Fajar

  Breaking News

Budaya Melestarikan Pangan Lokal

Astina Mahasiswi Program Studi Sains Agribisnis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Pangan merupakan salah satu aspek penunjang dalam menopang keberlangsungan hidup setiap manusia, dan hak setiap individu ataupun keluarga, dalam melakukan akses terhadap pemenuhan pangan.

Itu menjadikan sebuah tuntutan bagi penyedia pangan, untuk memenuhi ketersediaan pangan masyarakat. Maka dibutuhkan lompatan terhadap perpaduan teknologi yang tepat dan dapat dilakukan petani dalam memenuhi ketersediaan pangan nasional. Indonesia memiliki banyak sumber pangan dari beras, umbi-umbian, sampai sumber karbohidrat dari biji-bijian. Semua itu dapat dihasilkan petani kita. Hal ini menjadi salah satu keunggulan komparatif dari hasil pertanian yang ada di negeri ini. Semakin meningkatnya angka populasi penduduk menjadikan salah satu faktor yang mendorong adanya peningkatan produksi yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat, namun ada beberapa hal yang cukup memprihatinkan bahwa masyarakat belum memahami bagaimana memanfaatkan keterpaduan sumber pangan, sehingga tidak terjadi kesenjangan terhadap pemenuhan kebutuhan sumber pangan yang dipilih.

Beberapa masyarakat beranggapan “ia belum makan jika belum memasukan nasi ke dalam perutnya”, dan asumsi ini menjadikan sumber pangan lain bukanlah sebagai makanan yang dapat mengenyangkan perut. Perlu diketahui, sumber pangan lain memiliki fungsi nilai yang sama terhadap beras seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan, jika terjadi keseimbangan konsumsi secara varian yang silih berganti, hal tersebut dapat memperkecil permintaan jumlah beras oleh masyarakat pada umumnya. Pangan lokal Indonesia yang sangat bervariatif menjadikan sebagai modal dalam meningkatkan pemenuhan dan ketersediaan pangan. Jika diperhatikan data produksi beras Indonesia relatif tidak konsisten, namun patut disyukuri dua tahun terakhir ini mengalami peningkatan sebesar 6,7 persen (BPS 2016), meski peningkatan telah diraih, namun jika dibandingkan laju pertumbuhan jumlah penduduk saat ini 1,3 persen (BPS 2017). Saat ini luas lahan persawahan dan areal pertanian mulai berkurang akibat kegiatan konversi lahan atau peralihan lahan sawah dan pertanian, menjadi lahan pemukiman yang dilakukan pemilik lahan. Dapat disimpulkan ini akan membawa masalah pada akhirnya, sehingga dibutuhkan antisipasi sedini mungkin dalam mengelola ketersediaan pangan dalam negeri, sebab masalah pangan cukup memengaruhi keberhasilan pembangunan suatu negara. Angka persentasi kemiskinan Indonesia saat ini berada di kisaran 10,9 persen (World Bank 2017), dan biasanya yang termasuk dalam kategori tersebut sulit mengakses sumber daya pangan untuk pemenuhan pangan maupun kebutuhannya.

Bulan lalu saya melakukan kunjungan ke Thailand sebagai salah satu kegiatan tahunan Program Studi Agribisnis. Thailand merupakan salah satu negara pengekspor beras terbesar di dunia dibandingkan dengan Indonesia sebagai salah satu konsumen terbesar dalam mengonsumsi beras. Negara tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam melakukan ekspor beras karena ketersediaan bahan baku atau produksi beras mereka berlebihan (surplus), produksi mereka mengalami surplus karena adanya dukungan pemerintah terhadap petani pada kegiatan pertanian dan pendanaan mereka, serta mereka juga tidak menjadikan beras sebagai sumber pokok pemenuhan pangan atau makanan satu satunya.

Terkait pangan local, kita juga harus terus melestarikannya dan memaksimalkan meski hanya bisa ditanam atau dihasilkan di sekitar rumah. Tindakan diversifikasi dan sikap terhadap ketergantungan satu jenis makanan pokok harus dihapuskan, dan penomorduaan palawija sebagai sumber pangan bukanlah sebuah pemikiran yang tepat. Justru dengan melakukan diversifikasi pangan akan membawa efek positif terhadap pola konsumsi yang bijak, dan ketersediaan pangan pun dapat konsisten atau terus tersedia, sehingga program swasembada pangan dapat terulang lagi seperti di tahun 70-an.

Pelestarian pangan merupakan suatu proses atau usaha dalam mengembangkan, memperihatikan, melindungi, dan mengelola secara bijaksana dengan menjamin kesinambungan terhadap ketersediaan sumber daya hayati yang dibutuhkan, dalam upaya pemenuhan kebutuhan bahan makanan untuk konsumsi keluarga.yang sejalan dengan Undang-undang No.7 Tahun 1996, “ketahanan pangan adalah terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”

Sulawesi terdiri dari beberapa bagian dan salah satunya Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), merupakan salah satu wilayah produsen padi dan telah ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional. Bukan berarti, kita hanya berpatokan pada satu jenis pangan tersebut, banyak jenis dan sumber pangan dari sektor palawija yang dapat dikembangkan sehingga lahan persawahan juga tidak mengalami kejenuhan terhadap jenis tanaman, dan perlakuan berulang-ulang serta melakukan penanaman secara bergantian dengan tanaman palawija seperti jagung, dan kacang-kacanagan, sehingga dapat memperbaiki struktur pada tanah. Kepulauan Sulawesi terkenal dengan produksi ubi kayu yang melimpah, sehingga ini menjadi alasan sumber pangan lokal yang kita miliki sangat beragam, namun perlu perhatian khusus dalam pengembangannya.

Dengan dilakukannya diversifikasi terhadap pangan, diharapkan konsumsi terhadap satu jenis bahan pangan berkurang, namun dapat beragam dengan pangan alternatif (non beras) apalagi harganya pun cukup terjangkau. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah dalam mendorong ketersediaan pangan nasional, melalui perbaikan sumber daya dan kualitas. Dikembangkannya infrastruktur sampai pada titik pedesaan, dengan dilakukannya pendampingan terhadap lembaga pertanian melalui pengembangan kelembagaan pertanian di pedesaan. (*)

Author : rika

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Agustus, Ancol Sajikan Beragam Kegiatan Menarik

Pariwisata | 4 jam lalu
 

PMII STAI DDI Maros Helat Mapaba

Pendidikan | 4 jam lalu
 

IKA SMADA Rapat Kerja di Hotel Dalton

Metropolis | 4 jam lalu
 

Figur Lama Dominasi Pilwalkot Palopo 

Pilwalkot Palopo 2018 | 5 jam lalu
 

Cewek Ini Mau Saja Sekamar dengan Tiga Pria di Indekosnya, Pakai...

Peristiwa | 5 jam lalu
 

Komunitas Gowa Max Bakal Jajal Kabupaten Bone

Gowa | 5 jam lalu
 

Guru SLBN 1 Wajo Raih Penghargaan Nasional

Pendidikan | 5 jam lalu
 

Polsek Camba Lakukan Patroli, Warga Malah Keluhkan Masalah Listrik

Maros | 5 jam lalu
 

Usai Begal Gojek, Pria Ini Ditemukan Mengapung di Kanal

Peristiwa | 6 jam lalu
 

Sembilan Bakal Calon Bakal Paparkan Visi-Misi di PKB Wajo

Pilkada Wajo 2018 | 6 jam lalu
 

Jelang Iduladha, Lalu Lintas Ternak Diperketat

Maros | 6 jam lalu
 

Stok Hewan Kurban Dijamin Aman Hadapi Lebaran Haji

Maros | 6 jam lalu
 

Empat Klub Sepak Bola Bersaing di Trofeo Labuaja

Maros | 6 jam lalu
 

Prof Tahir Kasnawi: MDGs Indonesia Terkendala Narkoba dan Persoalan...

Nasional | 6 jam lalu
 

Perolehan Medali Sementara SEA Games 2017: Indonesia Posisi 5

All Sportif | 7 jam lalu
 

Warga Masale Juara Sepeda Lambat Harian FAJAR, Ini Keunikannya

Metropolis | 7 jam lalu
 

Endejip Enrekang Siapkan Rute Berlumpur untuk Lintasan Offroad

Enrekang | 7 jam lalu
 

Salim Tantang AIM di Pilbup Polman, Begini Komentar ABM

Sulawesi Barat | 7 jam lalu
 

Lahir saat HUT RI, Diberi Nama M Bilal Dirgantara

Polman | 7 jam lalu
 

Aneh... Habiskan Rp2 Miliar, Gedung Kantor Camat Tinggimoncong Tak...

Gowa | 7 jam lalu
 

Judas Amir: Mari Selesaikan Masalah dengan Diskusi

Palopo | 8 jam lalu
 

Innalillah... Tubuh Pelajar Bone Ditemukan Terbujur Kaku, Begini...

Peristiwa | 8 jam lalu
 

Geram Jalanan Masih Rusak, Warga Sinjai Borong Tanam Pisang di Tengah...

Peristiwa | 8 jam lalu
 

Bakal Maju di Jateng, Mantan Menteri ESDM Kritik Kondisi Politik Saat...

Politik | 8 jam lalu
 

Arebal Kontra Amin Polhut 62 Berakhir Imbang

Sepakbola Nasional | 8 jam lalu

Load More