Fajar

  Breaking News

Asa vs Polemik Membangun CPI

Ismail Marzuki Dosen Unifa Makassar

Perkembangan pembangunan fisik di kawasan Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar, dalam satu tahun terakhir ini cukup pesat. Dimulainya beberapa pekerjaan fisik pada lahan konvensasi 157 Ha oleh Pemprov Sulsel, seperti Wisma Negara, Masjid 99 Kubah adalah wujud dari asa dan niat baik semata berpihak pada kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat.

Di lain pihak, oleh pemgembang PT. Yasmin Bumi Asri (kontraktor) bersama Ciputra Tbk (pengembang) juga telah menampilkan destinasi wisata seperti pasir putih, master plant mirip burung Garuda, kaveling residence sunset core, kaveling premium komersial area, adalah bukti nyata bahwa ada komitmen dan asa dalam membangun CPI Makassar.

Pilar segitiga pengembangan CPI (Pemprov, kontraktor, dan pengembangan) diharapkan senantiasa berlomba, berkomitmen, dan memelihara asa dalam membangun kawasan CPI agar tercipta keseimbangan pembangunan untuk semua lapisan masyarakat. Meski demikian, masih terdapat pihak yang berpolemik hingga saat ini, yang dapat saja menjadi batu sandungan terhadap pilar segitiga pengembangan dalam membangun kawasan CPI tersebut. Beberapa pihak yang kontra atas reklamasi CPI, seperti Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP), Walhi, Masyarakat Nelayan, sebagian akademisi diharapkan tidak menjadi hambatan kepada Pemprov, kontraktor, dan pengembang dalam membangun kawasan CPI Makassar. Karenanya, menghadirkan asa dengan suguhan kreatif dan inovatif, prosedural dan tertib administrasi dapat menjadi jawaban untuk terjadinya asimilasi kebersamaan semata dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat.

Gejala adanya riak-riak yang bukan tidak mungkin dapat menjadi bola salju liar dalam membangun kawasan CPI Makassar, dapat dilihat dari penerapan retribusi masuk ke kawasan CPI, molornya pembangunan beberapa sarana fisik dan destinasi pada lahan konvensasi Pemprov Sulsel, hilangnya lahan untuk mendapatkan kerang oleh nelayan, protes Walhi dan ASP yang bahkan melakukan banding atas putusan PTUN yang baru-baru ini melakukan examinasi atas reklamasi CPI. Hal inilah yang menjadi keprihatinan sebagian masyarakat terkait masa depan kawasan CPI, dan memunculkan tanda tanya besar dalam benak mereka “Akankah kawasan CPI tetap terbuka dan menjadi milik seluruh lapisan masyarakat”, sebagaimana tujuan awal dari reklamasi berdasarkan Undang-undang Nomor 27/2007, Pasal 34, sekaligus menjadi aura reklamasi, yakni reklamasi hanya dapat dilakukan jika memberi manfaat sosial-ekonomi dan mendatangkan kesejahteraan pada masyarakat luas, dibandingkan biaya sosial-ekonomi yang dikeluarkan dalam pelaksanaannya.

Pengawasan dan menitoring perlu dilakukan secara konsisten, tegas, dan kontinu oleh pihak yang berwewenang dan kalangan umum, misalnya Pemprov Sulsel, KKP, KLHK, LSM, dan masyarakat umum agar aura reklamasi kawasan CPI Makassar tetap terpelihara untuk mencapai tujuan sesungguhnya dari reklamasi, serta pengembangannya tetap berjalan sesuai dengan peruntukan yang semestinya yakni untuk kesejahteraan masyarakat luas, meski telah diketahui bahwa tujuan utama diadakannya reklamasi adalah untuk mendapatkan lahan baru untuk mengurangi kepadatan perkotaan, namun hal ini tidak boleh mengabaikan, mengorbankan, dan merusak aspek kepentingan pembangunan lainnya, termasuk lingkungan kawasan. Perlu diketahui bahwa kawasan CPI Makassar masuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde yang di dalamnya sangat terkenal dengan kekayaan ribuan jenis hayati, salah satunya keberadaan spons yang mencapai 2000-an species, dan spektakulernya karena hingga saat ini species spons yang telah diidentifikasi di kawasan tersebut tidak ditemukan di kawasan lain di belahan dunia manapun, sehingga menjadi kewajiban bersama untuk tetap mempertahankan keberadaan species-species langka tersebut, kelak nanti gugusan Kepulauan Spermonde dapat menjadi laboratorium riset terutama tentang potensi dan kemampaatan spons.

Pro-kontra pengembangan kawasan CPI Makassar tidak boleh menjadi penghalang oleh kontraktor, pengembang, dan Pemprov Sulsel untuk membangun CPI menjadi kawasan yang dapat mendunia karena keindahan dan ketersediaan sarana dan prasarananya yang disuguhkan, sehingga dapat menjadi tujuan kunjungan semua lapisan masyarakat, baik masyarakat dunia maupun masyarakat lokal, karena kebutuhan aktivitas ekonomi-sosial dan budaya yang ada di dalamnya, karena itu asa menjadi kebutuhan oleh pihak kontraktor dan pengembang termasuk Pemprov Sulsel untuk senantiasa menyuguhkan karya-karya inovatif-spektakuler yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Namun demikian, juga tidak boleh alergi dan apriori dengan kritikan khususnya dari komunitas kontra pengembangan CPI, karena kritikan dari komunitas tersebut justru dapat menjadi sumber informasi tentang kelemahan dan kekurangan pengembangan kawasan CPI tersebut, sekaligus menjadi patron untuk membangun Kawasan CPI Makassar, agar tidak keluar dari rel pengembangan kawasan untuk tujuan kemaslahatan semua masyarakat. Komunitas yang masih berpolemik terkait pengembangan kawasan CPI adalah sesuatu yang positif, karena poin-poin yang menjadi kekhawatiran mereka justru akan membuat pihak kontraktor, pengembang, dan Pemprov Sulsel mengambil sikap antisipasi dini agar kekhawatiran tersebut tidak menjadi kenyataan. (*)

 

Author : rika

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Babak Pertama, Indonesia Unggul 2-0 Atas Filipina

Sepakbola Internasional | 4 menit lalu
 

Begini Meriahnya Sambutan Warga ke IYL di Balla Lompoa

Pilgub Sulsel 2018 | 5 menit lalu
 

Maknai Proklamasi, Danrem Toddopuli Minta Kukuhkan Agama, Perkuat...

Bone | 7 menit lalu
 

Bupati Indah Bantu Veteran Rp14 Juta

Luwu Utara | 9 menit lalu
 

Siswa SMPN 1 Pangkajene Mendadak Jadi Wartawan di Peringatan HUT RI...

Pangkep | 14 menit lalu
 

Semarakkan Kemerdekaan, Enam Perusahaan Berkolaborasi di Program BUMN...

Metropolis | 24 menit lalu
 

Sejumlah Tokoh dan Ketua Parpol Kecewa Tak Diundang di Upacara HUT RI

Pinrang | 40 menit lalu
 

Remaja Masjid Tak Mau Ketinggalan Momen Kemerdekaan, Begini Semaraknya

Metropolis | 54 menit lalu
 

Petani Enrekang Sudah Uji Coba Delapan Unit Mesin Panen Padi

Enrekang | 1 jam lalu
 

Danny Lebih Pilih Sambangi Posko IYL-Cakka

Politik | 1 jam lalu
 

Kisah Perjuangan Andi Ninnong Terulang di HUT Kemerdekaan RI Ke-72

Wajo | 1 jam lalu
 

Empat Narapidana Rutan Masamba Langsung Bebas di Hari Kemerdekaan

Luwu Utara | 1 jam lalu
 

Semarakkan Kemerdekaan RI, Kodim 1421 Pangkep Gelar Khataman Alquran

Pangkep | 2 jam lalu
 

Belasan Sepeda Hias Meriahkan Lomba HUT RI di Tamalanrea

Metropolis | 2 jam lalu
 

Bau Tembakau Tercium, Bea Cukai Gagalkan Jutaan Batang Rokok Ilegal

Peristiwa | 2 jam lalu
 

Rumah Pemenangan GNH17 Rupanya Digunakan untuk Ini

Pilgub Sulsel 2018 | 2 jam lalu
 

Masyarakat Enrekang Nikmati HUT RI dengan Menyeruput Aroma Kopi

Enrekang | 2 jam lalu
 

KPU Enrekang Manfaatkan Momen Kemerdekaan untuk Sosialisasi Pilkada

Enrekang | 2 jam lalu
 

Dapat Remisi, Delapan Napi Rutan Pinrang Bebas

Pinrang | 2 jam lalu
 

Perolehan Medali Sementara SEA Games 2017: Indonesia di Peringkat...

All Sportif | 2 jam lalu
 

Siswa Baraka Bentangkan Bendera Sepanjang 350 Meter 

Enrekang | 2 jam lalu
 

Berita Foto: Wow... Begini Penampakan Gogos Terpanjang, Capai 17 Meter

Metropolis | 3 jam lalu
 

Peringati HUT Kemerdekaan RI, Forkopimda Enrekang Ziarahi Makam...

Enrekang | 3 jam lalu
 

Begini Cara Volunteer Dompet Dhuafa Rayakan HUT Kemerdekaan RI Ke-72

Gowa | 3 jam lalu
 

Langka... Jokowi-JK Foto Bareng dengan Tiga Mantan Presiden RI

Nasional | 3 jam lalu

Load More