Fajar


 Breaking News

Apa Kabar Para Bissu di Bumi Arung Palakka

SUMBER PENGHASILAN. Para bissu di Bone kini menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai perias pengantin.

* Tak Menikah, Bertahan Hidup dari Merias Pengantin

Bissu seperti manusia pada umumnya. Mesti bekerja, bersosialisasi, dan tentu saja; butuh pelampiasan hasrat seksual.

MUH ASHRI SAMAD
Bone

KEBERADAAN bissu di Bone tetap teregenerasi. Dari zaman kerajaan hingga pemerintahan kabupaten saat in. Padahal, mereka tidak berkeluarga.

Ketua Bissu Kabupaten Bone, Puang Lolo Ancu bercerita, alasan para bissu enggan membina rumah tangga karena harus tetap dalam keadaan suci.

Namun demikian, ucap pemilik nama asli Syamsul Bahri ini, para bissu tetap memiliki hawa nafsu seperti manusia lainnya. Hanya saja, hasrat utamanya bukan pada seks.

“Bissu bukan malaikat. Jadi tetap punya hawa nafsu. Penyaluran hasratnya melalui mimpi basah,” ucap dia saat ditemui di kediamannya di kediamannya di Jalan Pisang Lama, Kelurahan Jeppe E, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Bone, pekan lalu.

Karena tak memiliki keturunan, regenerasi bissu tidak melalui jalur gen. Namun “menunggu” saja ada waria yang muncul dan memenuhi persyaratan. Kemudian ada ritual khusus agar seseorang bisa disebut bissu.

Lebih jauh, bissu kelahiran Majang-Bone, 17 Juni 1965 menuturkan, energi para bissu di zaman modern ini mesti lebih besar. Sebab, berbeda pada zaman kerajaan yang kebutuhannya serba ditanggung raja, kini harus berjuang sendiri. Karena bukan lagi jadi tanggungan pemimpin.

“Jadi kami bertahan hidup dengan bekerja. Sebagai perias pengantin dan pallamming (dekor hajatan). Dari hasil itulah untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya.

Mengenai sisi keagamaan, Puang Lolo Ancu berujar bahwa para Bissu di Bumi Arung Palakka menganut agama Islam. “Kembali ke setiap masing-masing (kodratnya). Kalau saya salat, pakai kopiah dan sarung.”
Menduduki status sebagai bissu bukan berarti bebas dari cerita miring. Dengan suara terbata-bata, pemilik nama waria Angel ini mengaku kerap mendapat cemooh dari masyarakat awam.

“Mereka yang tidak tahu bissu dikiranya bissu pembawa sial. Menganggap sama dengan bencong lainnya. Padahal tidak, bissu menjaga kesuciannya,” urainya.

Sebagai pemimpin para bissu di Bone, Puang Lolo Ancu berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kehidupan mereka. “Jangan diperhatikan ketika dibutuhkan. Pemerintah bagus. Cuma orang-orang di bawahnya ini sedikit meremehkan,” tukasnya.

Untuk setiap penampilannya, Puang Lolo Ancu tidak menampik ada mantra tertentu yang diamalkan. Seperti cenning rara. Hanya saja, untuk ilmu kebal dalam ritual maggiri ditampiknya.

Menurutnya, kebal bisa membuat seseorang mengangkuhkan diri dari benda tajam. Makanya, sebelum melaksanakan ritual maggiri, para Bissu pasrah dan bermohon semoga kegiatan tersebut direstui Sang Pencipta.
“Jadi bukan meminta kekebalan. Tetapi meminta dan memohon agar acara berjalan baik dan sukses. Bukan tentang kebal,” klaimnya.

Peran bissu dipahami betul Kepala Dinas Kebudayaan Bone, Andi Promal Pawi. Menurutnya, bissu merupakan warisan Bone. Sifatnya tak benda. Perlu dijaga keberadaannya.
“Bissu ini penjaga istana. Jadi bukan waria pada umumnya. Kehidupannya di istana. Tetapi sejak Indonesia merdeka, berubah,” jelasnya.

Sebagai bentuk pelestarian bissu, mantan Kabag Humas Pemkab Bone ini senantiasa melibatkan bissu pada kegiatan Pemkab Bone. “Seperti acara ritual-ritual saja hingga penjemputan tamu agung,” tuturnya. (*/zul)

Berita Terkait