Fajar

  Breaking News

OPINI: Urgensi Dialog Keagamaan

Burhanuddin

Direktur Eksekutif Dinamika Institute Sulsel dan Pengurus Komisi Infokom MUI Sulsel

Islam merupakan ajaran pertengahan (wasathiyah). Ajaran yang tidak berlebihan-lebihan dalam suatu masalah. Sebaliknya, tidak juga terlalu memudah-mudahkan. Islam tidak condong ke pemahaman Nasrani. Juga tidak condong pemahaman agama Yahudi.

Misalnya; dalam perlakuan terhadap wanita haid. Yahudi menganggap wanita haid sebagai najis. Wajib dijauhi. Sedangkan Nasrani menganggap wanita haid bisa digauli. Islam berada di tengah-tengahnya. Bagi ajaran Islam, wanita haid tidak boleh dijauhi. Namun, juga tidak berhubungan badan dengan orang haid.

Begitulah pemahaman dan ajaran Islam. Berada di pertengahan di antara ajaran agama lain. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai sebuah lembaga otoritas agama Islam. Dalam setiap dakwahnya menjadikan Islam wasathiyah sebagai tema sentralnya. Dalam kekinian, Islam pertengahan biasa juga disebut dengan Islam moderat. Meski demikian, kerap kali Islam moderat disalahartikan oleh kelompok-kelompok liberal. Kelompok Liberal menjustifikasi Islam moderat untuk menyerang kelompok yang ingin menjalankan ajaran agama sesuai Alquran dan Hadis Rasulullah saw. Kelompok Islam moderat menyebut kelompok tersebut dengan fundamentalis.

Di sinilah biasa muncul masalah. Sering kali terjadi benturan. Kelompok mengatasnamakan Islam moderat dengan kelompok fundamentalis. Terutama dalam mendakwahkan ajaran dan pemahamannya kepada umat. Benturan bukan lagi dalam bentuk pemikiran. Akan tetapi sudah mengarah ke kontak fisik atau perkelahian.

Sebagaimana akhir-akhir ini. Beberapa kejadian yang memilukan dan meresahkan. Seperti kasus pengusiran Ustaz Dr Khalid Basalamah di Jawa Timur oleh anggota Banser. Penyebanya, karena dianggap mendakwahkan ajaran yang fundamental. Padahal, Ustaz Khalid hanya mendakwahkan ajaran Islam yang sesuai dengan Alquran dan Hadis.

Begitu juga dengan aksi penolakan parade khilafah Hizbut Tahrir  Indonesia (HTI) kembali oleh Banser. Pengadangan tersebut sudah mengarah ke konflik fisik, seandainya HTI tidak mengalah. Belajar dari gesekan tersebut, HTI kemudian ingin dibubarkan oleh pemerintah.

Berkaca dari berbagai kejadian di atas. Para pemuka agama hendaknya mengedepankan dialog keagamaan. Dialog tentang dakwah wasathiyah. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman. Mengingat semua kelompok keagamaan, juga mengklaim menegakkan dan mendakwahkan ajaran Islam wasathiyah.

 

Manfaat Dialog

Menurut mantan Ketua DPP NU, KH Hasyim Muzadi, ummatan washatan adalah umat yang selalu bersikap tawashut (jalan tengah) dan i’tidal (bersikap adil-seimbang); menyeimbangkan di antara iman dan toleransi. Keimanan tanpa toleransi menbawa ke arah eksklusivisme dan ekstremisme; dan sebaliknya, toleransi tanpa keimanan berujung pada kebingungan dan kekacauan.

Dengan toleransi, ummatan washatan berusaha hidup bersama secara damai baik intra maupun antaragama. Di sinilah perluanya membangun dialog keagamaan. Demi terciptanya kerukunan hidup beragama. Baik sesama agama Islam maupun antarumat beragama. Kerukunan beragama akan melahirkan kehidupan yang aman dan damai.

Dialog keagamaan akan menjadi solusi dari berbagai persoalan berupa gesekan dalam kehidupan beragama. Apalagi, sekarang ini gesekan kian kerap terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Gesekan tersebut berpotensi menimbulkan konflik horizontal, jika potensi konflik tidak dikelola dengan baik.

Negara wajib hadir dalam mengelola pontesi konflik tersebut. Akan tetapi, masyarakat juga tidak boleh absen. Terutama para elite masyarakat, para ulama, tokoh politik, dan tokoh agama. Bukan sebaliknya. Kerap kali para elite negara, tokoh politik, serta tokoh masyarakat. Menjadi aktor utama dalam menyulut bara konflik di masyarakat. Misalnya; mengeluarkan komentar yang bisa menprovokasi masyarakat. Seperti ungkapan Gubernur Kalimntan Barat, Cornelis yang akan mengusir ulama, jika berkunjung ke Kalimantan Barat. Komentar tersebut menyulut amarah kaum muslimin.

Olehnya itu pemerintah, ulama, tokoh politik, dan masyarakat harus mengedepankan dialog dalam menyelesaikan segala potensi konflik keagamaan. Apalagi, era globalisasi dengan perkembangan teknologi yang kian maju. Berbagai persoalan di suatu daerah cepat tersebar ke daerah lain. Lewat medsos semuanya bisa terakses oleh masyarakat. Ini menjadi tantangan terberat dalam merajut kehidupan toleransi dalam kehidupan beragama di dunia. Akan tetapi tidak berarti bersikap pasrah. Ikhtiar maksimal harus dilakukan.

Indonesia mayoritas penduduknya Islam, dan terbesar di dunia. Begitu juga dengan berbagai agama, aliran kepercayaan, serta suku, dan budaya. Merawat toleransi dalam kehidupan beragama adalah sebuah keharusan. Mengabaikan persoalan toleransi, berarti membiarkan masyarakat bercerai-berai berujung ke konflik. Siapa pun tidak ingin terjadi. Semuanya tidak akan membawa kesejahteraan. Sebaliknya, akan membawa penderiataan bagi rakyat. Cukuplah konflik di berbagai negara di dunia menjadi pelajaran berharga. (*)

Author : Alief Sappewali

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Klasemen Terbaru La Liga Spanyol: Real Madrid Pertama, Villareal ke-18

Liga Spanyol | 17 menit lalu
 

Kembali Curi Poin di Etihad, Koeman Puji Pemain Muda Ini

Liga Inggris | 28 menit lalu
 

Imbang di Kandang, Pep Guardiola Marah pada Wasit

Liga Inggris | 30 menit lalu
 

Ajak Mahasiswa Belajar Vampir, Dosen Psikologi Ini Diajukan ke...

Peristiwa | 60 menit lalu
 

Perolehan Medali Sementara SEA Games 2017: Indonesia Turun ke Posisi 4

All Sportif | 1 jam lalu
 

Kapten Madrid Jadi Pengoleksi Kartu Merah Terbanyak, Marcelo Anggap...

Liga Spanyol | 2 jam lalu
 

Klasemen Pekan 2 Premier League Inggris: Klub Promosi Tempel MU

Liga Inggris | 2 jam lalu
 

Jamaah Calon Haji Asal Sulteng Gelar Upacara HUT RI di Tanah Suci

Liputan Haji | 2 jam lalu
 

Dua Kartu Merah, Laga Manchester City Kontra Everton Berakhir Imbang...

Liga Inggris | 2 jam lalu
 

Pelaku Teror Barcelona Akhirnya Tewas Diterjang Peluru

Internasional | 2 jam lalu
 

Bu Susi: Kenyataannya, Lebih 10 Ribu Kapal yang Tangkap Ikan Secara...

Nasional | 2 jam lalu
 

Tak Kuat Disiksa 4 Tahun, Anak Polisikan Ayah Kandungnya

Kriminal | 3 jam lalu
 

Ini Alasan Elektabilitas Bupati Cantik Ini Rendah

Politik | 4 jam lalu
 

Khusus Dewasa: Mr P Gagal Berikan Orgasme Buat Pasangan, Ini Tujuh...

Kesehatan | 4 jam lalu
 

Ketua Pemuda Muslimin Maros Siap Pimpin KNPI

Metropolis | 5 jam lalu
 

300 Siswa Belajar Jadi Pengusaha

Pendidikan | 6 jam lalu
 

PPP Serahkan Surat Dukungan ke NH-Aziz

Pilgub Sulsel 2018 | 7 jam lalu
 

Bersyiar Lewat Film Nyai Ahmad Dahlan

Hiburan | 7 jam lalu
 

Surati Asprov PSSI, Sidrap United Minta Semi Final di Kandang

Sepakbola Nasional | 8 jam lalu
 

CJH Pangkep Kloter 30, Dominan Perempuan

Pangkep | 8 jam lalu
 

Film Nyai Ahmad Dahlan, Peran Penting Perempuan dalam Keluarga dan...

Hiburan | 8 jam lalu
 

Anjing Pidbull Tewas Ditembak, Gigit Enam Warga di Sidrap

Sidrap | 9 jam lalu
 

Polres Pangkep Amankan Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

Kriminal | 9 jam lalu
 

Hindari Temuan BPK, Pengurus Parpol Sidrap Diajari Cara LPj Bantuan...

Sidrap | 9 jam lalu
 

Dua Polwan Cantik Dapat Reward

Metropolis | 11 jam lalu

Load More