Fajar

  Breaking News

Bincang Politik dan Sepak Bola: Butuh Percepatan dan Kepercayaan Menggerakkan Pembangunan

Para pembicara dalam diskusi politik dan sepakbola.

FAJARONLINE.COM, MAKASSAR – Sepak bola dan politik adalah dua hal yang dapat disandingkan. Banyak hal dalam dunia sepak bola yang dapat tarik ke dalam politik, sebagai misal sportivitas. Namun, jangan masukkan politik ke dalam olahraga sepak bola. Demikian mengemuka dalam diskusi di Plaza Mall Ratu Indah, Jalan Ratulangi, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (16/7/2017) sore.

Diskusi ini menghadirkan mantan Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alfian Mallarangeng, pakar komunikasi Hidayat Nahwi Rasul, pakar politik Aswar Hasan, CEO PSM Munafri Arifuddin, mantan pelatih PSM Syamsuddin Umar, dan ekonom Idrus Taba. Diskusi dipandu moderator Andi Mangara.

Terkait percepatan pembangunan, mantan Menpora Andi Alfian Mallarangeng mengibaratkan hubungan antara pemerintah dan rakyat ibarat lokomotif dan gerbong kereta api. Antara penumpang kelas VIP dan ekonomi sama-sama merasakan kenyamanan. “Kita harapkan, semua masyarakat mendapatkan keuntungan dari percepatan pembangunan bangsa. Seperti kereta api. Kalau lokomotif bergerak cepat, maka gerbong yang belakang juga sama. Jangan sampai lokomotif sudah bergerak lebih dulu, ternyata ada gerbong yang ketinggalan di belakang,” ungkap Andi Mallarangeng.

Tugas pemerintah, kata Andi Mallarangeng, ialah memastikan gerbong itu dapat maju bersama-sama, sehingga rakyat dari semua lapisan dapat menikmati kemerdekaan. Dalam perumusan kebijakan publik, pemerintah perlu melibatkan masyarakat. Dengan partisipasi, muncullah rasa memiliki ditengah masyarakat.

Dalam sepakbola, antara pemain yang satu dengan dengan yang lain harus saling percaya. Begitupula antara pemerintah dan rakyat perlu membangun rasa saling percaya (trust). “Harus ada mekanisme agar muncul kepercayaan. Itulah, adanya pemilu dalam kurun waktu 5 tahun sebagai koreksi kepemimpinan,” sebutnya.

Pemain, manajemen, dan supporter perlu bersinergi. “Demikian halnya mereka yang terlibat dalam politik, ibarat pemain dalam keseblasan Indonesia. Seperti polisi, tentara, dan guru dimana mereka harus punya talenta dan skill,” katanya.

Adapun pengamat komunikasi Hidayat Nahwi Rasul mengungkapkan, problematika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Partai politik mengalami disfungsi sebab maraknya politik uang. “Bahkan, dalam dunia politik berlaku uang dan kecurangan sebagai cara meraih kemenangan,” papar pengurus ICMI Sulawesi Selatan ini.

Proses demokrasi belum melahirkan kebijakan yang pro kepada rakyat. “Pada faktanya, demokrasi sangat sulit melahirkan negarawan. Yang lahir adalah politisi transaksional,” kata pakar telematika ini.

Di bidang ekonomi, Indonesia mengalami ketidakadilan. Hal ini, katanya, terkonfirmasi dengan angka rasio ini yang semakin berjarak. “Faktanya, keadilan sosial masih menjadi isu utama. Kita pro pada pertumbuhan, namun abai pada pemerataan,” ujar Hidayat.

Hidayat menilai, dengan adanya Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, Indonesia sebenarnya memiliki modal percepatan pembangunan. “Diupayakan bagaimana aktor-aktor negara mampu mengkonversi aturan dan kebijakan yang dapat mendorong kesejahteraan rakyat. Aktor negara jangan berorientasi pada kepentingan kelompok. Apalagi kepentingan bandar, bandit, dan badut,” papar Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan ini.

Mantan pelatih PSM Makassar Syamsuddin Umar mengatakan, untuk menjadi atlet sepak bola profesional, butuh skill dan talenta. “Jangan jadi pesepakbola jika tidak bisa menendang bola, menahan bola, dan bergerak tanpa bola. Demikian halnya dalam dunia politik,” sebutnya.

Sepak bola dan politik sama-sama memerlukan manajemen yang baik. Antara pemain bertahan, gelandang, dan penyerang harus menjalin kerjasama dan harmonisasi. “Ketika tim diserang, kita sama-sama bertahan. Ketika menyerang, kita sama-sama menyerang, sehingga ada keseimbangan. Tidak ada gap yang dimanfaatkan tim lawan,” imbuhnya.

CEO PSM Munafri Arifuddin mengatakan PSM itu adalah kombinasi antara pemain, suporter, dan manajemen. Ketiga unsur saling membangun kesepahaman dan menyatukan keinginan bersama. “Meski pemain bertabur bintang, namun tidak ada manajemen, maka tim tidak akan solid. Meski manajemen dan pemain kuat, tetapi tidak diberi dorongan moril oleh suporter, maka tim tidak memiliki semangat,” ucapnya.

Pemerintah dan rakyat, kata Munafri, harus memiliki visi yang sama, sehingga semua bisa menyatukan keinginan. “Ketika PSM mempunyai prestasi yang luar biasa, kesenangan bukan hanya ada pada pemain, tetapi juga penonton,” papar Munafri.

Contoh manejemen yang lengkap, kata Munafri, ada di dunia sepakbola. “Kita harus membangun kebersamaan untuk membuat sebuah langkah. Kita harus bersama sama ketika berhasil. Kita harus menanggung akibatnya ketika gagal,” jelasnya.

Sementara itu, pakar politik Aswar Hasan menguraikan, keseimbangan dalam bermain sepak bola ada pada pemain, supporter, manajemen, dan wasit. “Tanpa itu, tidak terjadi keseimbangan,” papar Aswar.

Dalam bahasa fikih, kata Aswar, keseimbangan bermakna adil. Lawan adil ialah zalim yang artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. “Pembangunan Indonesia ibarat lokomotif dan kereta api yang berada di atas rel yang tepat. Rel itu diikat oleh bantalan agar tidak bergeser,” sebutnya.

Jika bantalan bergeser, kata Aswar, rel bisa lepas hingga mengakibatkan lokomotif keluar dari rel. “Bantalan itu adalah amanah yang mengikat supaya berada di jalurnya. Olehnya itu, Indonesia dengan keseimbangannya harus dengan amanah,” kata Aswar.

Sebagai lokomotif, presiden harus amanah. Jika presiden tidak amanah, maka gerbong juga tidak amanah, hingga menyebabkan bencana. “Indonesia harus dibawa seperti lokomotif dengan gerbong yang menyeluruh tanpa ada yang ketinggalan,” ucapnya.

Untuk mewujudkan keseimbangan dalam dunia politik, maka maka para politisi harus bertindak sebagai pejuang rakyat, bukan pejuang partai. “Mestinya mereka melakukan diri sebagai negarawan,” katanya.

Disaat partai telah merekomendasikan kadernya sebagai calon pilihan rakyat, artinya partai telah menyerahkannya kepada rakyat. “Mereka seharusnya bekerja untuk rakyat. Bukan lagi representasi partai yang harus mati-matian memperjuangkan agenda partai dan takut pada partai. Mestinya mereka takut pada rakyat. Bukan takut pada partai,” tegas Aswar.

Ahli ekonomi Idrus Taba memaparkan, organisasi apapun, dalam perspektif manajemen atau tata kelola, semuanya harus dikelola secara modern. “Baik itu organisasi kemasyarakatan, bisnis, politik, pemerintahan, semuanya menggunakan prinsip organisasi yang terkontrol, menggunakan SOP yang jelas,” sebutnya.

Lebih lanjut, untuk membangun demokrasi yang bernilai tinggi, diperlukan kepercayaan (trust). “Kepercayaan yang dimaksud ialah kepercayaan rakyat yang sebenarnya. Bukan kepercayaan yang dibeli dengan uang,” ujar Idrus. (*)

Ilmaddin Husain

Aktivis KNPI/LDII Sulsel

Author : Redaksi

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Siswa SMPN 1 Pangkajene Mendadak Jadi Wartawan di Peringatan HUT RI...

Pangkep | 5 menit lalu
 

Semarakkan Kemerdekaan, Enam Perusahaan Berkolaborasi di Program BUMN...

Metropolis | 15 menit lalu
 

Sejumlah Tokoh dan Ketua Parpol Kecewa Tak Diundang di Upacara HUT RI

Pinrang | 31 menit lalu
 

Remaja Masjid Tak Mau Ketinggalan Momen Kemerdekaan, Begini Semaraknya

Metropolis | 46 menit lalu
 

Petani Enrekang Sudah Uji Coba Delapan Unit Mesin Panen Padi

Enrekang | 1 jam lalu
 

Danny Lebih Pilih Sambangi Posko IYL-Cakka

Politik | 1 jam lalu
 

Kisah Perjuangan Andi Ninnong Terulang di HUT Kemerdekaan RI Ke-72

Wajo | 1 jam lalu
 

Empat Narapidana Rutan Masamba Langsung Bebas di Hari Kemerdekaan

Luwu Utara | 1 jam lalu
 

Semarakkan Kemerdekaan RI, Kodim 1421 Pangkep Gelar Khataman Alquran

Pangkep | 1 jam lalu
 

Belasan Sepeda Hias Meriahkan Lomba HUT RI di Tamalanrea

Metropolis | 1 jam lalu
 

Bau Tembakau Tercium, Bea Cukai Gagalkan Jutaan Batang Rokok Ilegal

Peristiwa | 2 jam lalu
 

Rumah Pemenangan GNH17 Rupanya Digunakan untuk Ini

Pilgub Sulsel 2018 | 2 jam lalu
 

Masyarakat Enrekang Nikmati HUT RI dengan Menyeruput Aroma Kopi

Enrekang | 2 jam lalu
 

KPU Enrekang Manfaatkan Momen Kemerdekaan untuk Sosialisasi Pilkada

Enrekang | 2 jam lalu
 

Dapat Remisi, Delapan Napi Rutan Pinrang Bebas

Pinrang | 2 jam lalu
 

Perolehan Medali Sementara SEA Games 2017: Indonesia di Peringkat...

All Sportif | 2 jam lalu
 

Siswa Baraka Bentangkan Bendera Sepanjang 350 Meter 

Enrekang | 2 jam lalu
 

Berita Foto: Wow... Begini Penampakan Gogos Terpanjang, Capai 17 Meter

Metropolis | 2 jam lalu
 

Peringati HUT Kemerdekaan RI, Forkopimda Enrekang Ziarahi Makam...

Enrekang | 2 jam lalu
 

Begini Cara Volunteer Dompet Dhuafa Rayakan HUT Kemerdekaan RI Ke-72

Gowa | 3 jam lalu
 

Langka... Jokowi-JK Foto Bareng dengan Tiga Mantan Presiden RI

Nasional | 3 jam lalu
 

Bakal Helat Porseni, MTsN 1 Makassar Genjot Kualitas SDM

Pendidikan | 3 jam lalu
 

Rayakan Kemerdekaan, The Rinra Hotel Adakan Donor Darah

Metropolis | 3 jam lalu
 

Tidak Gampang Dapat Wiratama, Pria Soppeng Ini Berhasil Meraihnya

Pendidikan | 3 jam lalu
 

Hujan Adang Peserta Sandeq Race

Mamuju | 3 jam lalu

Load More