Fajar


 Breaking News

Reposisi Gagasan Kreatif

Ilyas Alimuddin Dosen STISIP Muhammadiyah Sinjai

Pada 1583, Willian Lee yang baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Cambridge, pulang kampung di Calverton, Inggris, untuk menjadi pemuka agama, sesuai dengan disiplin keilmuannya saat kuliah. Semangat dan jiwa mudanya begitu menggebu. Ingin mengajarkan ilmu yang telah didapat dan mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat manusia.

Saat yang sama, Ratu Elizabeth I (1558-1603) baru saja mengeluarkan maklumat berupa perintah yang mewajibkan segenap rakyatnya memakai topi rajutan.

Dalam buku catatannya Lee menulis: “satu-satunya cara untuk mendapatkan bahan topi itu adalah merajut sendiri atau mengupah prajurit, tapi untuk membuatnya dibutuhkan waktu yang teramat lama. Kulihat ibu dan saudariku duduk merajut seutas benang wol dengan dua batang jarum rajut di malam hari. Mungkin pekerjaan itu bisa lebih cepat selesai kalau orang memakai jarum rajut yang lebih banyak”.

Gagasan yang muncul di benak Lee itu menandai awal mula sejarah teknologi mekanisasi produksi tekstil. Sejak saat itu, Lee terobsesi menciptakan sebuah mesin yang akan membebaskan bangsanya dari pekerjaan merajut secara manual yang terbukti repot dan membosankan. Sungguh, sebuah niat yang sangat mulia.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya pada 1598 dia berhasil menciptakan alat perajut otomatis yang dinamakan “stocking frame”. Dengan sejuta asa dalam benak, dia menempuh perjalanan panjang ke London, menghadap Ratu Elizabeth I, untuk mendemonstrasikan kehebatan dan manfaat mesin ciptaannya.

Selanjutnya memohon ke Sri Ratu memberikan hak paten agar orang lain tidak menjiplak desain mesin perajutnya. Harapan yang sangat wajar, mengingat alat ciptaannya akan mereduksi kesusahan hidup masyarakat Inggris. Dia sangat yakin Sang Ratu akan mengapresiasi karyanya.

Namun, Di luar dugaan tanggapan Ratu Elizabeth itu begitu dingin dan mengecewakan. Jangankan memberi hak paten bagi mesin ciptaan Lee, penguasa Inggris itu justru menolak dan seraya berkata: “Kau terlalu ambisius Mr. Lee. Coba bayangkan dampak yang ditimbulkan mesin buatannmu itu terhadap rakyatku yang hidup melarat. Mereka pasti akan sengsara sebab mesinmu itu jelas-jelas membuat mereka menganggur dan akhirnya menjadi peminta-minta”.

Dengan penuh rasa kecewa, Lee pergi ke Prancis mencoba peruntungannya di sana. Hasilnya tetap nihil. Kemudian Dia pulang ke Inggris lalu memohon hak paten kepada Raja James I (1603-1625) yang meneruskan takhta Ratu Elizabeth I. Lagi-lagi harapan Lee kandas karena raja itu menolak permintaannya dengan alasan senada.

Dua penguasa tertinggi kerajaan Inggris termasuk penguasa Prancis khawatir otomatisasi produksi kain rajutan bakal menggoyang stabilitas politik pemerintahannya. Mesin perajut bakal merampas pekerjaan jutaan orang, menciptakan pengangguran dan instabilitas politik yang dipastikan akan mengancam takhta kerajaan.

Keganjilan reaksi penguasa seperti ini, pastinya akan membunuh proses kreatif inovatif masyarakat. Inovasi cemerlang akan meredup. Alasan utama penolakannya lebih karena pertimbangan kekuasaan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan. Inilah sindrom yang banyak menjangkiti ketika individu memegang tampuk kekuasaan. Dari dulu hingga saat ini.

Begitu banyak pemikiran kreatif solutif yang akhirnya menguap begitu saja disebabkan kehendak penguasa yang ingin mempertahankan status quo. Salah satunya tawaran penerapan aturan agama sebagai solusi atas berbagai persoalan perpolitikan secara khusus dan secara umum untuk seluruh aspek kehidupan di negeri ini.

Aksi pembubaran kajian Ustaz Felix Siauw yang akan diadakan di Kota Malang, Jawa Timur menjadi bukti akan hal ini. Alasan pihak yang meminta pembubaran tersebut karena gagasan syariat dan khilafah yang selalu disampaikan oleh Ustaz Felix dianggap sesuatu yang berbahaya negeri ini.

Sebagai gagasan alternatif, mestinya gagasan menyandingkan agama dan kehidupan dikaji dulu tanpa terburu-buru menvonis gagasan tersebut sesuatu yang buruk. Menarik konklusi secara cepat tanpa ada proses dialektik, menguji validitas gagasan tersebut adalah sebuah tindakan kurang elegan.

Apa salahnya jika memberikan kesempatan pengusul gagasan untuk mendiskusikan secara terbuka? Kecuali kalau dari awal sudah ada pemikiran dalam benak, gagasan tersebut akan mengusik vested interest pemilik kuasa, sehingga sejak awal sudah harus ditolak.

Jika cara ini yang ditempuh, maka kita akan menyaksikan matinya gagasan-gagasan kreatif inovatif masyarakat. Mandegnya peradaban dan pastinya ide-ide solutif meski sangat baik dan benar akan ditanggalkan begitu saja. Menjadi sampah sejarah. Apa salahnya memberikan kesempatan untuk penerapan aturan agama secara totalitas? Bukankah kita telah memberikan kesempatan kepada sistem demokrasi terpimpin dan demokrasi liberal di negeri ini yang justru berekses negatif? Kalaulah sudah diterapkan dan justru berakibat buruk, maka silahkan ditinggalkan. Setidaknya kita telah mencoba dan memberi kesempatan. Beginilah idealnya memposisikan sebuah gagasan kreatif.

Kisah hidup Lee memberikan begitu banyak pelajaran yang mestinya diterima. Bahwa sindrom kekuasaan begitu banyak yang menjadi dekontruksi gagasan kreatif individu. Kita menyadari ekses negatifnya namun nyatanya hal ini masih sering terjadi. Karenanya hal ini harus ditanggalkan.

Bukankah kejahatan yang paling sadis, menyedihkan dan menyakitkan rasa kemanusian adalah pembunuhan pemikiran, pemaksaan kesepahaman dan pemasungan kreativitas. Semoga kita tidak melakukan hal demikian. (*)

Berita Terkait

🎬Populer Hari ini