaruh. Tanpa pengaruh, maka kepemimpinan menjadi tidak efektif.

Menanamkan pengaruh tidak bisa lepas dari style kepemimpinan, dan tentuya untuk menanamkan pengaruh maka pemimpin harus memberikan contoh, dalam arti pemimpin itu harus mampu memberikan keteladanan.

Jika pemimpin mengarahkan orang yang dipimpinnya tidak korupsi, maka dia harus mampu menjadi sosok yang tidak korupsi. Kapan ucapan tidak sesuai dengan perbuatan, di situlah akhir perjalanan karier seorang pemimpin, karena ucapan dan perbuatan seorang pemimpin harus sejalan.

Siapapun yang menang maka orang tersebut adalah pemimpin yang dipilih mayoritas masyarakat. Pilihan masyarakat tentunya merupakan hak yang dijamin konstitusi dalam berdemokrasi. Kemenangan seseorang dalam pilkada merupakan pengejawantahan suara rakyat, suara tuhan yang harus dihormati.

Bagi pasangan yang menang dalam pilkada, tentunya harus berterima kasih kepada masyarakat dan mesin partai politiknya, dan tak lupa harus mampu merangkul kembali pasangan yang kalah untuk bersama-sama membangun daerah yang dipimpinnya, membangun komunikasi, konsolidasi dengan paslon yang kalah akan mampu meredam gejolak yang mungkin timbul di tengah masyarakat pasca pilkada.

Bagi pasangan yang kalah, tentunya hal ini bukan merupakan akhir dari perjalanan kariernya. Kemampuan menerima kekalahan merupakan sikap seorang ksatria.

Siap menang, siap kalah merupakan komitmen yang harus dijunjung tinggi, dengan hati yang lapang dan ikhlas, maka beratnya beban kekalahan dalam pilkada yang sudah menguras energi dan biaya, akan mampu membuat seseorang tetap berdiri dengan kepala tegak, dan kekalahan jangan dianggap sebagai kegagalan, akan tetapi jadikan sebagai cambuk untuk lebih sukses lagi di pilkada mendatang.

Mengabdikan diri kepada bangsa dan masyarakat bukan hanya bisa didapatkan dari jabatan kepala daerah, tetapi masih banyak lagi cara yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

Ingat gagal dan sukses seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, semakin banyak mengalami kegagalan, maka semakin dekat dengan kesuksesan. Karena itu, seorang pemimpin harus mampu mengendalikan sikap dan perbuatannya, sikap akan senantiasa ditonton publik. Karena itu, jaga senantiasa reputasi, kehilangan reputasi maka kita akan kehilangan segala-galanya. (*)

Berita Terkait