Fajar


 Breaking News

Sedih Tertimpa Musibah, Inilah Obat Paling Mujarab dalam Alquran



FAJARONLINE.COM - Saat ditimpa musibah, seseorang kadang merasa terhina. Padahal, di balik itu selalu ada hikmah. Justru musibah itu berdampak baik bagi seseorang, sebagaimana banyak diterangkan dalam Alquran.


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Dan boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah: 216).

Ayat ini sangat berkaitan erat dengan salah satu ushul/pokok keimanan yaitu iman terhadap qadha dan qadar Allah ta’ala. Makna ayat yang umum ini, diperinci lagi oleh ayat 19 Surat An-Nisa ayat فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا :19

”Jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang baik padanya”.

Seringkali seseorang yang ditimpa suatu musibah atau hal yang ia tidak sukai berupa rasa sakit atau kesedihan, iapun menyangka bahwa musibah ini merupakan pemutus harapan dan cita-cita hidupnya. Namun, ternyata pada suatu saat musibah ini berubah menjadi sesuatu yang baik tanpa disangka-sangka.

Sebaliknya, betapa banyak manusia melakukan sesuatu yang secara tampak merupakan kebaikan, bahkan kadang rela mengorbankan semua yang dimiliki demi mendapatkan kebaikan yang ia harapkan tersebut. Namun, ternyata kebaikan yang ia kejar tersebut seketika berubah menjadi suatu musibah dan keburukan.

Di antara kisah-kisah Alquran yang menjelaskan penerapan kaidah mulia ini adalah:

1.Kisah Ibunda Nabi Musa yang membuang beliau ke sungai. Perkara yang sangat membuat Ibu Musa bersedih, adalah ketika Nabi Musa didapat oleh Fir’aun. Namun berkat rahmat Allah dan kesabarannya, perkara yang ia tidak sukai ini membuahkan hasil yang lebih baik, dan pengaruh positif dalam masa depan Nabi Musa ‘alaihissalam ,bahkan masa depan seluruh Bani Israil. Inilah rahasia Allah, ketika menempatkan lafaz : “…Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. setelah penyebutan kaedah diatas.

2.Kisah pembuangan Yusuf ‘alaihissalaam yang kemudian memiliki dampak positif bagi kehidupan beliau dan seluruh keluarganya kelak. 3.Renungan ayat 80-81 Surat Al Kahfi, ketika Al-Khadhir membunuh seorang anak muda –atas perintah Allah- ,beliau menyebutkan bahwa alasan pembunuhannya adalah:

”Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orangtuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orangtuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian Kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu, dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).“

Hendaknya, seorang hamba yang tidak memiliki anak, menghayati dan merenungi ayat ini, bukan hanya untuk menghilangkan kesedihannya, namun demi untuk menenangkan dan menentramkan jiwanya. Betapa baiknya, jika ia memandang takdir ini dari sisi rahmat dan nikmat Allah ta’ala, dan meyakini bahwa mungkin Allah menakdirkan hal ini atas dirinya sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap dirinya. Mungkin saja, jika ia dikaruniai seorang anak, ia akan menjadi sebab penderitaan kedua orangtuanya baik didunia maupun diakhirat.

Dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, terdapat banyak contoh dalam perkara ini. Simaklah kisah Ummu Salamah radhiyallahu’anha ketika suaminya “Abu Salamah” wafat. Ummu Salamah berkata : “Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu ia membaca apa yang Allah perintahkan padanya : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ, اَللَّهُمَّ أَجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami kembali, Ya Allah, berikanlah aku pahala atas musibah ini, dan gantikanlah ia dengan yang lebih baik “ Niscaya Allah akan menggantikan baginya perkara yang lebih baik. Ummu Salamah melanjutkan : “ketika Abu Salamah wafat (sayapun membaca doa ini), dan saya bergumam ; “siapakah dari kalangan muslim (yang akan mengganti Abu Salamah) yang lebih baik dari Abu Salamah ? Padahal keluarganya adalah orang yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Lalu sayapun membaca doa ini, sehingga Allahpun menggantikan dirinya dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (yang menikahiku) “ (HR Muslim : 918).

Renungkanlah kisah ini, ketika ditimpa musibah, Ummu Salamah langsung menerapkan apa yang diperintahkan Allah yaitu berupa kesabaran dan membaca doa istirja’ ,sehingga Allah-pun menggantikan untuknya suatu nikmat yang belum pernah ia angankan. Beginilah seharusnya seorang muslimah bersikap, janganlah menyempitkan lapangnya kebahagiaannya, atau hanya membatasinya pada suatu hal tertentu. (wi/fajaronline.com)


Dikutip dari kitab Al-Qawaa’id Al-Qur-aniyyah karya Syaikh Dr Umar Al-Muqbil (Dosen Hadis Fakultas Syariah, Universitas Qasim, KSA)

 

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE