Fajar


 Breaking News

Starup Makassar, Bisa “Tonji”

A.M.Nur Bau Massepe Unit Pengembangan Kewirausahaan dan Bisnis (UPKB) Unhas dan Pemerhati UMKM


Dalam beberapa tahun belakangan ini, perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri kecil menengah (IKM), atau lebih familiar dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tidak perlu diragukan lagi.

Berbagai upaya yang telah dilakukan seperti memberi pelatihan, pembinaan, bantuan modal, memberikan award (UKM award lomba antar lorong), program BULO (Badan Usaha Lorong), program bank sampah, bantuan peralatan, memberi fasilitas pelaku UMKM agar produknya bisa ekspor ke luar negeri dan banyak lain. Program tersebut sebagai bukti pemerintah peduli, walaupun secara nilai bisnis kecil tetapi pelaku UKM memiliki sumbangsih besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Tercatat IKM di Indonesia telah memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 99,74 persen dari total serapan nasional, dan memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp1.013,5 triliun atau 56,73 persen.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan pemerintah, bagaimana “kepedulian” terhadap kelompok UMKM yang berbasis digital yang bisa disebut dengan startup. Saya menggunakan kata startup untuk menunjukkan bahwa salah satu golongan UMKM berbasis ICT (Information Communication and Technology) yang merupakan perusahaan rintisan, pasarnya masih belum kuat dan besar.

Di Indonesia, industri startup mulai menggeliat setelah bisnis dotcom mulai bergairah kembali setelah fenemona bubble dot.com di Amerika sana. Masih sedikit riset tentang perkembangan industri startup di Indonesia, namun hal ini dapat diamati mulai bermunculan di 2010 manakala sering diadakannya pertemuan dan gathering bagi anak-anak muda yang memiliki kesamaan minat akan bisnis digital. Jakarta, Bandung dan Yogyakarta merupakan tiga kota yang memiliki animo tinggi terhadap tumbuh kembangnya perusahaan berbasis startup tersebut. Ketiga kota itu mendorong tumbuh kembangnya komunitas seperti Bandung Digital Valley, Jogja Digital Valley. Di kota-kota lain seperti Semarang, Bali, dan Surabaya tidak ketinggalan kemudian.

Munculnya even-even seperti Wolrd Camp Indonesia di 2010, mengadopsi even startup internasional menjadi penyemangat bagaimana pebisnis startup itu bermunculan bagai jamur. Adanya FOWAB, COMFEST, HIMSISFO, Enchelon merupakan even yang diinisiasi para pelaku startup di Indonesia, kini perusahaan telekomunikasi seperti Telkom Group sejak 2013, mulai berkonstribusi dengan aktif melakukan even seperti Indigoo, Next Dev, dan program inkubator bisnis dengan tujuan mendorong tumbuh kembangnya bisnis berbasis digital.

Di kota Makassar belum sehiruk pikuk dengan startup di kota-kota besar tadi. Sekali lagi belum ada penelitian komperensif bagaimana pertumbuhan startup lokal di kota ini. Namun observasi di lapangan, kehadiran startup di Kota Makassar mulai berkembang setelah terbentuk komunitas di 2014. Ini dimotori terbentuknya DiLO oleh MIKTI (Indonesia Digital Creative Industry Community) bekerja sama dengan Telkom, dan Makassar salah satu cabang dari itu.

Apa peran pelaku Startup bagi perekonomian daerah ini? Potensi apa yang bisa mereka bisa hasilkan? Bagaimana bekerjasama dalam pengembangan startup di daerah? Startup merupakan perusahaan yang menjadi cikal bakal akan menumbuh kembangkan industri kreatif. Bilamana idustri kreatif maju, maka pelaku usaha seperti startup ini juga harus berkembag. Dengan adanya roadmap perkembangan industri kreatif pemerintah pusat sebagai solusi terhadap jatuhnya harga komoditas berbasis sumber daya alam belakangan ini, memberi sinyal bahwa industri ini akan berkembang di masa depan. Oleh karena itu starup juga akan berkembang.

Obsesi Presiden Jokowi ingin melakukan revolusi industri baru dengan basis ekonomi digital, hal ini tertuang pada paket kebijakan ekonomi ke-14, targetnya nilai e-commerce sebesar USD130 miliar (sekitar Rp1.756 triliun) pada 2020. Harapannya industri ekonomi kreatif akan mendorong perkembangan ekonomi berbasis digital ini. Bagiamana Kota Makassar? Kendala utama yang dihadapi belum kuatnya lingkungan bisnis pada industri pelaku startup. Lingkungan ini belum ramah bagi para pelaku startup sehingga yang baru berdiri tidak berlangsung lama akan mati dengan sendirinya. Perlu penataan ekosistem untuk pelaku UMKM yang namanya startup ini.

Lingkungan bisnis industri startup ini harus didesain pemangku kepentingan agar startup memiliki ruang untuk hidup. Hal yang diperhatikan adalah seperti menyediakan inkubator bisnis, fasiltas co-working spaces, menginisiasi para pemodal di bidang startup (angle investor, venture capital, atau pun lembaga keuangan), kompetisi bisnis, memfasilitasi dengan business coach atau mentor bisnis dan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang mendukung para startup berkembang.

Kehadiran angle investor atau venture capital lokal diharapkan mampu memperkuat keberadaan pelaku startup di daerah. Selama ini keberadaan mereka lebih banyak di Jakarta, perlu edukasi bagaimana para pebisnis di Makassar ini mulai melirik bisnis startup sebagai suatu portofolio investasi yang menarik, tidak kalah dengan bisnis investasi properti, atau bisnis kuliner yang lagi marak itu.

Pemerintah daerah harus membuka mata bahwa para startup ini memiliki potensi yang belum terkelola dengan baik. Bila pemerintah mampu merangkulnya akan membawa dampak positif terhadap kemajuan daerah ini. Lihatlah beberapa bulan terakhir ini perusahaan Startup menghiasi iklan-iklan media massa seperti Traveloka, Tokopedia, Gojek. Grabcar, Bukalapak, Blanja.com, dan banyak lagi. Mereka yang 3-5 tahun lalu masih berupa perusahaan kecil, dikembangkan anak-anak muda, kini dengan kapitalisasi aset yang meningkat puluhan hingga ratusan miliar rupiah, startup tersebut mampu menggairahkan kembali belanja iklan media belakangan ini. Kehadiran Go-Jek, Grab-car, Bukalapak dan sebagainya, penulis menilai mendorong semangat kewirausahan dan etos bekerja bagi masyarakat lapis menengah, dan kehadiran startup ini dinilai banyak kalangan mampu mengatasi masalah sosial seperti pengangguran di daerah.

Di Makassar sediri startup mulai bermunculan seperti tanyabudi.com, caripondokan.com, tiketbusku, Mallsampah, NonQ, Hi-Clay, Yukfutsal, dan beberapa puluh startup lainnya, tidaklah mustahil mereka akan tumbuh besar dan dilirik para angle investor dan venture capital. Teringat lagu Art2tonic judulnya “Makassar Bisa Tonji, mengapa tidak “startup bisa tonji” seperti di kota-kota lain? (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE