Fajar

  Breaking News

LAPORAN: Sukriansyah S Latief, Mengenang Keganasan Westerling di Sulsel 11 Desember, Perlukah Diperingati

Mantan Tentara KNIL, Van Der Muur, bersama penulis memegang buku ‘Westerling, De Eenling’ (Si Penyendiri), di wisma para mantan tentara KNIL, Arnhem, Belanda.

SAYA teringat beberapa tahun lalu, saat saya beranjak remaja. Suatu pagi ketika akan berangkat ke sekolah, ibu saya menyuruh untuk menaikkan bendera di depan rumah. Seperti biasa saat 17 Agustusan, saya menaikkan bendera satu tiang penuh, tapi ternyata saya diminta menurunkannya menjadi setengah tiang. Ada apa?

 

Saya tidak sempat menanyakannya karena saya harus bergegas ke sekolah. Beberapa hari kemudian, barulah saya tahu bahwa menaikkan bendera setengah tiang pada 11 Desember itu untuk memeringati hari “Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan”.

Adakah hari ini (11 Desember) kita masih menaikkan bendera setengah tiang? Saya tidak yakin. Di rumah ibu saya, sejak beberapa tahun lalu tidak ada lagi “acara” menaikkan bendera setengah tiang. Bukan karena ibu saya sudah meninggal dunia empat tahun lalu. Juga bukan karena saya tidak lagi di Makassar saat ini. Tapi sejak beberapa tahun lalu, tidak ada lagi imbauan atau perintah untuk menaikkan bendera setengah tiang. 

Apakah ini berarti “40.000 jiwa” itu tak perlu lagi diperingati? Memang, tentu banyak pendapat soal peristiwa ini, pro dan kontra, khususnya mengenai jumlah korban yang “40.000 jiwa” itu. Tapi apakah kita mesti mempersoalkan jumlah, dan bukannya hakikat dari peristiwa yang mengerikan itu?

Anda tak perlu buru-buru menjawab. Coba kita simak tulisan bersambung ini yang saya kumpulkan dari wawancara langsung dengan anggota KNIL dan keluarganya, juga kunjungan ke Museum KNIL di Kota Arnhem , Belanda. Kemudian dilengkapi dari beberapa buku, seperti Westerling, 'De Eenling' (1982), yang ditulis langsung oleh Westerling bersama Dominique Venner, ahli sejarah militer berkebangsaan Prancis. Buku berwarna hijau ini merupakan penyempurnaan dari otobiografinya Challange to Terror, yang diterjemahkan dari Bahasa Prancis (1952). Ada juga buku karangan Prof Lou de Jong, Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog, yang juga mengutip sejarawan Belanda, Willem Ijzereef, penulis buku De Zuid-Celebes Affaire, Kapitein Westerling en de Standrechtelijk Executies. Tulisan ini diperkaya dari majalah dan koran, serta tulisan Batara R Hutagalung, Supardi, dan penulis muda berbakat M Aan Mansyur, ada juga bahan dari Wikipedia Indonesia dan Swaramuslim.

Tulisan ini dibagi atas tiga bagian. Bagian pertama -- karena keterbatasan ruang dan kolom maka dipecah menjadi dua tulisan-- akan membahas tentang peristiwa sadis nan menyedihkan 40.000 jiwa dan pro-kontranya. Bagian kedua bercerita tentang sosok Raymond Pierre Paul Westerling dan sepak terjangnya, dan bagian terakhir memaparkan konspirasi dan sikap Belanda atas pembantaian yang dilakukan tentaranya yang masuk dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity) yang memungkinkan diajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.

Tulisan pertama ini dibuka dengan nightmare warga Sulawesi Selatan. Bermula ketika Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946. Ia memimpin 120 orang dari DST dan mendirikan markas di desa Mattoanging. Di sinilah si ”Turki” (gelarannya karena lahir di Turki) menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri. Ia tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), ketentuan yang mengatur tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan.

Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah Desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah Timur Makassar. Westerling sendiri yang memimpin operasi ini. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H Dolkens menyerbu Desa Borong, dan pasukan kedua dipimpin Sersan Mayor Instruktur J Wolff beroperasi di Desa Batua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.

Pada fase pertama aksi, pukul 04.00 dinihari, wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 05.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke Desa Batua. Pada fase ini, sembilan orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 08.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di Desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.

Fase kedua dimulai dengan mencari ”kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh” versi Westerling. Ia sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke Bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama ”pemberontak” yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala Adat dan Kepala Desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama ”Standrecht” –pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, penggantian kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir ”pemberontak, teroris dan perampok”. Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 04.00 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.

Demikianlah “sweeping” ala Westerling. Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di Desa Tanjung Bunga pada malam 12 menjelang 13 Desember 1946. Sekitar 60 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar Desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.

Berikutnya, pada malam 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran Desa Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun keduanya tidak dapat ditemukan. Pada malam 16 menjelang 17 Desember, Desa Jongaya yang terletak di sebelah Tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.

Aksi atau tahap kedua, setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, dimulai 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polombangkeng yang terletak di Selatan Makassar, yang menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu Desa Renaja dan Desa Komara. Pasukan lain mengurung Polombangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerja sama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.

Untuk lebih memberikan keleluasaan bagi Westerling, pada 6 Januari 1947 Jenderal Spoor memberlakukan noodtoestand (keadaan darurat) untuk wilayah Sulawesi Selatan. Pembantaian rakyat dengan pola seperti yang telah dipraktikkan oleh pasukan khusus berjalan terus dan di banyak tempat, Westerling tidak hanya memimpin operasi, melainkan ikut menembak mati rakyat yang dituduh sebagai teroris, perampok atau pembunuh.

Pertengahan Januari 1947 sasarannya adalah pasar di Parepare dan dilanjutkan di Madello, Abokangeng, Padakalawa, satu desa tak dikenal, Enrekang, Talanbangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan Suppa. Setelah itu, masih ada beberapa desa dan wilayah yang menjadi sasaran Pasukan Khusus DST tersebut, yaitu pada 7 dan 14 Februari di pesisir Tanette. Pada 16 dan 17 Februari Desa Taraweang dan Bornong-Bornong. Kemudian juga di Mandar, di mana 364 orang penduduk tewas dibunuh. Pembantaian dengan alasan ”ekstremis” bereskalasi di Desa Kulo, Amperita dan Maroanging sejumlah 171 penduduk dibunuh tanpa sedikit pun dikemukakan bukti kesalahan mereka atau alasan pembunuhan.

Selain itu, di aksi-aksi terakhir, tidak seluruhnya dengan alasan ”teroris, perampok dan pembunuh” yang dibantai berdasarkan daftar yang mereka peroleh dari dinas intel, melainkan secara sembarangan orang-orang yang sebelumnya ada di tahanan atau penjara karena berbagai sebab, dibawa ke luar dan dikumpulkan bersama terdakwa lain untuk kemudian dibunuh.

Peristiwa maut juga terjadi Galung Lombok pada 2 Februari 1947. Seperti ditulis Batara R Hutagalung, ini adalah peristiwa pembantaian Westerling yang telah menelan korban jiwa terbesar di antara semua korban yang jatuh di daerah lain sebelumnya. Pada peristiwa itu, M Yusuf Pabicara Baru (anggota Dewan Penasihat PRI) bersama dengan H Ma’ruf Imam Baruga, Sulaiman Kapala Baruga, Daaming Kapala Segeri, H Nuhung Imam Segeri, H Sanoesi, H Dunda, H Hadang, Muhamad Saleh, Sofyan, dan lain-lain, direbahkan di ujung bayonet dan menjadi sasaran peluru. Setelah itu, barulah menyusul adanya pembantaian serentak terhadap orang-orang yang tak berdosa yang turut digiring ke tempat tersebut.

Semua itu belum termasuk korban yang dibantai habis di tempat lain, seperti Abdul Jalil Daenan Salahuddin (Qadhi Sendana), Tambaru Pabicara Banggae, Atjo Benya Pabicara Pangali-ali, ketiganya anggota Dewan Penasihat PRI, Baharuddin Kapala Bianga (Ketua Majelis Pertahanan PRI), Dahlan Tjadang (Ketua Majelis Urusan Rumah Tangga PRI), dan masih banyak lagi. Ada pula yang diambil dari tangsi Majene waktu itu dan dibawa ke Galung Lombok lalu diakhiri hidupnya.

Sepuluh hari setelah terjadinya peristiwa yang lazim disebut “Peristiwa Galung Lombok” itu, menyusul penyergapan terhadap delapan orang pria dan wanita, yaitu Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A Zawawi Yahya (Ketua Majelis Pendidikan PRI), Abdul Wahab Anas (Ketua Majelis Politik PRI), Abdul Rasyid Sulaiman (pegawai kejaksaan pro RI), Anas (ayah kandung Abdul Wahab), Nur Daeng Pabeta (kepala Jawatan Perdagangan Dalam Negeri), Soeradi (anggota Dewan Pimpinan Pusat PRI), dan tujuh hari kemudian ditahan pula Ibu Siti Djohrah Halim (pimpinan Aisyiyah dan Muhammadiyah Cabang Mandar), yang pada masa PRI menjadi Ketua Majelis Kewanitaan.

Dua di antara mereka yang disiksa adalah Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas. Sedangkan Soeradi tidak digiring ke tiang gantungan, melainkan disiksa secara bergantian oleh lima orang NICA, sampai mengembuskan napas terakhir di bawah saksi mata Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas. Bagaimana? Perlukah 11 Desember kita menaikkan bendera merah putih setengah tiang? ***

(Sumber: Akun Pribadi Facebook Sukriansyah S Latief)

Author : Rasid

Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 



Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Laris Manis, Apartemen Meikarta Sudah Laku 100 Ribu Unit

Ekonomi | 1 jam lalu
 

Palopo Tuan Rumah Gowes Pesona Nusantara 20 Agustus 2017

All Sportif | 2 jam lalu
 

Sevilla Masih Tertarik Boyong Jovetic dari Inter Milan

Liga Spanyol | 2 jam lalu
 

Jadwal Bola Akhir Pekan Ini: Ada Spurs vs Chelsea dan Deportivo vs...

Sepakbola Internasional | 2 jam lalu
 

Warga Yang Bernama Agus Bisa Buat SIM Gratis di Sini

Peristiwa | 2 jam lalu
 

Putra Soppeng Raih Penghargaan Wiratama di Raimuna Nasional 2017

Peristiwa | 3 jam lalu
 

Danny Hadiahi Perahu untuk Nelayan Makassar

Metropolis | 3 jam lalu
 

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Barru Juara Tingkat Nasional

Barru | 3 jam lalu
 

Diskon Besar-besaran, Barang di Mall Pipo Serba Rp17 Ribu

Ekonomi | 3 jam lalu
 

Terus Bangun Rumah Bersubsidi, Sakatama Diganjar Penghargaan

Maros | 3 jam lalu
 

Kalahkan Barca pada Debutnya di Madrid, Ceballos: Ini Pengalaman...

Liga Spanyol | 3 jam lalu
 

Julian Draxler Ingin Barcelona Membelinya dari PSG

Liga Spanyol | 3 jam lalu
 

Ini Lima Hal yang Bikin Penasaran di Film Wiro Sableng

Hiburan | 3 jam lalu
 

Diancam Chelsea, Diego Costa: Saya Harus Kembali ke Atletico

Liga Inggris | 3 jam lalu
 

Launching Rumah Amanah dan Jargon Watunnana, Begini Penjelasan Amran...

Pilkada Wajo 2018 | 3 jam lalu
 

Cuci Celana Suami, Wanita Ini Malah Dipukul dan Disulut Rokok

Peristiwa | 3 jam lalu
 

Sadis saat Beraksi, Pelaku Curanmor Dilumpuhkan Polres Mamuju

Mamuju | 4 jam lalu
 

Wanita TNI Angkatan Udara Peringati HUT di Makoopsau II

Peristiwa | 4 jam lalu
 

Korut: Latihan Perang AS-Korsel Akan Menjadi Malapetaka

Internasional | 4 jam lalu
 

Setelah Kuasai Lazada, Alibaba Tanam Rp14 Triliun ke Tokopedia

Ekonomi | 4 jam lalu
 

Satu Calon Menteri Diduga Ditolak JK, Ini Penjelasan Jubir Wapres

Nasional | 4 jam lalu
 

ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Teror di Barcelona yang...

Peristiwa | 4 jam lalu
 

Hari Ini, Batas Terakhir Pendaftaran Bakal Calon Kepala Daerah di...

Politik | 4 jam lalu
 

Indahnya Merah Putih Berkibar di Pantai Losari

Metropolis | 4 jam lalu
 

Hadiri Doa Kebangsaan Kodam XIV Hasanuddin, LDII: Esensi Kemerdekaan,...

Peristiwa | 4 jam lalu

Load More