Fajar


 Breaking News

Pilih Saja Prinsip yang Dapat Diterima

A Halim Mubin Mantan Ketum Badko HMI Intim

* Tanggapan Atas Tulisan Prof. Dr. Qasim Mathar, “Saatnya Mengembangkan Toleransi Baru”

Setelah saya membaca tulisan Prof. Qasim Mathar: “Saatnya Mengembangkan Toleransi Baru” pada Harian FAJAR, 18 Mei 2017, yang berisi imbauan suci yang sangat penting saat ini yaitu bagaimana pentingnya menyingkirkan perbedaan dengan mengembangkan toleransi baru, maka hati saya tergerak nebeng pendapat.

Perlu diingat bahwa beliau adalah jebolan Perguruan Tinggi Islam, sementara saya hanya pemerhati saja. Lebih tiga kali saya diberi buku-buku tentang masalah Mazhab Syiah, kesimpulannya, saya harus waspada terhadap Islam Syiah karena telah keluar dari jalur Islam. Bahkan dianggap bukan lagi Islam.

Pernah juga saya mendengar ceramah dari ustaz pada keluarga ilmu penyakit dalam dan diskusi di Graha Pena (kantor Harian FAJAR) yang isinya mirip dengan isi buku-buku “Syiah” yang telah saya miliki di atas.

Sewaktu saya mendapat giliran berdiskusi, antara lain saya mengatakan bahwa saya tidak berani menyerang Islam lain khususnya Syiah karena dua hal: Pertama, saya khawatir imannya orang Syiah lebih kuat dari iman saya. Dari dahulu tidak ada orang termasuk Rasulullah saw yang mempunyai imanometer, yaitu alat yang dapat mengukur dalam dan dangkalnya iman seseorang.

Kedua, saya pernah membaca (terjemahan) hadis yang maksudnya: Bila seorang muslim menuduh seseorang kafir, padahal sebenarnya tidak kafir, maka dosa kekafiran itu jatuh kepada orang yang menuduh, bukan kepada orang yang dituduh kafir. Mengerikan!
Saya berlangganan WA karena banyak teman-teman yang share saya berbagai informasi yang berharga, sehingga saya terpaksa belajar WA.

Beberapa kali mendapat share untuk menentang mazhab Syiah. Bila ada informasi begitu, maka saya berusaha menetralisirnya. Tanpa saya sadari ternyata teman saya Prof. Dr. Mansyur Ramli mengikuti juga pandangan-pandangan saya dalam WA tersebut.

Lebih satu bulan yang lalu, saat menunggu rapat Kopersi Shaum Sulsel, salah seorang ustaz yang akrab dengan saya menyodorkan semacam pernyataan yang sudah siap ditandatangani. Isinya menolak kehadiran Syiah di sini.

Saya katakan bahwa saya tidak tanda tangani karena saya ini tidak tahu masuk kelompok apa? Tetapi ustaz itu langsung menyahut: “Prof Sunni!”. “Bagaimana bisa menjadi anggota Sunni padahal belum pernah mendaftarkan diri.” Lalu saya lanjutkan “kalau begini sikap kita berarti kita memelihara terus perpecahan umat”.

Kita kembali kepada gagasan cemerlang Prof. Dr. Qasim Mathar tentang “Mengembangkan toleransi Baru”. Saya setuju bahwa untuk menciptakan toleransi, maka yang pertama-tama perlu dipikirkan bagaimana supaya unsur-unsur perbedaan tersebut direduksi semaksimal mungkin. Yang perlu dipertahkan hanya prinsip-prinsip pokok saja. Yang direduksi tersebut disimpan saja dalam sudut hati kita masing-masing lalu ditutup rapat-rapat.

Mungkin cukup tiga rukun Islam yang ditampilkan yaitu: 1) Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa/ Ketauhidan; 2) Percaya kepada Rasulullah Muhammad saw; 3) Percaya kepada Kitab Suci Alquran.

Yang lain tak usah dibicarakan karena sudah terkandung pada tiga kepercayaan di atas. Sebagai contoh, bila percaya kepada Rasulullah Muahammad saw pasti terkandung makna percaya kepada malaikat juga. Sebab siapa yang menyampaikan wahyu jika bukan malaikat? Begitu juga masalah hari kemudian, pasti ada dalam Alquran.

Keadilan idemdito, sebab begitu adilnya Tuhan sampai pahala atau dosa kita sebesar “zarrah” juga masih dihitung oleh-Nya. Jadi walaupun malaikat dan keadilan dicantumkan tersendiri sudah masuk maknanya dalam tiga rukun di atas. Jika kembali kepada mazhabnya, barulah dimunculkan yang selain yang tiga di atas.

Jika masih ada di antara umat Islam yang berbeda pada tataran ini, mungkin sudah sangat kurang. Walau pun jika terpaksa masih ada yang tidak sepakat dengan tiga rukun, maka terakhir kita pilih saja satu rukun yaitu “ketauhidan”. Saya kira bila tidak sepakat lagi dengan ketauhidan sudah keterlaluan.

Pilihan tunggal ini masih mungkin jika kita menghayati sejarah Fir’aun Mernptah (Putra Fir’aun Ramesses II) yang meninggal tenggelam di Laut Merah, saat mengejar Nabi Musa AS dan taubatnya sudah diterima Tuhan, padahal saat beliau menyerahkan diri kepada Tuhan YME hanya membaca kalimat Tauhid tanpa menyebut Rasul (Musa) dan kitab suci (Taurat). Mohon analisis Surat Yunus 88-92 (10:88-92). Inilah syahadat Fir’aun Mernptah: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (10:90)
Sampai di sini tidak ada lagi rukun yang dapat direduksi demi persatuan atau toleransi. Jika mau lagi direduksi, berarti kita sudah “atheis”. Ini berarti bencana kita datangkan berselimutkan kata toleransi. Rupanya umat “atheis” lebih mudah dipersatukan daripada umat beragama, khususnya umat Islam.

Dari tahap-tahap toleransi atau persatuan umat dapat ditempuh bertahap: Pertama, menghilangkan furuyiah, umat toleran dalam rukun Islam saja. Kedua, mengurangi juga jumlah rukun, cukup tiga rukun: Ketauhidah (percaya pada Allah swt), Kepercayaan kepada Rasulullah saw, percaya pada Alquran. Ketiga, Rukun cukup satu, Ketauhidan. Saya merasa dengan tahap ketiga, dengan tiga rukun sudah dapat dijadikan “Trias Rukun” sudah dapat menyatukan umat, tidak perlu lagi saling mengafirkan, karena dapat diterima oleh semua kelompok umat (Sunni, Syiah, Ahmadiyah). Wassalam. (*)

Berita Terkait