Fajar


 Breaking News

Karya Terbaik, Karya yang Belum Ditulis

SOAL KENANGAN. Sapardi Djoko Damono mengitari dinding Rumata’ Artspace, Selasa, 16 Mei. Memelototi karya-karya tulisan tangannya yang baru pertama kali diperlihatkan ke publik.

* Sapardi Djoko Damono Memamerkan Manuskripnya

Lelaki bertopi pet itu tak pernah menghitung karyanya. Mengalir saja. Dari manuskrip, mesin tik, hingga Twitter.

FAHRIL MUHAMMAD-NURJANNAH
Makassar

SAPARDI Djoko Damono boleh jadi makin cinta dengan Makassar. Sajak tulis tangannya era 1958-1968 miliknya dipamerkan perdana di Kota Anging Mammiri. Setelah nyaris enam dekade.

Dia takjub kala mengitari dinding rumah pameran, Rumata' Artspace, Selasa, 16 Mei. Bahkan, saat puluhan pengunjung mulai meninggalkan ruangan, Sapardi masih memelototi karyanya. Sesekali tersenyum kecil. Barangkali, sedang bernostalgia.

“Saya belum pernah memikirkan pameran. Saya sangat terkesan di Makassar,” ungkap pria asal Solo itu.

Manuskrip yang dipamerkan merupakan hasil scan. Ada juga yang ditulis langsung menggunakan kapur di dinding. Karya originalnya disimpan di dalam etalase. Pengunjung tak boleh menyentuhnya. Hanya bisa mengabadikannya dari balik kaca.

Masih ingat bentuk buku tulis sekolah Anda dahulu? Di tiap lembaran kertas semacam itulah Sapardi menuangkan idenya selama sepuluh tahun.

Sayangnya, dia tak pernah menghitung karyanya sekali pun. “Baca, tulis, baca, tulis. Begitu saja,” kelakarnya, lantas mengitari dinding lagi.

Sapardi mengaku selalu menyimpan rapi setiap tulisannya. Sebab menurutnya hasil karya itu harus diabadikan. “Sebenarnya sempat lupa. Namun sebulan lalu, kita membongkar. Ternyata masih ada dan tersimpan baik dengan kertas yang menguning,” beber seniman yang lama mengajar sastra di Universitas Indonesia itu.

Di antara ratusan manuskrip, Sapardi menemukan dua sajak pertamanya. Judulnya, “Ulang Tahun” dan “Liburan”. “Waktu itu masih SMA. Saya senang sekali, keduanya dimuat di Majalah Mimbar,” kenangnya.

Sebenarnya, Sapardi mulai menulis sejak 1957. Sayang, manuskripnya tak terdokumentasi. Tak hanya menulis, dia juga menggemari musik. Bahkan, menciptakan lagu. Sapardi gitaris. Saat kuliah di Universitas Gajah Mada, dia gabung di sebuah band.

Hingga kini, sastrawan dengan gelar akademik profesor itu telah meluncurkan 10 buku. Masih tak berhenti menulis. Bahkan, Sapardi sering kali membuat iri sastrawan muda dengan sajaknya di Twitter. Ya, hanya maksimal 140 karakter.

“Semua saya tulis. Jangan ditinggalkan. Sebab, karya yang terbaik, yang belum ditulis,” tuturnya.

Kurator, Indah Tjahja Wulan mengungkapkan, manuskrip memang hanya sampai 1968. Memasuki 1969, Sapardi sudah mulai memakai mesin tik. Lantas, dibukukan.

“Masih banyak karya manuskrip Pak Sapardi yang belum dibukukan,” ungkap dia.

Pengunjung pameran, Kamsah menilai, Sapardi merupakan sosok yang sangat mencintai karya. Selain penulis, Sapardi juga pengarsip yang baik.

“Betul-betul menghargai sebuah karya,” kata mahasiswa Sastra Indonesia Unhas ini.

Pengunjung asal Bogor, Dian Maudyan bilang, Sapardi telah memberi pelajaran pemililihan diksi. Pagi ini, Sapardi janji berbagi ilmu di Rumata' Artspace. Dalam tajuk, “selamat pagi puisi bersama Sapardi Djoko Damono”.

Sapardi mengaku manuskrip tersebut sebagai persembahannya di ajang Makassar International Writers Festival (MIWF). Ini kali ketiganya ia bergabung di MIWF yang digagas oleh Rumata' Artspace . “Rumata' sudah menjadi rumah kedua bagi saya,” ucapnya. (*/zul)

Berita Terkait