Fajar


 Breaking News

Menyikapi Pro Kontra Full Day School

Syamsul Rahman Dosen Universitas Islam Makassar (UIM)


FULL Day School (FDS), resmi diberlakukan pada tahun ajaran 2017/2018 yang akan datang. Hal ini terkait dengan telah ditandatanganinya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2017 oleh Kemendikbud.

Dalam Permendikbud disebutkan, hari sekolah mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA berlangsung selama 8 jam sehari, selama lima hari dalam seminggu. Tujuannya, membentuk karakter siswa sehingga lebih fokus belajar, menghindarkan diri dari tawuran, kenakalan remaja, dan paham radikalisme. Selain itu, pasca belajar dari pagi sampai siang, siswa bisa mendapatkan pelajaran tambahan, juga sekaligus dapat beristirahat, makan siang, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah masing-masing.

Rencana penerapan FDS tersebut mengundang pro dan kontra di masyarakat. Pihak yang pro mengatakan, dengan FDS dapat membantu orang tua yang bekerja. Mereka dapat fokus bekerja, sementara kegiatan anak dapat terkontrol oleh sekolah. Saat ini memang banyak sekolah menawarkan kurikulum FDS bahkan dalam bentuk sekolah berasrama (boarding school). Kegiatan siswa selama 24 jam dipantau pihak sekolah. Dan realitanya, banyak orang tua yang berminat menyekolahkan anak ke boarding school walau harus membayar mahal. Sejalan dengan pihak yang pro, Kemendikbud menjawab kritikan terhadap rencana penerapan FDS dengan memberikan alasan dan pertimbangan (FAJAR,13/6). Pertama, kebijakan lima hari sekolah merupakan implementasi dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kedua, akan mengintegrasikan nilai utama yaitu relijius, nasionalis, gotong-royong, mandiri, dan integritas. Ketiga, siswa tidak harus belajar selama 8 jam penuh di kelas, tetapi diisi kegiatan variatif dengan proporsi pengetahuan 30 persen dan pembentukan karakter 70 persen. Keempat, guru diminta mengurangi ceramah di kelas, diganti aktivitas-aktivitas yang terkait pembentukan karakter.

Pihak yang kontra berpandangan, kegiatan FDS akan menambah beban guru dan siswa. Guru bukan hanya mengurus murid-muridnya di sekolah, tapi juga memiliki suami, istri, atau anak yang harus diurus alias perlu diperhatikan. Kalau guru harus stand by di sekolah sampai sore, tentunya suami, istri, anak mereka akan protes. Selain guru, siswa juga berpotensi mengalami kebosanan atau stres karena dikurung sepanjang hari di sekolah. Apalagi kalau program yang dilaksanakan sekolah kurang menarik atau kurang variatif. Waktu bermain anak juga menjadi berkurang, termasuk untuk mengisi kegiatan belajar pasca belajar sekolah, anak juga belajar atau mengaji pada sore hari di TKA/TPA/ Madrasah Diniyah.

Dalam konteks sosiologis, FDS dinilai menjauhkan siswa dari lingkungan bermainnya atau bersosialisasi dengan tetangganya. Hal ini dapat menimbulkan siswa merasa asing dengan lingkungan tempat tinggalnya, merasa minder, tidak mau bergaul, dan tertutup terhadap tetangganya walau di sekolah anak tersebut mungkin memiliki banyak teman. Bagi sekolah yang memberlakukan sistem dua shift (belajar pagi dan siang), penerapan FDS tentunya akan menjadi kendala karena mereka mengalami keterbatasan tempat dan guru. Siswa yang jarak dari rumah ke sekolahnya jauh tentunya juga akan mengalami kendala karena dia sampai rumah pada saat magrib.

Para pakar pendidikan yang kontra dengan kebijakan ini menilai, penerapan FDS ini bentuk kekeliruan menyikapi pendidikan dan persekolahan. Seolah-olah pendidikan identik persekolahan, padahal pendidikan jauh lebih luas. Pendidikan dapat dilakukan di rumah, sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, sekolah hanya salah satu unsur dalam pendidikan. Banyak bukti empirik menunjukkan, orang-orang sukses bukan hanya orang yang berprestasi akademik yang baik di sekolah, tetapi yang memiliki keterampilan hidup (life skill) yang bagus. Penelitian Harvard University di Amerika Serikat menyimpulkan, kesuksesan seseorang hanya 20 persen ditentukan hard skill dan 80 persen oleh soft skill. Penerapan FDS hanya akan menempatkan sekolah sebagai penjara bagi siswa dan membatasi mereka dalam melatih keterampilan hidup. (*)

Sudah Launching Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Terkait

CLOSE