Aksi pasukan Raymond Westerling di sejumlah wilayah di Sulsel antara 1946 hingga 1947 yang membantai ribuan warga. (foto: dokumentasi perpusataan nasional)

Westerling awalnya diminta menindas perlawanan rakyat. Tapi yang terjadi adalah ia menegakkan "Mahkamah Militer Rakyat". Membantai warga Sulsel.

FAJARONLINE.COM, MAKASSAR -- Indonesia telah merdeka secara de facto pada tahun 1945 pasca proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta. Namun secara de jure, negeri ini masih perlu pengakuan dari negara-negara lain di seluruh dunia. Sebelum pengakuan dunia datang, Belanda dan sekutunya justru datang untuk membuat kekacauan.

Dibantu oleh tentara sekutu, Belanda mulai mengambil lagi apa yang mereka anggap sebagai hak miliknya. Kapal-kapal Belanda mulai mendarat dan menekan kekuatan dari rakyat Indonesia yang tidak mau menerima kedatangan Belanda. Akibat hal ini, pemberontakan terjadi di mana-mana termasuk di kawasan Sulawesi Selatan di mana peristiwa pembantaian Raymond Raymond Pierre Paul Westerling.

Mantan komandan pasukan Belanda  dijuluki Turco karena di nadinya mengalir darah Turki ini juga dengan culas membunuh bangsawan bernama Raja Suppa Muda dan pamannya, Raja Suppa Tua. Menurut adat setempat, darah bangawan tidak boleh mengalir, maka Westerling menenggelamkan keduanya.

Kekejaman Westerling diyakini memakan korban 40 ribu jiwa. Tapi dari hasil penelitian Angkatan Darat tahun 1951, jumlah korban yang tewas menyusut, hanya 1.700 orang. 500 orang di antaranya adalah korban Barisan Penjaga Kampung --milisi tidak terlatih yang dipersenjatai Westerling. (red--Wikimedia Commons)

Kaitan dengan Angresi Militer

Sebelum diberlakukan Agresi Militer I, pasukan Belanda di seluruh negeri mulai kerepotan dengan ulah para pemberontak yang mempertahankan kemerdekaan Indoensia. Mereka melakukan serangan baik langsung atau secara gerilya kepada Belanda meski nyawa menjadi taruhannya. Pertarungan habisan-habisan yang terjadi di kawasan Indonesia membuat beberapa Komandan Pasukan Belanda mengambil langkah tegas dengan melakukan penumpasan terhadap pemberontak.


Di kawasan Sulawesi Selatan yang dipegang oleh Raymond Westerling, insiden penumpasan pemberontak berlangsung mengerikan. Raymond Westerling tidak segan-segan membunuh siapa saja tanpa diadili terlebih dahulu. Dia bisa langsung menembak di  tempat siapa saja yang dicurigai sebagai pemberontak meski kebenarannya perlu dipertanyakan.

Raymon Westerling memiliki metode penumpasan pemberontak yang mengerikan. Dia kerap meminta banyak sekali anak buahnya untuk mengumpulkan warga dari suatu desa yang dicurigai lalu membantainya satu persatu. Sebagai contoh, Raymon Westerling pernah melakukan penyisiran pemberontak di Desa Batua. Dibantu dengan 58 orang lain, dia mengumpulkan sekitar 3.000-4.000 warga yang akhirnya dipisah antara kelompok pria dan kelompok wanita serta anak-anak.

Setelah pemisahan ini, Raymon Westerling langsung menggunakan taktik liciknya. Dia meminta pada warga di hadapannya untuk menunjuk siapa saja yang merupakan pemberontak. Mengetahui keadaan yang mengancam, banyak warga akan saling tunjuk agar aman dari hukuman. Orang yang yang ditunjuk ini akan langsung dibantai tanpa pandang bulu apakah penunjukan itu bohong atau tidak.


Apa Reaksi Anda?


Berita Terkait

 
 



Apakah Anda puas dengan kinerja Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto ?

Sangat Puas


Puas


Kurang Puas


  View Vote