Fajar

  Breaking News

Quo Vadis Mamminasata

Mohammad Muttaqin Azikin Pengurus Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Sulawesi Selatan dan Peneliti pada Ma’REFAT Institute (Makassar Research for Advance Transformation).

Suatu saat pada 31 Maret 2007, digelar diskusi panel yang bertajuk “Menyorot Pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasata.” Acara ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka Temu Alumni I dan Pembentukan Ikatan Alumni (IKA) Teknik Planologi/Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas “45” Makassar, saat itu.

Mamminasata diangkat menjadi topik pembahasan kala itu, karena konsep perencanaan dan pengembangan Mamminasata, dipandang sebagai sebuah usaha dan upaya dalam mengurai berbagai problematika perkotaan yang dialami oleh Kota Makassar dan daerah-daerah sekitarnya. Namun sekarang, rasanya kita perlu menyorot kembali, seperti apa progres dan kemajuan dari perencanaan kawasan Mamminasata tersebut.

Mengapa kita perlu pertanyakan? Karena, konsep ini dari segi waktu, sesungguhnya sudah cukup lama digulirkan. Begitu pula, sudah sekian banyak proyek perencanaan dikerjakan dengan atas nama Mamminasata. Namun, masyarakat belum sepenuhnya mengerti apa yang menjadi hambatan dan kendala yang dihadapi, sehingga implementasi dari perencanaan dan pengembangan kawasan Mamminasata ini belum begitu terlihat adanya kemajuan yang signifikan.

Seperti diketahui, Mamminasata adalah merupakan pengembangan kawasan terpadu, yang meliputi; Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar, yang diorientasikan pada terwujudnya interkoneksitas yang kuat antar daerah tersebut dalam suatu sistem metropolitan, agar tercipta sinergitas serta keterkaitan fungsional, yang dapat menghasilkan dampak positif dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Dari diskusi pada 2007 di atas, terdapat beberapa catatan dari makalah yang disampaikan oleh Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan ketika itu, yang dikomparasikan dengan salah satu tulisan dalam buku “Menjadi Seorang Planolog”, di mana disebutkan bahwa penyusunan RTRW kawasan terpadu ini untuk pertama kalinya dengan nama “Minasamaupa” (Sungguminasa-Maros-Ujungpandang) dilakukan pada 1980-an. Kemudian dibuat revisi RTRW Minasamaupa di 1992. Lalu, muncul pemikiran untuk memasukkan Kabupaten Takalar dalam sistem keterpaduan tersebut, maka disusunlah selanjutnya RTRW “Minasamaupata” pada 2000. Setelah nama Kota Ujungpandang dikembalikan menjadi Kota Makassar, maka dilakukan adaptasi dengan perubahan nama menjadi RTRW Minasamamata. Pada 2001, dilakukan peninjauan ulang untuk kemudian mengubah nama dari konsep pengembangan kawasan terpadu ini menjadi RTRW Mamminasata.
Pada awal 2003, dilakukan launching “Konsep Pengembangan Kawasan Mamminasata”.

Selanjutnya, proses legislasi ditempuh untuk memperkuat dalam hal pelaksanaannya. Maka, pada 20 Agustus 2003, ditetapkanlah Perda No. 10 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan Mamminasata. Lalu, 19 Oktober 2003, kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Wali Kota/Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota se-Wilayah Mamminasata, untuk Kerja sama Pembangunan Prasarana dan Sarana Terpadu dalam Wilayah Metropolitan Mamminasata. Setelah itu, dibentuklah wadah Pengelola Metropolitan Mamminasata lewat SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 860/XII/2003 yang bernama Badan Kerja Sama Pembangunan Metropolitan Mamminasata (BKSPMM). Badan ini berfungsi melaksanakan pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang di wilayah Metropolitan Mamminasata. Dan terakhir, dalam rangka memperkuat pelaksanaan pembangunan Mamminasata, diterbitkanlah Peraturan Presiden RI Nomor. 55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Mamminasata (Makassar-Maros-Sungguminasa-Takalar).

Dari perjalanan panjang konsep perencanaan dan pengembangan Mamminasata ini, yang sudah melewati kurun waktu tiga puluh tahun lebih, menjadi wajar jika kemudian memunculkan pertanyaan terkait berbagai hal, di antaranya: Pertama, sudah seberapa jauh kemajuan dari pelaksanaan pengembangan kawasan terpadu Mamminasata tersebut? Informasi terkait hal ini perlu dipublis ke publik atau masyarakat luas, karena menyangkut akuntabilitas penggunaan anggaran negara yang tidak kecil.

Kedua, Masihkah nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2003 itu, berjalan efektif hingga sekarang? Pasalnya, infrastruktur yang berada di wilayah pinggiran atau perbatasan daerah antara Makassar-Maros serta antara Makassar-Gowa, masih terlihat kurang memadai.

Ketiga, apakah BKSP Metropolitan Mamminasata yang pernah dibentuk itu, masih eksis dan terus menjalankan peran dan fungsinya sampai saat ini, ataukah lembaga tersebut sudah tidak ada lagi? Keempat, apakah koordinasi antar kepala daerah dalam wilayah Mamminasata, masih berjalan secara berkala dan efektif, terutama saat dilakukan sinkronisasi rumusan kebijakan pembangunan dan kebijakan spasial di daerahnya masing-masing?

Dalam perencanaan tata ruang, kawasan Mamminasata sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN), yang mana wilayah penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh yang sangat penting secara nasional terhadap berbagai aspek. Oleh sebab itu, maka secara hirarkis, keempat daerah dalam wilayah Mamminasata, mesti menyelaraskan perencanaan pembangunan dan tata ruang daerahnya dengan konsep pengembangan Mamminasata.

Akhirnya, mau ke mana sebetulnya konsep Mamminasata ini? Sejumlah pertanyaan di atas, perlu mendapatkan respons serta penjelasan dari instansi terkait yang berkompeten, agar menjadi jelas dan tidak menimbulkan spekulasi di tengah-tengah masyarakat. Dan lebih penting dari itu, bahwa merupakan hak setiap orang untuk mengetahui informasi yang terkait dengan penataan ruang, termasuk dalam hal ini mengenai perencanaan dan pengembangan kawasan Mamminasata. (*)

Author : rika

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Klasemen Terbaru La Liga Spanyol: Real Madrid Pertama, Villareal ke-18

Liga Spanyol | 18 menit lalu
 

Kembali Curi Poin di Etihad, Koeman Puji Pemain Muda Ini

Liga Inggris | 28 menit lalu
 

Imbang di Kandang, Pep Guardiola Marah pada Wasit

Liga Inggris | 30 menit lalu
 

Ajak Mahasiswa Belajar Vampir, Dosen Psikologi Ini Diajukan ke...

Peristiwa | 60 menit lalu
 

Perolehan Medali Sementara SEA Games 2017: Indonesia Turun ke Posisi 4

All Sportif | 1 jam lalu
 

Kapten Madrid Jadi Pengoleksi Kartu Merah Terbanyak, Marcelo Anggap...

Liga Spanyol | 2 jam lalu
 

Klasemen Pekan 2 Premier League Inggris: Klub Promosi Tempel MU

Liga Inggris | 2 jam lalu
 

Jamaah Calon Haji Asal Sulteng Gelar Upacara HUT RI di Tanah Suci

Liputan Haji | 2 jam lalu
 

Dua Kartu Merah, Laga Manchester City Kontra Everton Berakhir Imbang...

Liga Inggris | 2 jam lalu
 

Pelaku Teror Barcelona Akhirnya Tewas Diterjang Peluru

Internasional | 2 jam lalu
 

Bu Susi: Kenyataannya, Lebih 10 Ribu Kapal yang Tangkap Ikan Secara...

Nasional | 2 jam lalu
 

Tak Kuat Disiksa 4 Tahun, Anak Polisikan Ayah Kandungnya

Kriminal | 3 jam lalu
 

Ini Alasan Elektabilitas Bupati Cantik Ini Rendah

Politik | 4 jam lalu
 

Khusus Dewasa: Mr P Gagal Berikan Orgasme Buat Pasangan, Ini Tujuh...

Kesehatan | 4 jam lalu
 

Ketua Pemuda Muslimin Maros Siap Pimpin KNPI

Metropolis | 5 jam lalu
 

300 Siswa Belajar Jadi Pengusaha

Pendidikan | 6 jam lalu
 

PPP Serahkan Surat Dukungan ke NH-Aziz

Pilgub Sulsel 2018 | 7 jam lalu
 

Bersyiar Lewat Film Nyai Ahmad Dahlan

Hiburan | 7 jam lalu
 

Surati Asprov PSSI, Sidrap United Minta Semi Final di Kandang

Sepakbola Nasional | 8 jam lalu
 

CJH Pangkep Kloter 30, Dominan Perempuan

Pangkep | 8 jam lalu
 

Film Nyai Ahmad Dahlan, Peran Penting Perempuan dalam Keluarga dan...

Hiburan | 8 jam lalu
 

Anjing Pidbull Tewas Ditembak, Gigit Enam Warga di Sidrap

Sidrap | 9 jam lalu
 

Polres Pangkep Amankan Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

Kriminal | 9 jam lalu
 

Hindari Temuan BPK, Pengurus Parpol Sidrap Diajari Cara LPj Bantuan...

Sidrap | 9 jam lalu
 

Dua Polwan Cantik Dapat Reward

Metropolis | 11 jam lalu

Load More