Fajar

  Breaking News

Sejarah Singkat PT. Media FAJAR Koran

 

Sejarah Singkat Harian FAJAR (PT Media FAJAR Koran)

PADA 1967, sebuah perusahaan penerbit surat kabar mingguan bernama yayasan penerbit Expres telah berdiri. Surat kabar yang didirikan Harun Rasyid Djibe, berdasarkan Surat Izin Terbit (SIT) nomor 1565/pers/SK/Dirjen-PG>SIT/1967 tertanggal 28 Maret 1972 dan surat izin cetak dari ketertiban daerah.

Awal 1980-an, Harian Expres menghadapi pelbagai kendala. Salah satunya adalah masalah dana. Awal 1981, Harun Rasyid Djibe berusaha menggandeng Muhammad Alwi Hamu sebagai pemodal dan memohon surat izin penerbit kembali surat kabar Expres kepada pemerintah. Atas kebijakan Dirjen pembinaan pers dan grafik departemen penerbangan 6 April 1981, mengeluarkan surat izin untuk terbit kembali terhadap permohonan Harun Rasyid Djibe dan Muhammad Alwi Hamu.

Penerbitan kembali, maka Harian Expres harus mengikuti ketentuan pemerintah bahwa untuk mengeluarkan izin terbit kembali subuh, surat kabar harus menggunakan nama FAJAR. Terbitan perdana dari Harian FAJAR awalnya hanya sebatas perkenalan saja. Baru pada tanggal 1 Oktober 1981, Harian FAJAR akhirnya terbit secara resmi dengan tiras kurang lebih 5.000 eksemplar. Nama “FAJAR” sengaja dipilih karena memiliki makna filosofi.

Nama FAJAR diambil karena fajar terbit dari ufuk timur, yangmerupakan pusat peredaran dan pemberitaan di kawasan timur Indonesia di ibu kota Sulawesi Selatan, yakni Makassar.

Badan yang menaungi Harian FAJAR pernah berubah. Setelah empat tahun berjalan, sejak terbit perdana tepatnya 1984, telah terjadi perubahan undang-undang pokok pers, serta dikeluarkan Peraturan Menteri Penerangan RI No. 01/pers/menpen PT. Media FAJAR sebagai penerbit, bukan yayasan bukan penerbit Expres yang sesuai dengan keputusan menteri penerbangan No.050/SK/SIUPPA/A.7/1986, 8 Maret 1986.

Dalam perjalanannya, Harun Rasyid Djibe mengundurkan diri, begitu juga Sinansari Ecip yang hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah S3. Selanjutnya Alwi Hamu mengajak dua sahabatnya, HM Jusuf Kalla dan HM Aksa Mahmud. Operasional FAJAR kemudian diuntungkan dengan dipercayainya Jusuf Kalla sebagai pengelolah percetakan Makassar milik pemerintah daerah Makassar. Oleh Jusuf Kalla, percetakan tersebut kemudian diserahkan kepada Alwi Hamu untuk dikelolah dan dikembangkan.

Tahun 1987, Harian FAJAR mengalami kemunduran karena faktor dana. Maka pada tahun 1988, berusaha bangkit kembali, bergabung dengan perusahaan besar, seperti Jawa Pos dan Tempo. Akhirnya Harian FAJAR bernaung di bawah bendera grup Jawa Pos, bersama sejumlah perusahaan penerbitan lainnya, yakni suara Indonesia (Surabaya), Manuntung (Balikpapan), serta puluhan media lainnya yang terbit belakangan.

Kantor Racing Centre
Kerja sama dengan jawa pos membuat oplah FAJAR meningkat secara perlahan tetapi pasti, begitu juga iklannya, mulai mengalir deras. Peningkatan ini membuat niat untuk pindah kantor muncul. Apalagi kantor Ahmad Yani dirasakan sudah tidak bisa lagi mendukung perkembangan FAJAR dan memang Pemerintah Daerah Makassar sudah mau menjual gedung itu.

Pilihan lokasi gedung baru jatuh ditanah milik HM Jusuf Kalla di Jalan Racing Centre, Makassar. Uang hasil oplah dan iklan dikumpulkan untuk membangun gedung di atas tanah itu, tanpa bantuan kredit bank. Hasilnya, pada 1991 gedung kantor di Jalan Racing Centre diresmikan. Gedung mewah tiga lantai dengan halaman yang cukup luas.

Mesin cetak baru juga diadakan untuk menambah kualitas surat kabar. FAJAR tampil berwarna. Oplah dan iklannya pun semakin bersinar. FAJAR kemudian berkembang pesat menjadi pemimpin utama pasar menyingkirkan Pedoman Rakyat yang bangkrut. Kesejahtreraan karyawan juga ikut meningkat.

Surat-surat kabar dalam dan luar daerah Makassar mulai dikembangkan, seperti: Ujung Pandang Ekspres, Berita Kota Makassar, Pare Pos, Palopo Pos, Kendari Pos, dan lainnya. Televisi dan radio juga didirikan meskipun sinarnya tidak sekilau surat kabar. FAJAR juga mengembangkan sayap ke bisnis nonmedia: Universitas, agrobisnis, transfortasi, dan lainnya.

Kantor di Jalan Racing Centre menjadi saksi bagaimana FAJAR selama kurun waktu 16 tahun (1991-2007) merangkak naik menjadi yang terbesar di luar pulau Jawa dan pemimpin pasar di timur Indonesia. Posisi tertinggi dalam level bisnis surat kabar.

Kantor Graha Pena

Tren bisnis yang semakin berkembang, anak perusahaan yang semakin menjamur, dan jumlah karyawan yang semakin banyak membuat keadaan kantor di Jalan Racing Centre dirasakan sudah tidak mampu lagi mengakomodasi semuanya.

Rencana membangun kantor yang lebih besar pun dicetuskan. Mengadopsi model kantor milik Jawa Pos Group, FAJAR membangun gedung kantor Graha Pena di Jalan Urip Sumoharjo No. 20 Makassar. Diresmikan pada awal tahun 2007, gedung Graha Pena dengan 19 lantai menjadi gedung tertinggi pertama di luar pulau Jawa.

Fungsinya bukan hanya sekadar sebagai kantor bagi FAJAR dan anak perusahaannya, tetapi juga disewakan kepada khalayak umum untuk ruang kantor maupun untuk berbagai kegiatan. Kantor di Jalan Racing Centre kemudian menjadi Universitas Fajar. **