Fajar


 Breaking News

Erdogan Dukung Jalur Sutra Tiongkok, India Cemas dan HRW Cemaskan Warga Miskin


 

FAJARONLINE.COM – Di belantara yang menutup pegunungan di Laos, para insinyur Tiongkok mengebor ratusan terowongan dan mendirikan jembatan. Proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan 418 kilometer jalur kereta api: investasi USD 6 miliar atau sekitar Rp78 triliun yang membuat enam negara Asia kian terhubung.

Uang-uang Tiongkok juga digunakan untuk membangun pembangkit listrik di Pakistan. Jalur kereta dari Budapest, Hungaria, menuju Beograde, Serbia, sedang digambar para perencana Tiongkok. Jika terbangun, barang-barang asal Tiongkok yang masuk lewat pelabuhan di Yunani bisa dengan mudah disalurkan ke penjuru Eropa.

Proyek infrastruktur yang sedemikian masif merupakan ambisi Tiongkok dalam membangun jalur perdagangannya. Sedikitnya 65 negara bisa terlibat dalam One Belt One Road, konsep yang ditawarkan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 2013. Mulai kemarin hingga hari ini, 29 pemimpin dunia berkumpul di Kota Beijing, Tiongkok. Mereka berpartisipasi dalam One Belt One Road (OBOR) Summit. Topik utama konferensi di ibu kota Tiongkok itu adalah gagasan Xi Jinping untuk menyatukan tiga benua dalam satu jalur perdagangan. Media menyebutnya Jalur Sutra Baru.

”Ini adalah pertemuan para pemikir hebat,” kata Xi dalam pidato sambutannya. Di antara 29 negara yang berpartisipasi, ada beberapa yang diwakili diplomat tertingginya. Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut), misalnya.

Jalur Sutra Baru akan menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika. Jalur perdagangan tersebut jelas menjadikan Tiongkok sebagai pusatnya. Karena itu, pemerintahan Xi-lah yang sibuk membangun infrastruktur pendukung. Mulai jembatan, jalur kereta api, pelabuhan, jalan tol, hingga kawasan-kawasan industri.

Sejauh ini, China Development Bank mengeluarkan dana USD 890 miliar atau sekitar Rp11.862 triliun. Total, ada 900 proyek terkait dengan OBOR yang sudah disepakati dan didanai bank berpelat merah tersebut. Sebagian proyek itu telah berjalan. ”Kami sudah menyiapkan dana tambahan USD 124 miliar (sekitar Rp1.652 triliun),” kata Xi.

Di hadapan para peserta konferensi, Xi menyatakan, Jalur Sutra Baru tidak hanya akan menjadi jalur perdagangan, namun juga jalur perdamaian. Asalkan semua pihak tetap menghormati dan menghargai kedaulatan negara serta integritas wilayah satu sama lain. ”Pengucilan hanya akan membuahkan kemunduran,” ungkap suami Peng Liyuan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin optimistis OBOR membawa banyak manfaat positif. Khususnya bagi Rusia. ”Keterbukaan dan perdagangan bebas kini semakin banyak ditolak di berbagai negara. Bahkan oleh negara-negara yang semula menggagasnya,” ucap Putin. Karena itu, OBOR bisa menjadi solusi tepat. Tapi, dia mengimbau semua pihak tidak melupakan asas perlindungan dagang.

Senada dengan Putin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang juga hadir dalam forum itu menyebut OBOR sebagai bentuk kerja sama yang positif. Sebab, selain perdagangan, negara-negara yang terlibat dalam megaproyek Tiongkok tersebut bisa menjalin kerja sama keamanan. Terutama dalam menangkal terorisme. ”Inisiatif Tiongkok ini akan mengakhiri terorisme,” ujarnya.

Kemarin, setelah membuka konferensi, Xi melakukan pertemuan bilateral dengan beberapa negara. Salah satunya adalah Rusia. Pertemuan itu berlangsung di Diaoyutai State Guesthouse. Kemarin Putin memamerkan kemampuannya bermain piano di sana. ”Sambil menunggu kedatangan Presiden Xi, Presiden Putin memainkan beberapa komposisi piano lawas tentang Moskow dan St Petersburg,” lapor Kantor Berita TASS.

Kendati demikian, tidak semua peserta konferensi mendukung 100 persen gagasan Xi. Kemarin India mengaku cemas dengan kehadiran jalur perdagangan lintas benua di wilayahnya. Sebab, China-Pakistan Economic Corridor yang merupakan salah satu titik penghubung OBOR juga menghubungkan wilayah sengketa. Yakni, kawasan Gilgit di India dan Baltistan di Kashmir wilayah Pakistan.

Selain India yang mengkhawatirkan status perbatasan dan stabilitas keamanannya, Human Rights Watch (HRW) mencemaskan nasib warga miskin di wilayah yang dilintasi jalur OBOR. Terutama di negara-negara Asia Tengah. ”Kami khawatir masyarakat miskin yang di wilayahnya akan dibangun infrastruktur OBOR menjadi kian tersisih,” tulis HRW dalam masukan resminya untuk Tiongkok.

Terlepas dari kritik yang muncul, peran Tiongkok sebagai negara dengan kue ekonomi terbesar di dunia memang kian penting. Terutama ketika Amerika Serikat (AS) justru memagari negaranya dengan tembok proteksionisme. Dengan menyediakan jalur perdagangan yang bisa diakses tak kurang dari 60 persen populasi dunia, Tiongkok memang bakal mengocok ulang tata ekonomi global. (jpg)

Berita Terkait

🎬Populer Hari ini