Fajar


 Breaking News

Perpecahan di Tengah Ramadan

Nur Aisyah Tasrie Alumni Akademi Keperawatan Makassar


Ramadan bulan penuh berkah, di dalamnya kita mendapat banyak kesempatan untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala, masa di mana kaum muslimin mempersembahkan ibadah terbaiknya.

Namun, Ramadan kali ini cukup sulit bagi kaum muslimin, berbagai ujian tengah dihadapi. Kondisi saat ini banyak persoalan yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan, dunia nyata hingga maya ramai dengan ujaran-ujaran kebencian, mirisnya hal tersebut terjadi di antara kaum muslimin itu sendiri.

Sejak kasus penistaan agama yang dilakukan oleh bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, kegaduhan terjadi di negeri ini. Banyak masalah-masalah baru yang muncul setelah kejadian penistaan surat Al Maidah ayat 51 tersebut. Isu-isu anti-Pancasila, anti-NKRI, anti-kebinekaan pun terhembus begitu kencang. Hingga berujung pada tindakan-tindakan kriminalisasi terhadap ulama dan ormas-ormas Islam.

Masyarakat pun memberikan respons. Contohnya saja terkait kasus Habib Rizieq salah seorang dokter pada salah satu RSUD di Solok, Sumatera Barat, dr. Fiera Lovita mengutarakan pendapatnya dalam status Facebooknya yang isinya mengherankan sikap pimpinan Front Pembela Islam tersebut terhadap kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi. Dokter Fiera kemudian memberitahukan kepada media bahwa dirinya akan meningggalkan Kota Solok, sebab ia tidak lagi merasa aman akibat adanya intimidasi oleh sekelompok orang, dan tindakan intimidasi tersebut pun mendapat protes dari pegiat HAM dan pengguna media sosial. (bbc.com, 27-05-2017)

Meskipun setelahnya muncul klarifikasi bahwa intimidasi ataupun tindakan persekusi yang diakui dr. Fiera tersebut tidak benar. Bahkan, masyarakat Solok menganggap dr. Fiera telah membuat suasana gaduh dan mengganggu ketenangan Kota Solok, karena terkesan telah mengadu domba. Masyarakat Solok pun melakukan aksi simpati yang dipimpin oleh Ketua DPRD daerah setempat, dan diikuti berbagai lapisan masyarakat. (jawapos.com, 06-06-2017)

Tak hanya masalah dr. fiera, ada pula pemberitaan tentang penangkapan admin akun instagram @muslim_cyber1 oleh Direktorat Cyber Bareskrim Polri. Penangkapan tersebut dilakukan sebab akun tersebut mengunggah konten bermuatan kebencian dan bernuansa sara (nasional.republika.co.id, 28-05-2017)

Inilah ujian kaum muslimin Indonesia di tengah bulan suci ini. Ramadan tak lagi bernuansa ketenangan dan kedamaian. Konflik horizontal di tengah-tengah umat terjadi akibat sikap pemerintah yang melakukan pembiaran, terhadap pihak-pihak yang melakukan penistaan agama dan kriminalisasi ulama.

Sejak kasus penistaan agama oleh Ahok yang terkesan ditunda-tunda pengusutan kasusnya, lebih dari tujuh juta umat muslim pun berkumpul di Jakarta pada 2 Desember 2016 silam. Setelah itu, mencuat pula kasus yang menjadikan Habib Rizieq sebagai tersangka, dan banyak pula ulama-ulama yang mendapat penolakan di beberapa daerah serta ada pula yang ditangkap. Selain itu, juga pengumuman pemerintah yang hendak membubarkan ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Gejolak di tengah masyarakat pun tak bisa dihindari. Pertempuran opini antara yang pro dan kontra cukup panas. Akibatnya, sesama saudara kaum muslimin pun muncul konflik yang bisa jadi berujung pada kebencian. Karena tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah, maka masyarakat yang merasa geram pun akan melakukan tindakan-tindakan sebagai bentuk protes terhadap kasus yang ditujukan pada ulama atau ormas Islam.

Selain itu, perbedaan pandangan masyarakat dijadikan oleh kafir penjajah sebagai alat untuk adu domba dan memecah-belah persatuan umat Islam, sehingga kaum umat Islam sibuk saling memusuhi dan melupakan musuh sejati mereka, yakni kaum kafir yang senantiasa menjajah negeri ini dengan kekuatan kapitalisme mereka. Kita sibuk saling berselisih sedang mereka para penjajah tertawa terbahak-bahak melihat kita. Inilah senjata jitu mereka yang disebut politik devide et impera atau politik pecah belah, yang kemudian akan mampu menjaga eksistensi mereka para penjajah untuk semakin menjerat negeri ini dalam cengkeramannya, tanpa harus mereka berlelah-lelah menjajah kita secara fisik.

Kaum muslim perlu menyadari hal ini agar tidak terhasut apalagi media-media mainstream pun, seolah berpihak pada pihak-pihak yang hendak memecah belah umat tersebut. Cukuplah firman Allah dalam Surah Al Hujurat ayat 10; bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sudah barang tentu bagi kita kaum muslimin ikatan akidah adalah di atas segalanya. Tak heran, dalam sejarah kejayaan Islam, sepanjang ribuan tahun umat Islam dengan segala perbedaannya mereka tetap bisa hidup harmonis. Terlebih, kita dalam suasana bulan Ramadan, momen yang sangat pas untuk kita saling muhasabah diri dan mempererat tali ukhuwah Islamiyah, sebab dengannya kaum muslim akan memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan ”The real enemy”. Wallahu a’lam bish shawaab (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE