Fajar


 Breaking News

Film Semesta Raya

Muh. Quraisy Mathar Dosen UIN Alauddin


Selalu menarik menyaksikan acara prosesi penganugerahan peran-peran terbaik insan perfilman, baik kelas dunia seperti piala Oscar, maupun kelas nasional seperti piala Citra.

Beberapa nama pemeran, soundtrack, dan judul film dibacakan dalam berbagai kategori dan diwakili oleh beberapa nominasi. Mulai dari penulis skenario terbaik, sutradara terbaik, artis terbaik, kameramen terbaik, film terbaik, musik terbaik, dan seterusnya. Bahkan di beberapa ajang sejenis, mulai dikenal istilah penghargaan untuk film terlaris atau box office. Era industri memang tidak dapat dihindari. Film kemudian tidak lagi sebatas dinilai berdasarkan kedalaman cerita, adegan, dan sinematografi semata. Film juga akan sangat dinilai dari tingkat kelarisannya, berapa banyak mata yang menontonnya, atau berapa banyak tiket yang terjual.

Lalu sadarkah kita, bahwa di saat kita sedang asyik membuat film, maka pada saat yang bersamaan kita pun sedang difilmkan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta alam semesta. Teori baku film yang menempatkan skenario sebagai sumber rujukan yang bersifat absolut, dan harus diikuti mulai dari scene awal sampai scene terakhir, ternyata tak sama dengan teori skenario Tuhan Sang Maha Sutradara. Tuhan justru memberi ruang yang sangat luas kepada siapa pun untuk mengubah scenario-Nya, bahkan ketika film sudah mulai memasuki fase pengambilan gambar. Tuhan tidak mengubah sebuah kaum sampai mereka mengubah dirinya sendiri (QS: Ar-Ra’d ayat 11).

Bisakah kita membuat skenario film yang dapat diubah kapan saja oleh para artis dan kru film? Tentu tidak. Maka tidak usah terlalu bangga dengan aneka penghargaan penulis skenario terbaik, sebab skenario kita ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan dengan skenario Tuhan.

Begitu pun dengan kameramen terbaik yang hari ini tidak lagi sekadar berbicara tentang slide, pita kaset, format, pixel, atau teknologi 4K. Alih media di setiap peralihan masa teknologi dengan instrumen berbeda serta teknik pengambilan gambar dengan terknologi terkini, ternyata kalah jauh dengan rekaman Supra Lensa dua kameramen yang juga bertugas sebagai pencatat seluruh adegan dalam film semesta. Kameramen tersebut bernama Rakib dan Atid, dua malaikat yang mendapat tugas merekam dan mencatat seluruh adegan manusia dan tak berbatas ruang dan waktu. Dua malaikat mencatat (merekam) amal perbuatan, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri (QS; Qaf ayat 17).

Teknik pengambilan gambarnya pun tentu sangat Supra Luar Biasa, jika dibandingkan dengan aneka angle (sudut pengambilan gambar) dalam teori kemanusiaan. Lalu media penyimpanan film yang hari ini kita sebut kilobyte, megabyte, sampai terabyte, justru tak ada apa-apanya dengan media penyimpannya yang suprabyte, dan sudah menyimpan film sejak pertama kali semesta ini digerakkan.

Akan ada empat bangunan besar yang berdiri megah mendampingi kebangkitan manusia di padang mahsyar nanti. Bangunan pertama adalah surga, dan bangunan kedua adalah neraka. Lalu bangunan yang ketiga adalah sebuah perpustakaan supra digital yang telah digunakan untuk menyimpan seluruh data amalan baik dan buruk manusia, sejak pertama hingga akhir. Perpustakaan tersebut dikelola dengan sistem temu kembali yang juga sangat supra. Klasifikasi dan katalogisasinya tak akan pernah terjangkau teori-teori kepustakawanan sampai akhir zaman. Pada hari itu, seluruh manusia menghadap untuk menerima catatan (rekaman) seluruh amalannya (QS; Al-Jathiya ayat 28).

Miliaran data manusia yang berbeda zaman akan tetap terklasifikasi dengan baik, dan tak satu pun data manusia yang akan tertukar dengan data manusia yang lain dalam satu dekade alam semesta.

Bangunan terakhir adalah sebuah gedung bioskop. Gedung yang secara kolosal akan memutar kembali seluruh adegan dalam film semesta. Seluruh manusia secara bersama-sama akan menonton filmya, namun masing-masing akan fokus kepada dirinya sendiri yang sedang memainkan peran-peran dalam film semesta itu sendiri. Seluruh adegan, dialog, ekspresi, bahkan niat, muncul dalam sebuah layar supra. Lalu di penghujung film akan muncul tulisan “the end”. Seluruh manusia, penonton yang sekaligus menjadi pemain, selanjutnya mulai bergerak mengikuti barisannya, ada yang bergerak ke surga, dan ada yang bergerak ke neraka. Masing-masing kita akan mempertanggungjawabkan peran yang kita mainkan, dalam film berjudul “semesta raya”. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE