14 Desember 2016, 10:52:15 | rika
Marsuki Dosen Fakultas Ekonomi Unhas

Secara umum perekonomian global selama tahun 2016 masih bermasalah, tampak dari beberapa indikator ekonomi yang belum membaik di beberapa negara maju.

Seperti Amerika Serikat kondisi perekonomiannya belum solid, di Eropa kondisi perekonomian sangat dipengaruhi fenomena Brexit di Inggris, Jepang perekonomiannya belum kuat, termasuk Tiongkok, pertumbuhan ekonominya terus melemah.

Demikian pula India, meski di Brasilia dan Rusia tekanan ekonomi berkurang. Beberapa harga komoditas SDA masih rendah. Kondisi pasar keuangan global masih penuh ketidakpastian, termasuk penurunan aliran modal dan investasi asing di masing-masing negara. Di tengah kondisi demikian, tahun 2017, arah kebijakan ekonomi dunia dilanda kekhawatiran karena akan bersifat proteksionis dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden baru AS.

Meski demikian, tahun 2016, perekonomian nasional masih tumbuh mengesankan di atas 5 persen, ketiga tertinggi setelah India dan Vietnam yang masih di atas 6 persen. Inflasi terus melemah, nilai tukar relatif stabil, defisit transaksi berjalan relatif rendah dan terjaga. Termasuk kondisi industri keuangan dan perbankan khususnya bertahan cukup baik, meskipun pertumbuhan kredit dan DPK tumbuh melemah.

Relatif kondusifnya perekonomian nasional, dimungkinkan karena adanya konsistensi dan sinergi kebijakan ekonomi otoritas fiskal dan moneter (BI), dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional. Didukung oleh peran pelaku ekonomi dan dunia usaha serta sektor perbankan yang masih optimis. Beberapa kebijakan ditempuh BI bersifat kebijakan countercyclical, melalui penurunan suku bunga kebijakan (BI 7-day reverse repo rate), dalam rangka memperkuat transmisi kebijakan moneter dan pendalaman pasar keuangan.

Termasuk kebijakan penurunan giro wajib minimum (GWM), kebijakan Loan to Value dan Financing to Value. Sedangkan, di pihak pemerintah, telah mengeluarkan 13 paket kebijakan, meskipun banyak pihak menganggap belum efekif.

Perekonomian Sulsel tampaknya berkembang searah perkembangan ekonomi nasional. Di sisi kinerja sektor ekonomi riil, arahnya cukup baik. Ekonomi tumbuh rata-rata tetap tinggi, di atas 7 persen, inflasi juga relatif rendah. Demikian pula dengan indikator kesejahteraan masyarakat cenderung membaik, diukur dari jumlah pengangguran yang menurun 4,8 persen dari 5,9 persen tahun 2015. Termasuk jumlah orang miskin, menurun 9,40 persen dari 10,12 persen September 2015.


Apa Reaksi Anda?


Berita Terkait

 

Berita Lainnya

 



Apakah Anda puas dengan kinerja Walikota makassar Moh Ramdhan Pomanto ?

Sangat Baik


Baik


Kurang


  View Vote