Fajar


 Breaking News

Rumah Perempuan Veteran Terancam Dirampas Kodam, Begini Kisahnya

FOTO: MARKASA RANI/FAJAR

FAJARONLINE.COM, MAKASSAR -- Andi Norma Batari (87) merupakan salah satu veteran Sulsel yang masih hidup hingga saat ini.

Saat terakhir FAJAR berkunjung di kediamannya di Jalan Lagaligo kemarin, ia tampak masih sehat bugar. Hanya saja, dia sedikit mengeluh pada bagian lutut. Ia sempat terjatuh saat hujan di halaman rumah kecilnya.

Andi Norma Batari menceritakan pengalamannya kepada FAJAR. Salah satu lulusan sekolah Sihan Gakko, didikan Jepang di Makassar itu tidak membuat Andi Norma Batari melupakan cita-citanya menggerakkan kaum wanita ikut berjuang di era reformasi.

Perempuan yang lahir 23 November 1930 ini sejak kecil hidup tanpa ayah. Ia dan ketiga saudaranya hanya diasuh oleh ibunya. Ayahnya meninggal saat umurnya masih tiga bulan. Pada tahun 1940-an ia masuk ke sekolah milik Jepang, Sihan Gakko di Makassar. Selain belajar menjadi guru, mereka juga dilatih menjadi tentara. Memegang senjata dan belajar taktik.

Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki dibom menggunakan bom atom oleh Amerika Serikat (AS). Saat peristiwa itu terjadi, berpengaruh pada kedudukan Jepang di Makassar. Mengakibatkan sekolah bentukan Jepang ditutup. Beruntung kejadian itu tiga bulan setelah Andi Batari, sapaan Andi Norma Batari lulus.

Karena kejadian itu, komunikasi lulusan Sihan Gakko dengan Jepang ikut terputus. Setelah itu Andi Batari dan teman- temannya mendaftar sebagai tentara cadangan atau istilah sekarang sukarela.

"Jadi tahun 1945 semua sekolah Jepang dibubarkan. Kami bergabung dengan teman- teman yang kami sepakati. Karena memang pernah Presiden Soekarno mengumpulkan murid- murid dari Jepang untuk menaikkan bendera pertama di Makassar pada tahun 1944. Tetapi bendera merah putih berada di bawah bendera Jepang karena pada saat itu belum merdeka," ungkapnya, ditemui di kediamannya di Jalan Lagaligo, Kecamatan Ujung Pandang.

Lanjut perempuan 87 tahun tersebut, saat 1946 ia dan teman-temannya mulai tercerai berai. Dari yang dulunya komunikasi melalui surat. Ia lalu masuk ke Palang Merah sebagai tempat persembunyian. Pasalnya saat itu terjadi peristiwa korban 40.000 jiwa yang dilakukan oleh pasukan Westerling, Belanda. Dimana pasukan masih menyasar untuk mencari mereka.

Saat kemerdekaan ia memilih bergabung dengan teman- temannya. Di antaranya Usman Salim, Jafar, Abu Bakar, dan teman-teman dari kabupaten lainnya. Saat itu juga sudah banyak yang mulai ditangkap dan dibuang ke Nusa Kambangan.

Setelah masa penyisiran selesai, ia lalu mendapat tugas sebagai ekspedisi. Atau saat itu sebagai pengantar surat masuk ke penjara Hogepad Jalan Ahmad Yani. Berita dari sana saya bawa penjara secara sembunyi- sembunyi," tuturnya.

Saat itu, sebagai salah satu wanita tomboy ia kerap melakukan penyamaran sebagai pria, ikut masuk dengan pengunjung ke penjara. Hal tersebut dilakukan setiap seminggu sekali pada hari minggu dan tidak pernah tertangkap.

"Salah satunya surat untuk Arifin Nu'Mang (Kol. Purn. Arifin Nu'mang). Dia salah satu kunci perjuangan. Saya dipercaya karena memang saya sudah dikenal," ungkapnya sambil memperlihatkan foto-fotonya.

Pada tahun 1946 ia juga hampir mati. Saat terjadi tembak menembak ia berada ditengah pertempuran, sempat terkena peluru. Beruntung hanya tergores dibagian ketiak. Ia bahkan hampir mengirah mati pada saat itu.

Pada 1 Juni 1947 ia lalu di jodohkan dengan suaminya Ince Abdul Makmur seorang pegawai PLN milik Belanda pada zaman itu. Ia mengaku saat itu ia dan suami tidak pernah satu pemikiran. Ia yang ingin terus berjuang sementara suami hanya pasrah menjadi pegawai biasa. Bahkan saudara kembarnya Andi Nurhayati memilih menjadi orang biasa saja mengurus orangtuanya lalu menikah dengan keluarga Raja di Bantaeng. Sebelum menikah Andi Norma memilih meninggalkan keluarga demi keselamatan keluarganya.

Pada tahun- tahun pertamanya, ia mengaku suaminya tidak mengetahui pekerjaannya sebagai pejuang kemerdekaan. Bahkan tugas mengantar surat dan melakukan rapat di rumah, ia lakukan saat sang suami berangkat kerja.

"Jadi nanti suami pergi kerja, teman- teman baru datang kerumah rapat di Jalan Anuang. Suami tidak tau saya sebagai pejuang karena kakakku bilang jangan beritahukan suami karena kita tidak tau apakah dia merah putih atau bukan karena dulu bekerja di PLN milik Belanda," ingatnya.

Tapi rahasianya tidak berlangsung lama, karena pada peristiwa 5 Agustus 1950 atau dikenal peristiwa Andi Azis banyak rumah yang dibakar. Termasuk rumah miliknya di Jalan Anuang. Seluruh rumah yang ada di daerah tersebut dibakar. Hal tersebut karena daerah teresebut menjadi salah satu markas tempat berkumpul termasuk pejuang dari daerah.

"Saat itu saya, suami dan satu anak saya melarikan diri ke Jalan Vetran yang dulu dikenal Jalan kereta api. Kita menyebrang tengah malam hingga batas kota," tuturnya.

Beruntung tahun 1950 sudah dikenal namanya pemerintahan Indonesia. Ia diberikan rumah pengganti rumah pribadinya yang dibakar. Ia dan beberapa orang lainnya mendapat rumah di Jalan Chairil Anwar No.21 A dari pemerintah. Di mana sekarang jalan tempat tersebut menjadi Gedung Balai Manunggal Jenderal M Jusuf. Setelah masa itu, ia memilih menjadi guru bahkan menjadi pengawas dibidang pendidikan.

"Dulu tempat itu dikasih pemerintah karena mereka tahu kalau kita sisa-sia pejuang. Tapi pada tahun 1981 kami diminta pindah dari Jalan Chairil Anwar. Karena akan dibangun gedung milik Kodam. Lalu saya dan lainnya dipindahkan lagi dan diberikan rumah gubuk di Jalan Lagaligo yang sekarang saya tempati. Tetapi sekarang malah orang Kodam mengklaim ini adalah tanah negara kami diminta pindah," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Padahal saya dari tahun 1981-2017 membayar PBB. Saya sudah coba mendatangi Kodam untuk bertemu Pangdam tapi tidak diberikan kesempatan. Saat itu kami tidak diberi sertifikat hanya lisan," tutur mantan Komisaris Golkar Kota Madya Ujung Pandang ini.

Kini perempuan sembilan anak ini berharap Kodam VII Wirabuana yang kini berganti Kodam XIV/ Hasanuddin tidak mengambil rumahnya dengan alasan milik negara. Sementara itu adalah pengganti rumah miliknya yang diambil.

"Saya tidak akan menyerah. Di rumah ini saya mendidik anak-anak saya. Apa ini balasan dari perjuangan kami. Tentara tidak akan jadi seperti ini tanpa guru dan pejuang dulu. Sampai matipun saya tidak akan memberikan rumah ini," tutupnya. (ksa)

Berita Terkait