13 Desember 2016, 09:26:24 | rika
Darul Ma’arif Asry Mahasiswa Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddin Makassar

“Mensyukuri 1.446 tahun kelahiran Nabi Muhammad saw.” Judul yang dipilih untuk mengingatkan kita semua akan interval waktu, antara umat Islam sekarang dengan masa lahirnya sang kekasih Allah swt tersebut.

Untuk menimbang-nimbang, apakah kita sudah memiliki modal yang cukup untuk mengaku sebagai umatnya di akhirat kelak? Apakah kita telah berperilaku sebagaimana perilaku yang beliau teladankan? Sudahkah kita bersatu dalam usaha membangun umat terbaik sebagaimana yang beliau ajarkan? Sudahkah kita bertutur sebagaimana yang beliau harapkan diamalkan oleh umatnya? Sudahkan kita merangkul segala perbedaan di bawah payung “rahmatan lil ‘alamin” sebagaimana yang beliau inginkan? Atau jangan-jangan, kualitas perilaku kita dibandingkan dengan kualitas perilaku sang Nabi saw, sama jauhnya atau bahkan lebih jauh dari jauhnya interval waktu tersebut. Semoga saja tidak.

Keagungan pribadi Rasulullah saw tidak hanya diakui oleh Michael H. Hart –sebagaimana yang telah jamak disebutkan orang- dengan tolok ukur “pengaruh yang ditinggalkannya”. Sebut pula Thomas Carlyle dengan tolok ukur “kepahlawanan”, Marcus Dods dengan tolok ukur “keberanian moral”, Nazmi Luke dengan tolok ukur “metode pembuktian ajaran”, dan Will Durant dengan tolok ukur “hasil karya”. Dengan sudut pandang apapun, Muhammad Rasulullah saw adalah manusia sederhana dengan akhlak yang sangat agung. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (QS.al-Qalam/68: 4). Sayangnya, keagungan akhlak beliau belum diteladani umatnya.

Setiap tahun, setiap menjelang peringatan maulid Nabi Muhammad saw perdebatan itu muncul kembali, dengan orang yang sama atau dengan orang berbeda. Bidah atau tidak merayakan maulid Nabi saw? Itu bidah yang baik atau buruk? Atau yang tidak peduli dengan itu, pokoknya yang namanya bidah semuanya sesat, dan setiap yang sesat tempat kembalinya di neraka.

Yang pro mengeluarkan pendapatnya, yang kontra pun demikian. Masing-masing mengeluarkan dalilnya. Media sosial menjadi medan pertempuran dalil. Akan tetapi, hanya sedikit yang mempertimbangkan akhlak al-karim. Hanya sedikit yang mengamalkan perintah Alquran untuk menghormati para ulama yang notabene pewaris Nabi. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari”. (QS.al-Hujurat[49]:2). Hanya sedikit yang amalkan hadis “Qul khairan aw liyashmut” (Berbicaralah yang mendatangkan manfaat, kalau tidak mendatangkan manfaat, maka diamlah). Dan berbagai macam akhlak yang sedang tidak kita amalkan.


Apa Reaksi Anda?


Berita Terkait

 

Berita Lainnya

 



Apakah Anda puas dengan kinerja Walikota makassar Moh Ramdhan Pomanto ?

Sangat Baik


Baik


Kurang


  View Vote