Fajar


 Breaking News

Rehabilitasi dan Tantangan Kaum Pekerja

Hasni Abdullah PNS Dinkes Kabupaten Maros (Saat Ini Menjalani Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi, Unair, Surabaya)


Terminologi disabilitas sudah sering kita temui dari berbagai sumber. Namun dalam preambule dari Konvensi Hak Individu dengan Disabilitas menyebutkan, disabilitas merupakan suatu konsep yang menyatakan kondisi individu yang mengalami impairment (gangguan fisik/psikis) dan kendala lingkungan, sehingga menghambat partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh.

Maraknya kasus atau kondisi kesehatan yang menunjukkan suatu individu tergolong disabilitas jelas membutuhkan pemulihan dalam jangka waktu tertentu. Hal tersebut menantang dunia kesehatan hari ini, untuk memberi ruang kepada penderita untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas hidup, baik lingkup keluarga terlebih lagi dalam ranah sosial masyarakat.

Kita bisa mengambil sebuah contoh dalam masyarakat yang menunjukkan suatu kondisi disabilitas, yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup seseorang. Sekarang bukan rahasia lagi, kasus stroke sudah banyak menyerang usia dewasa muda, sehingga seseorang akan kehilangan produktivitasnya sebagai modal sosial dalam hidup bermasyarakat. Padahal kasus tersebut bisa diintervensi sejak awal melalui pemilihan gaya hidup yang sehat, mengontrol faktor resiko yang menyertai dan faktor lain yang menunjang terwujudnya performa prima bagi suatu individu.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menarik benang merah antara kondisi disabilitas yang dialami individu, yang boleh jadi berstatus pekerja dan memiliki tingkat produktivitas yang masih tinggi dalam kaitannya dengan intervensi rehabilitasi, guna membantu pemulihan ke tahap bekerja kembali (return to work).

Rehabilitasi sebagai Investasi
Agenda yang perlu kita cermati bersama adalah pemulihan pekerja yang jatuh pada kondisi disabilitas, dengan mempertimbangkan beragam aspek seperti keterbatasan dan restriksi yang didapatkan pada lingkungan pekerjaan sebelumnya, kondisi fisik dan psikis seorang pekerja serta kapasitas fungsional sebagai indikator kesiapan seseorang sebelum kembali bekerja pasca pemulihan.

Sebagai praktisi kesehatan yang terjun langsung dalam bidang rehabilitasi, saya melihat belum cukup kesiapan di lembaga pemerintah seperti rumah sakit, dalam memfasilitasi layanan kesehatan yang mengacu pada aspek rehabilitatif dan dalam praktiknya seiring sejalan dengan aspek preventif dan kuratif .

Salah satu contoh yang bisa kita cermati adalah kasus lesi saraf brakhial (brachial plexus injury). Publikasi yang dilakukan Suroto (2009) di Surabaya menyebutkan, kebanyakan pasien dengan lesi plexus brachialis (cedera saraf brakhial) adalah laki-laki yang berada dalam rentang usia produktif; usia antara 15 dan 25 tahun. Hal yang membuat lebih miris lagi bahwa cedera lesi plexus brachialis terus meningkat di kota-kota besar di Indonesia.

Namun, jika kita menilik kondisi faktual yang ada hari ini, sarana belum memungkinkan menunjang keperluan diagnostik seperti belum tersedianya alat untuk redukasi otot, pascatrauma pada kasus lesi pleksus brakhial tersebut alias kelemahan otot-otot pada anggota gerak atas akibat trauma pada saraf yang mempersarafi area lengan atas.

Hal tersebut yang digambarkan sebelumnya hanyalah sekelumit kasus cedera yang membutuhkan rehabilitasi komprehensif, dalam mengupayakan seorang individu berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya. Jika individu tersebut seorang pekerja, maka di sinilah tantangan dunia rehabilitasi melecutkan kondisinya untuk mencapai kondisi stabil untuk kembali bekerja.

Kesadaran dalam Era Digital
Suatu kondisi kesehatan yang kita alami hari ini mulai dari yang berskala ringan sampai yang berat, dapat kita akses informasinya dari media digital hanya dalam hitungan detik. Namun, menurut hemat penulis, kejelian informasi dari para pakar pada bidang tertentu yang memiliki otoritas, tetap dibutuhkan karena tata laksana yang diberikan harus mengacu pada data yang berbasis bukti. Greenwood dan Levin dalam artikel berjudul “Social Research for Social Change (2007)” yang dimuat dalam sebuah jurnal manajemen disabilitas menyebutkan, proses terciptanya partisipasi, para stakeholder diajak merefleksikan kondisi individu yang mengalami disabilitas secara kontinu, guna memperbaiki pemahaman yang ada dan memberikan dukungan yang dapat meningkatkan kapasitas individu, untuk mengontrol situasi mereka dalam suatu lingkungan yang lebih berkesinambungan.

Dalam praktiknya, situasi hari ini memaksa kita semua lebih melek terhadap dunia rehabilitasi dan memberi respons yang tepat baik sebagai praktisi, stakeholder (pemangku kepentingan), aktifis sosial dan masyarakat. Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan, antara lain mengalokasikan pembelanjaan sarana penunjang diagnostik dan terapi pada bidang rehabilitasi bagi para pengambil kebijakan, menyosialisasikan secara intens kepada masyarakat khususnya kaum pekerja, akan pentingnya membangun kesadaran hak individu dalam meningkatkan kualitas hidupnya guna memasuki fase kembali bekerja (return to work), sesuai potensi terbaiknya serta mewujudkan masyarakat yang kooperatif terhadap saran yang diberikan praktisi kesehatan yang berkompeten, dalam menciptakan proses pemulihan terhadap kondisi kesehatannya. Selain itu, diperlukan sikap terbuka dalam berinteraksi antar praktisi kesehatan dalam menyikapi dinamika kesehatan masyarakat yang ada dalam bingkai ilmiah. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE