Fajar


 Breaking News

Apresiasi bagi Prestasi Sang Ahli Stem Cell

TUGAS BERAT. dr Marhaen Hardjo M Biomedik PhD saat ditemui, Senin, 15 Mei. Dia bersyukur diamanahi sebuah jabatan penting untuk pengembangan dunia kedokteran.

* Dokter Marhaen Jadi Chief Editor Journal Biomedik Indonesia

Torehan prestasi di bidang biomedik menjadi modal utama dr Marhaen Hardjo M Biomedik PhD. Ahli stem cell itu pun terpilih jadi Chief Editor Journal Biomedik Indonesia.

NURSAN TUNNISA
Makassar

SENYUM tersungging di bibir dr Marhaen saat kami menemuinya di Coffee Lovers Hertasning, Senin, 15 Mei, petang kemarin. Dengan kacamata yang bertengger di wajah, dia tampak semringah.

Dokter Marhaen memang patut berbangga. Pasalnya, Kongres Nasional Biomedik di Four Points by Sheraton Surabaya, Sabtu, 13 Mei lalu, mempercayakan jabatan Chief Editor Journal Biomedik Indonesia. Dia terpilih aklamasi untuk jabatan yang tidak ringan itu.

Direktur Stem Cell Center Universitas Hasanuddin ini mendapatkan amanah dari Ketua Umum Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia (KIBI) Prof Dr Soemarno Sp MK.

Menurut Prof Soemarno, penunjukan itu tidak terlepas dari segudang prestasi dr Marhaen, Salah satunya, sukses menghelat Temu Ilmiah Nasional KIBI November 2016 lalu di Makasar.

Dia juga berhasil menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam mengembangkan ilmu biomedik buat dosen, mahasiswa, dan alumni program studi S2 dan S3 Ilmu Biomedik Indonesia.

“Mendapat amanah yang luar biasa ini membuat saya bersyukur tiada henti. Benar-benar tidak menyangka bisa dipercaya mengembangkan jurnal biomedik buat pengembangan ilmu pengetahuan bidang kedokteran,” tuturnya.

Menurut Ketua III IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Makassar ini, saat rapat kerja nasional KIBI pada November 2016, dirinya ditunjuk sebagai ketua panitia. Di situ, dia memperlihatkan kesungguhan dalam menghelat kegiatan.

“Mungkin mereka melihat kinerja dan prestasi yang saya buat, sekaligus melakukan rapat kerja temu ilmiah Nasional pertama di bidang biomedik yang dihadiri seluruh peserta se-Indonesia,” jelas Sekretaris Program S2 Biomedik Universitas Hasanuddin ini.

Namun, predikat Chief Editor Journal Biomedik Indonesia tak lantas membuat Marhaen berpuas diri. Dia punya obsesi, posisi jurnal semakin strategis. Apalagi, semua orang yang menempuh pendidikan S2 di bidang biomedik di seluruh Indonesia, wajib untuk mempublikasikan karya ilmiah mereka lewat jurnal.

“Karena saya dipercayakan untuk program biomedik S2 dan S3, maka target saya memilih pelbagai karya ilmiah untuk diterbitkan di jurnal. Kemudian akan diseleksi secara ketat untuk dipresentasikan nanti di kongres nasional akhir tahun ini,” kata pria 49 tahun itu.

Persyaratannya, karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal nantinya, merupakan karya ilmiah pertama bagi mahasiswa, dosen, alumni, serta disiplin ilmu yang masih berhubungan S2 dan S3 bidang biomedik.

Tugas Marhaen memang tidak mudah. Stem cell atau sel punca adalah harapan bagi mereka yang sakit kronis. Caranya dengan upaya mengembangkan sel-sel baru yang dapat berkembang dalam tubuh. Terapi stem cells dapat memperbaiki jaringan tubuh yang sudah rusak.

Penggunaan terapi stem cell di Indonesia belum semasif di sejumlah negara. Di Tiongkok misalnya, terapi itu sudah dipakai umum untuk mengobati penyakit parah. (*/zul)

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait