29 Desember 2016, 13:01:30 | Rasyid
Ilustrasi/PSK yang ditertibkan.

Cerita Sumir dari Lokaliasi Tondo

Meski izinnya sudah dicabut, lokalisasi di Tondo Kiri, Palu, Sulawesi Tengah masih berbau mesum.

MENCARI  tempatnya tidak sulit. Keberadaannya pun cukup familiar di masyarakat Kota Palu. Saat menyebut nama Tondo Kiri, orang langsung paham. Disebut Tondo Kiri, karena letaknya yang berada di sebelah kiri Jalan Trans Sulawesi (dari arah selatan ke utara Kota Palu).

Walaupun sudah tak mengantongi izin, namun tempat bertemunya pria hidung belang dan pekerja seks komersial (PSK) tersebut, masih eksis sampai saat ini.

Keberadaan perempuan-perempuan penjaja seks yang berada di eks lokalisasi tersebut juga punya cerita tersendiri.

Seperti yang diutarakan salah seorang warga sekitar, Rona, (nama disamarkan), menjadi tempat curahan hati para PSK. Perempuan pemilik kios yang berada di sekitar eks lokalisasi ini sering mendengarkan keluhan beberapa PSK Tondo Kiri.

"Mereka kebanyakan sudah mempunyai suami dan anak di kampung halamannya. Mereka sengaja jauh-jauh dari Pulau Jawa untuk ke Palu demi mencari uang di lokalisasi," kata Rona, seperti dilansir dari Radar Sulteng.

Namun, imbuh Rona, kebanyakan mereka sudah diceraikan suami. Saat diceraikan, rata-rata PSK sudah dikaruniai satu hingga tiga anak. Dengan alasan memenuhi kehidupan keluarga dan anaknya, mereka harus memutar otak. Kerja apa saja yang penting bisa menyambung hidup.

"Biasanya, kalau mereka (PSK) lagi sepi dapat pelanggan, mereka lari ke kios-kios yang berjualan di dalam sini (Tondo Kiri). Biasanya, mereka datang kemari curhat sampai menangis menceritakan hidupnya yang sudah berbuat dosa. Mereka biasa bilang dengan saya, mereka menyesal kerja begituan. Cuma mau bagaimana lagi, susah. Hanya itu yang bisa mereka kerjakan daripada diam di kampung halamannya," cerita Rona, yang sudah setahun lebih berjualan di lokalisasi Tondo Kiri.

Ada juga cerita kehidupan PSK lainnya. Kepada Rona, PSK tersebut mengaku hanya anak tunggal. Karena faktor ekonomi keluarga yang hanya pas-pasan, membuat si PSK itu harus menjadi tulang punggung dalam keluarganya.

Melihat kondisi itu, ternyata dimanfaatkan oknum-oknum tertentu yang berprofesi sebagai muncikari. “Mereka bisa kerja seperti ini, karena saat mereka dalam posisi pengangguran. Ada orang Palu (muncikari), yang menawarkan mereka untuk kerja seperti itu. Daripada tidak ada kerja di kampung halamannya, mereka ikut ke Palu dan kerja seperti sekarang ini," ungkap Rona.

Ada pula kelucuan yang kadang terjadi di eks lokalisasi itu. Rona mengatakan, terkadang dirinya menertawakan para PSK bila tiba-tiba ada razia. Pernah di suatu waktu, saat aparat kepolisian melakukan razia secara dadakan, ada PSK yang saking takutnya, terpaksa lari tunggang langgang mencari tempat persembunyian. Bahkan sampai tiarap di pantai yang letaknya tidak jauh dari eks lokalisasi, agar tidak terlihat aparat yang sedang melakukan razia.

"Kalau sudah polisi razia atau Satpol PP, mereka (PSK) seperti pelari hebat. Karena, setelah buka sepatunya laju sekali mereka lari. Biasa juga mereka sembunyi di dalam kios warga dan di bawah kursi. Saya kasihan juga lihat, tapi biasa,” tuturnya.


Apa Reaksi Anda?


Berita Terkait

 
 



Apakah Anda puas dengan kinerja Walikota makassar Moh Ramdhan Pomanto ?

Sangat Baik


Baik


Kurang


  View Vote