Fajar


 Breaking News

PURA-PURA BER-INDONESIA

M. Qasim Mathar Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Bernegara dan berbangsa berarti mematuhi ideologi, konstitusi, dan bentuk dari negara-bangsa itu; serta menghormati simbol-simbol atau lambang-lambang yang dijunjung oleh negara-bangsa tersebut.

Indonesia adalah negara-bangsa berideologi Pancasila, berkonstitusi (berhukum) dengan Undang-Undang Dasar 1945, dan berbentuk republik. Indonesia menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu kebangsaan tersebut, dinyanyikan oleh orang Indonesia dengan penuh rasa cinta kepada tanah air Indonesia.

Gambar burung Garuda sebagai salah satu simbol negara, dipandang oleh orang Indonesia sebagai gambar yang beda dengan gambar lainnya, bahkan dengan gambar garuda lainnya, yang tidak memuat gambar simbol dari sila-sila Pancasila di perutnya dan tulisan Bhinneka Tunggal Ika di kaki burung Garuda itu.

Kebhinnekaan dari banyak segi, seperti dari segi etnis, suku, agama dan kepercayaan, tradisi dan adat istiadat, dan segi-segi lainnya, merupakan hal yang dijaga dan dihormati bersama segenap orang-orang Indonesia.

Begitulah seterusnya. Presiden sebagai lambang dari suatu negara, tentulah dihormati dan dijaga kehormatannya oleh warga di negara itu. Seperti juga menghormati bendera merah-putih Indonesia. Semua yang telah disebutkan, itulah ke-Indonesia-an!

Karena itu, warga negara yang baik adalah warga yang mematuhi, menghormati, dan menjaga kehormatan hal-hal dan simbol-simbol pokok/utama dari negara-bangsanya. Jika yang terjadi sebaliknya, maka kewarganegaraan warga tersebut mengandung masalah.

Jika masalah itu sudah identik dengan pembangkangan atau perlawanan, maka warga yang demikian dapat disangka sebagai warga yang buruk. Jika warga yang buruk demikian sudah bergerak sebagai kelompok yang terorganisasi, maka kelompok tersebut bisa menjadi pemberontak terhadap negara-bangsa sendiri.

Jadi, pemberontak negara memang lebih banyak dilakukan warga/kelompok warga dari negara itu sendiri. Adapun segala macam kelompok luar/asing yang biasa disebut sebagai konspirasi dari luar/asing, hanya memanfaatkan setiap anasir dari dalam negara-bangsa itu, yang punya kecenderungan kuat untuk membangkang atau tidak mematuhi dan menghormati ideologi, konstitusi, dan bentuk, serta semua simbol/lambang dari negara-bangsa tersebut. Jadi, bisa saja seorang Indonesia, tapi tidak tergambar pada dirinya ke-Indonesia-an. Atau, berpura-pura ber-Indonesia!

Sekuat bagaimana pun yang disebut sebagai konspirasi asing, tidak akan sanggup merongrong dan memecah-belah suatu negara-bangsa, jika segenap warganya senantiasa menunjukkan kesetiaan mereka kepada negara-bangsa mereka.

Karena itu, pemerintah sebagai pemegang amanat rakyat untuk menjaga keutuhan negara-bangsa dan mewujudkan kemajuan warga, tidak salah kalau selalu mengevaluasi dan mengambil tindakan hukum terhadap warga, baik perorangan maupun kelompok, yang dinilai tidak bersungguh-sungguh, atau hanya berpura-pura, mematuhi dan menghormati semua yang wajib dipatuhi dan dihormati di dalam negara-bangsa di mana mereka menjadi warga.

Indonesia sudah berpengalaman dengan anasir yang ada dan berkembang di tengah masyarakat, yang menunjukkan sikap pembangkangan terhadap negara-bangsa. Pembangkangan demikian telah memecah-belah warga, meski kemudian bisa diatasi, sehingga tidak sampai membubarkan keutuhan negara-bangsa Indonesia.

Gerakan separatisme dan pemberontakan terhadap negara-bangsa, serta berbagai konflik yang pernah terjadi, bagian dari sejarah Indonesia yang tak terlupakan.

Bagaimana seorang atau kelompok warga bisa disebut setia kepada Indonesia, kalau ia atau kelompok itu berjuang untuk bentuk negara yang bukan republik, menegaskan diri sebagai menolak demokrasi dan ideologi Pancasila yang dianut oleh Indonesia.

Kepura-puraan ber-Indonesia demikian, tidak bisa dihapus, walau beralasan bahwa kegiatannya tidak pernah melahirkan gangguan. Sebab, bila kepura-puraan itu berlangsung terus menerus, pasti akan mengganggu semua kesepakatan yang sudah diterima oleh bangsa Indonesia.

Kepura-puraan demikian, juga menjadi celah bagi masuknya kepentingan dan provokasi konspirasi asing. Dengan kesetiaan utuh kepada negara-bangsa Indonesia, semua konspirasi, baik dari dalam maupun dari luar, akan menjadi mandul.

Tegasnya, berpura-pura ber-Indonesia di negeri ini, merupakan pengkhianatan terselubung dan bisa dimanfaatkan oleh konspirasi asing untuk melemahkan, merusak, dan menghancurkan Indonesia.

Pembubaran terhadap anasir-anasir yang merongrong keutuhan negara-bangsa Indonesia wajib didukung. Sebab, kalau tidak dibubarkan, anasir-anasir tersebut akan menjadi benalu pada pohon ke-Indonesia-an dan menjadi momok terhadap Indonesia sebagai negara-bangsa. (*)

Berita Terkait