Fajar


 Breaking News

Menjaga Amanah Beasiswa Negara

Haerul Hamka Awardee Beasiswa Unggulan Pascasarjana UGM asal Sulsel

“Berapa jumlah guru yang masih hidup?” pertanyaan ini merupakan ungkapan awal Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mengapa harus guru? Karena di mata gurulah potret masa depan sebuah bangsa.

Indonesia yang kita nikmati hari ini merupakan buah keringat guru bangsa di masa lalu. Indonesia di masa depan adalah cerminan pendidikan rakyatnya hari ini. Lalu, masalah terbesar kini bagaimana potret pendidikan Indonesia hari ini?

India, yang konon jauh lebih tertinggal dari Indonesia, ternyata jauh hari telah memulai revolusi intelektualnya. Ribuan lebih anak muda disekolahkan gratis di bidang IT pada kampus ternama di Eropa. Bukan hanya itu, mereka bahkan telah dijamin pekerjaannya ketika pulang.

Maka jangan heran ketika India kini telah memiliki lebih dari seratus juta tenaga kerja ahli di bidang IT, bahkan ratusan ribu PhD tersebar dari berbagai bidang ilmu. Begitupun halnya Tiongkok, jumlah PhD yang dimiliki jauh di atas Indonesia, mereka sudah masuk dalam hitungan ratusan ribu sementara kita masih ribuan. Ini menujukan kualitas pendidikan kita jauh tertinggal dari negara tetangga.

Kemudahan dalam mengakses pendidikan adalah sebuah keharusan. Maka, hadirnya berbagai lembaga penyedia beasiswa adalah sebuah solusi yang tepat. Kini, tidak lagi menjadi alasan tidak mengenyam pendidikan karena tak ada lagi sekat antara miskin dan kaya, semuanya berhak memperoleh beasiswa. Namun, menjadi masalah, apakah kita cepat tanggap dalam meraih kesempatan beasiswa yang ada itu?

Sungguh sebuah kabar gembira, antusiasme masyarakat khususnya generasi muda sangat merespons positif peluang berbagai beasiswa tersebut. Dalam sebuah database lembaga penyelenggara, ribuan bahkan ratusan ribu berjuang mati-matian untuk meraih beasiswa.

Bahkan dalam beberapa kasus, ditemukan banyak calon menghalalkan berbagai cara demi sebuah gelar awardee. Tentu ini bukanlah cara yang baik, namun ini menjadi bukti semangat meraih pendidikan yang layak telah hadir dalam jiwa masyarakat kita.

Persoalan Nasib Awardee
Yang harus kita tahu, saat ini ada beberapa lembaga penyedia beasiswa yang sedang booming dan menjadi incaran para pemburu beasiswa. Sebut saja LPDP, Beasiswa Unggulan, BUDI, Mora Scholarships, dan banyak lagi lembaga non pemerintahan lainnya.

LPDP di bawah naungan Kementerian Keuangan dengan misi mencetak pemimpin dan profesionalisme masa depan Indonesia lewat guyuran dana abadi, dengan pemanfaatan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN). Dananya begitu besar, dalam sebuah media disebutkan mencapai Rp22,5 triliun. Bahkan kabarnya tahun ini mendapat tambahan sekitar Rp2,5 triliun.

Tak ketinggalan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat beasiswa unggulan juga telah menyalurkan miliaran dana, tak lain visinya mencetak insan cerdas dan kompetitif.

Beasiswa BUDI, sebagai beasiswa untuk dosen dan calon dosen juga telah gencar membina dosen dan calon dosen, yang nantinya disalurkan ke daerah terpencil demi kemerataan pendidikan. Belum lagi, beasiswa Mora dengan visi 5.000 doktor tentunya menjadi salah satu solusi pengembangan riset bagi 5.000 calon doktor. Sungguh sebuah aset yang sangat besar untuk Indonesia.

Dari gambaran singkat tersebut, Indonesia kini boleh unjuk gigi. Tak begitu lama kita akan kebanjiran Doktor, master, dan PhD lewat lembaga beasiswa negara tersebut. Masalahnya ke mana para awardee setelah menyelesaikan studi. Jangan sampai uang yang begitu besar dari APBN yang notabene merupakan iuran pajak seluruh rakyat Indonesia akan hilang sia-sia.

Tak sedikit mereka berkeluh kesah. Mulai dari nasib mereka setelah menyelesaikan studi. Walau pemerintah telah menjamin hak mereka sebagai tenaga dosen, tapi bagi mereka tak cukup jika tawaran menjadi dosen menjadi sebuah prioritas. Belum lagi, telah menjadi buah bibir bahwa proses penerimaan dosen kian sulit jika tidak ada akses primordial.

Kebutuhan tenaga dosen pun kian sedikit. Maka tak sedikit awardee yang banting setir menjadi pekerja serabutan. Belum lagi mereka yang malah bekerja pada perusahaan asing, tentu ini mencederai hati rakyat.

Seharusnya mereka mengabdi untuk rakyat karena segalah bentuk dana yang mereka terima adalah dari rakyat. Banyak kasus mereka yang berada di luar negeri bahkan tak mau kembali ke Indonesia dengan dalih penghasilan di luar sana lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri, tentu ini mencederai amanah beasiswa negara.

Olehnya itu sangat dibutuhkan sebuah regulasi yang tepat dari pemerintah maupun penyelenggara beasiswa. Sehingga dengan demikian tersedianya wadah yang siap menampung lulusan penerima beasiswa lewat kerja sama yang relevan pada sektor pemerintahan, kementerian, BUMN, dan lembaga riset pemerintah. Tentu ini adalah harapan terbesar para awardee dan sebuah solusi yang tepat. Sehingga nasib para awardee jelas dan tepat sasaran. (*)

Berita Terkait