Fajar


 Breaking News

Wanita Karier Tertuntun Agama

Ilyas Alimuddin Dosen STISIP Muhammadiyah Sinjai


Begitu cepat berlalu, tak terasa Hari Kartini kembali menyapa. Hari yang begitu spesial bagi kaum wanita. Lebih spesial lagi karena tahun ini jatuh atau bertepatan dengan Jumat, hari yang begitu istimewa bagi umat Islam. Agama yang dianut mayoritas penduduk di negeri ini termasuk kaum wanitanya.

BEGITU  besar jasa R.A. Kartini dalam memperjuangkan agar kaum wanita juga mendapat pendidikan seperti yang didapatkan kaum pria. Tuntutan ini butuh perjuangan yang luar biasa, mengingat kultur masyarakat kolonial saat itu menempatkan kaum wanita sebagai masyarakat kelas dua. Di sini jelas terlihat masyarakat kolonial yang sebenarnya mengekang wanita. Bukan agama, lebih-lebih Islam, seperti banyak yang dituduhkan.

Perjuangan R.A Kartini agar perempuan mendapat akses pendidikan yang layak bukan tanpa sebab. Lahir dari kesadaran bahwa wanita punya peran yang sangat sentral dalam kehidupan keluarga secara khusus dan bernegara dalam lingkup lebih luas. Generasi emas hanya akan lahir dari wanita yang punya pendidikan berkualitas. Karena itu, mutlak adanya wanita yang memiliki pendidikan yang berkualitas.

Pencermatan beliau terhadap kondisi masyarakat di zamannya di mana wanita tak memiliki pengetahuan yang mumpuni, tak memiliki kecakapan dalam mengatur rumah tanggga dan tak mampu mendidik generasi terbaik disebabkan rendahnya kualitas pendidikannya. Oleh karena itu, R.A Kartini mendorong wanita harus pintar. Tak bisa ditawar lagi.

Pemikiran R.A Kartini agar wanita diberikan pendidikan yang layak dapat ditelusuri dari tulisan atau surat-surat beliau. Sebagaimana diungkapkan Suparman Sumahamijaya (1980:86): “Sesungguhya Ibu Kartini telah merintis pendidikan mandiri bagi wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak sekitar tahun 1893. Hal ini dapat kita buktikan dari hampir semua tulisan Ibu Kartini yang termuat di dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dengan judul Door Duisternis Tot Licht, hampir setiap halaman surat-suratnya penuh dengan kata-kata perlunya pengembangan watak di atas pendidikan otak, karena dengan pembentukan watak, Ibu Kartini yakin manusia akan lebih mampu berdiri sendiri, tidak tergantung dari kerabat dan dari siapapun. Berkali-kali ditekankan perlunya kepercayaan pada diri sendiri”.

Namun yang justru terjadi saat ini banyak yang keliru dalam memahami dan mengaktualisasikan wanita dalam berkarier.

Seakan-akan wanita didorong bekerja sendiri, punya kemandirian sendiri sehingga tidak tergantung dengan orang lain termasuk suaminya.

Dengan pemikiran semacam ini, banyak kemudian wanita yang sukses dikariernya kemudian melupakan tugas utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi. Padahal siapapun tahu generasi cemerlang hanya akan lahir dari rahim dan didikan wanita terbaik.

Posisi Wanita dalam Islam
Kewajiban utama wanita dalam tuntunan Islam adalah sebagai ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Posisi ini tidaklah menyebabkan kedudukan wanita berada di bawah laki-laki.

Tidaklah menjadi alasan laki-laki yang diwajibkan bekerja dan bergelut disektor publik sementara wanita di sektor domestik menyebabkan wanita inferior di hadapan laki-laki. Sekali lagi, tidak sama sekali.

Pebedaan tugas dan fungsi antara wanita dan laki-laki, menunjukkan betapa adilnya aturan agama. Bagaimana mungkin mau menyamakan sementara dalam banyak hal justru berbeda. Namun perlu dipahami, adanya perbedaan tersebut memungkinkan bisa saling berbagi dan melengkapi. Inilah bukti betapa harmoninya aturan Islam.

Wanita memang tidak diwajibkan bekerja karena itu tugas laki-laki. Namun agama pun tidak melarang wanita bekerja. Dalam Islam wanita dibolehkan bekerja dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya pekerjaan tersebut tidak mengganggu kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Bahkan dalam pekerjaan tertentu menjadi wajib bagi wanita, misalnya menjadi tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, tenaga pendidik, serta pekerjaan yang lainnya.

Namun, tak dapat dipungkiri kalau selama ini banyak menuduh Islamlah yang menyebabkan keterbelakangan wanita. Menurutnya, banyak aturan agama baik yang termaktub dalam Alquran maupun hadis Rasulullah saw yang tidak pro terhadap wanita. Sebutlah misalnya bagian warisan perempuan hanya satu bagian sementara laki-laki mendapat dua bagian.

Kesaksian seorang laki-laki setara dengan dua orang wanita. Tidak bolehnya wanita melakukan perjalanan sehari-semalam tanpa didampingi mahram, dan aturan yang lainnya.
Selintas pemikiran ini mungkin ada benarnya. Namun jika dicermati lebih seksama, didapatkan bahwa justru aturan tersebut memiliki hikmah yang sangat dalam dan aturan ini ternyata membuktikan betapa Islam sangat menghargai wanita. Selain itu, aturan ini sebenarnya untuk melindungi wanita.

Sebutlah misalnya aturan yang mewajibkan wanita harus ditemani mahram jika melakukan perjalanan sehari-semalam. Aturan ini tidaklah melarang wanita bekerja atau berkarier. Justru dengan aturan ini, perempuan boleh melakukan perjalanan dan tentunya boleh pula bekerja.

Jadi wanita boleh berkarier. Adapun adanya mahram yang menemani menujukkan betapa perhatiannya aturan agama terhadap keselamatan wanita. Aturan ini tujuan utamanya adalah untuk melindungi dan menjaga kehormatan serta kemuliaan wanita. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE